Tugu selamat datang-nya kota Bogor.

Tugu selamat datang-nya kota Bogor.

Pemerintah Yogyakarta mempertahankan kebijakan moratorium pembangunan hotel baru sejak Januari 2014 untuk berlaku hingga Desember 2016. Bahkan, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Yogyakarta sudah melontarkan harapan agar periode moratorium bisa diperpanjang.

Meningkat drastisnya jumlah hotelĀ  memengaruhi turunnya tingkat hunian hotel ke angka rata-rata 50-60 persen di Bali, Bandung, dan Yogyakarta. Selain tingkat okupansi yang menurun, dampak negatif lainnya adalah kecendrungan perang harga antara hotel.

Pemerintah Bali dan Bandung pun meenerima desakan untuk meniru langkah Yogyakarta. Kendati demikian, investasi relative tinggi tengah mengarus ke sektor pariwisata dan perhotelan.

Bogor misalnya, tingkat hunian hotel berbintang di kota itu diperkirakan akan turun pada tahun 2016 mendatang. Itu lantaran tidak seimbangnya permintaan dan pasokan kamar. Sebanyak enam hotel baru dengan total sekitar 840 kamar akan dibuka di Bogor pada tahun depan. Kondisi ini mau tak mau akan menurunkan tingkat hunian hotel, meski permintaan pasar sebenarnya juga meningkat.

Aan Kristiawan, Direktur Padjadjaran Suites Hotel Indonesia Group, menghitung permintaan kamar hotel di Bogor diprediksi meningkat sekitar 25 persen pada 2016. Lebih dari 90 persen permintaan tersebut akan berasal dari Jakarta. Masalahnya, kenaikan permintaan itu akan kalah tinggi dibanding ketersediaan kamar dengan pertumbuhan 56 persen. Jadi, demand dan supply tidak setara.

Pada tahun 2014, tingkat hunian hotel di Bogor rata-rata 68,6 persen. Penurunan diperkirakan terjadi pada tahun ini, hingga ke angka 55-60 persen. Tahun depan, dengan kondisi yang telah dijelaskan di atas, tingkat hunian hotel bisa terus turun hingga ke rata-rata 50-55 persen.

Ada keadaan lain yang membuat tingkat hunian hotel di kota Bogor mnurun. Yaitu maraknya pembangunan hotel di sekitar wilayah Bogor, seperti di Bekasi, Karawang, dan Puncak Pass. Dengan mulai banyaknya hotel di Bekasi, Karawang, atau Puncak Pass, maka wisatawan tak perlu lagi menginap di Bogor. Terutama di Puncak Pass yang merupakan obyek wisata populer.

Pemerintah Bogor mendukung investasi perhotelan di kotanya. Namun juga cemas akan konsentrasi hotel yang terlalu padat di beberapa areatertentu saja, seperti di Jalan Pajajaran dan sekitar Kebun Raya Bogor. Yang diharapkan sebenarnya pembangunan hotel lebih dikembangkan di area lain kota.

Pola serupa terjadi di destinasi wisata lain di Indonesia, seperti Yogyakarta, Bandung, beberapa kawasan di Bali dan lain-lain. Di sana terjadi peningkatan jumlah hotel secara pesat dalam satu dekade terakhir. Investasi bidang pariwisata dan perhotelan dianggap sangat menjanjikan sehingga banyak investor tertarik untuk membangun hotel-hotel baru.

Beroperasi kini sebanyak 2.212 hotel dengan lebih dari 50 ribu kamar di seluruh Bali. Di Bandung, ada sekitar 450 hotel dan tak kurang dari 24 ribu kamar. Sedangkan di Yogyakarta, 339 hotel dengan jumlah sekitar 21.500 kamar. Data-data yang dihimpun dari BPS dan Dinas Pariwisata setempat itu menunjukkan sudah terlalu banyaknya hotel di tiga kota tersebut.

Tapi yah, arus investasi di bidang perhotelan terutama untuk property hotel berbintang dari sisi lainĀ  menceminkan adanya kepercayaan bahwa bisnis akan bertumbuh dan berkembang.***