The World Halal Summit (WHS) 2015 diselenggarakan sejak dari 30 Maret sampai 4 April di Kuala Lumpur, Malaysia. Bertempat di Kuala Lumpur Convention Center, pertemuan tingkat tinggi itu menyatukan kegiatan pameran perdagangan dan konferensi untuk menyelaraskan, mengkoordinasikan dan mengintegrasikan upaya-upaya dalam pengembangan dan mempromosikan industri halal global.

Malaysia International Halal Showcase (MIHAS) menjadi pameran Halal terkenal di dunia yang didatangi sekitar 170.000 pengunjung dari 70 negara, 4.000 perusahaan dari 48 negara, dan menghasilkan penjualan lebih dari USD 3 miliar. MIHAS menjadi sebuah platform ideal bagi industri halal untuk menampilkan produk dan layanan berkualitas, serta menjadi arena pertemuan membangun jejaring prospek bisnis dan kemitraan diantara pebisnis halal di seluruh dunia.

Pertemuan tingkat tinggi ini dibangun di atas dasar yang kokoh untuk mengembangkan dan menumbuhkan industri halal guna mewujudkan potensi penuh terhadap sekitar 1,8 miliar Muslim di seluruh dunia saat ini – diharapkan mencapai 27% dari populasi di seluruh dunia pada tahun 2030 – tetapi juga di kalangan populasi non-Muslim.

WHS 2015 dirancang sebagai platform yang memberikan kesempatan bagi para pemangku kepentingan industri Halal untuk berkolaborasi, membangun jaringan bisnis, mendiskusikan dan mempresentasikan ide-ide yang layak untuk memperluas dan mempromosikan industri ini sekaligus mengatasi tantangan yang dihadapi. Juga berusaha memainkan peran katalisator untuk memperkenalkan struktur baru dan kerangka peraturan untuk meningkatkan kepercayaan di antara konsumen, pelaku industri dan investor, serta meningkatkan perekonomian Halal secara keseluruhan.

Mengembangkan jejaring bisnis dengan pebisnis Muslim dan non-Muslim. (Foto:worldhalalsummit.com)

Mengembangkan jejaring bisnis produk-produk Halal baik dengan pebisnis Muslim maupun non-Muslim. (Foto:worldhalalsummit.com)

Standardisasi Halal global

Departemen Standar Malaysia memprakarsai pembentukan Kelompok Kerja Produk dan Jasa Halal bersama-sama dengan rekan-rekan dari Indonesia dan Thailand untuk menyelaraskan standar halal terutama di kawasan ASEAN.

Tantangan utama yang dihadapi industri Halal global saat ini, nyaris tidak ada satu standar baku mengenai pemahaman Halal yang sebenarnya. Ada 500-3.000 lembaga sertifikasi Halal di seluruh dunia, 80 persen berasal dari negara-negara non-Muslim. Belum adanya standar baku juga telah menaikkan biaya produksi bagi perusahaan-perusahaan yang mengekspor produknya karena mereka harus mengikuti standar peraturan nasional yang berbeda-beda.

Sebuah lanskap baru dalam industri Halal diharapkan dapat membakukan standar Halal dengan menggunakan metodologi ISO yang berhasil dilaksanakan oleh Dubai sebagai  pemimpin dalam standar Halal dunia dan Metrology Institute for Islamic Countries (SMIIC).

Direktur Jendral Standar Malaysia Datuk Fadilah Baharin mengatakan, standar, teknis regulasi dan prosedur untuk menentukan kesesuaian sangatlah penting guna menjamin keselamatan konsumen, meningkatkan transparansi informasi produk dan kompatibilitas produk.

Direktur Badan Sertifikasi Halal Bosnia dan Herzegovina Amir Sakic menunjukkan bahwa tujuan utama dari standar halal adalah menghilangkan hambatan perdagangan internasional, memberikan pemahaman yang lebih baik dan sudah pasti akan meminimalkan biaya dalam melakukan bisnis.

Populasi Muslim dunia diperkirakan akan mencapai 30 persen dari populasi dunia pada tahun 2025. Nilai pasar global perdagangan makanan halal diperkirakan mencapai USD 547 miliar per tahun dan para analis memperkirakan nilainya mencapai USD 10 triliun pada 2030.

Di antara faktor-faktor pendorongnya, pertumbuhan penduduk Muslim yang stabil di seluruh dunia, meningkatnya pendapatan di pasar utama produk halal, dan meningkatnya permintaan terhadap makanan halal yang aman dan berkualitas tinggi. Saat ini, omset produk halal global diperkirakan mencapai USD 2,3 triliun, itu tidak termasuk industri keuangan Islami.

Asia Tenggara rumah bagi lebih dari 250 juta konsumen Halal, dan negara-negara seperti Malaysia, Indonesia dan Singapura telah memiliki peraturan-peraturan untuk mengontrol sertifikasi Halal produk-produk impor selama bertahun-tahun. Sudah saatnya kini kita perlu mengetahui betapa pentingnya memiliki standar baku Halal di kawasan dalam rangka mempersiapkan pembentukan sebuah badan standardisasi Halal internasional. *** (Yun Damayanti)