Jalan jauh dari macet, menuju KRB.

Jalan jauh dari macet, menuju KRB.

(Yang ini pernah dimuat di sini 20/12/2014. Kita tengok lagi ya, pembaca.) Sejak Mei 2011, pengunjung asing ke Kebun Raya Bogor (KRB) terdiri dari lebih dari 37 kewarganegaraan, sebelumnya tercatat hanya 27 kewarganegaraan pengunjung.

Secara kumulatif jumlah terbanyak datang dari Belanda, dari Eropa memang terlihat minat wisatawan mengunjungi semacam kebun raya ini jauh lebih banyak. Beberapa dapat diperbandingkan dari empat negara Eropah ini, berdasarkan data dari KRB:

2011

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

 Belanda

509

831

921

945

1,239

1,108

3,410

Swiss

12

24

4

5

94

72

218

Jerman

32

39

65

58

73

46

193

Perancis

27

47

105

70

33

59

122

 

Jumlah pengunjung asing dari waktu ke waktu cenderung meningkat, sama juga seperti kecenderungan naiknya jumlah pengunjung dari dalam negeri. Tentu itu mencerminkan citra dan pengetahuan tentang KRB, bertambah meluas, kendati tampaknya perlahan sekali dalam mencapai hasil menarik orang untuk berkunjung lebih banyak lagi. Namun dari sudut bisnis pariwisata, situasi sekarang membuka ruang bagi KRB untuk mempromosikan lebih banyak keberadaannya sebagai obyek daya tarik wisata pada masyarakat Eropa. Melalui agen-agen yang menjual paket wisata Indonesia di pasar Belanda, Jerman, Swiss, Perancis, informasi tentang KRB sebaiknya “dijejalkan”.

Di zaman web, blog, email sekarang, artikel santai namun informatif tentang Kebun Raya Bogor, dalam bahasa Perancis, atau bahasa Jerman, bahasa Belanda, lalu disebarkan ke negara-negara tersebut, rasanya akan membawa dampak hasil yang akan menambah minat wisman mengunjunginya. Para wisman sebagai konsumen akan memintanya kepada agen-agen langganannya. Atau para agen memasukkannya menjadi bagian paket yang dipasarkannya. Atau smart traveler akan mengatur sendiri perjalanannya hingga akhirnya “pokoknya” sampai di Kebun Raya Bogor.

KRB sendiri belakangan ini tampak semakin “memadai” dalam menyediakan fasilitas dan pelayanan bagi pengunjungnya. Jika memungkinkan membuat suasana pedestrian dalam radius sekitar 500 meter di luar sekeliling pintu masuk utama KRB, semakin bersih dan rapih, memberi kenyamanan bagi pejalan kaki di sekitar luar pagar, tentu persentuhan wisman dengan masyarakat Bogor pun di situ menjadi  sesuatu yang mengesankan. Pemkot dan pengelola KRB agaknya tepat untuk mempertimbangkan kemungkinan itu. Maklum, pemerintah punya kekuatan dua sumber, yakni kebijakan, dan, uang, di tangannya.

Patut diperhatikan bahwa Bogor dengan KRBnya amatlah patut menjadi salah satu odtw ketika wisatawan berkunjung ke Jakarta sebagai destinasi. Jakarta dewasa ini dan mungkin sampai berpuluh tahun ke depan, sebagai destinasi rasanya akan salesable jika memadukan setidaknya tiga odtw, yakni: kota tua Jakarta, Bogor dengan KRB, dan museum pilihan serta monumen nasional. Penunjangnya ialah kegiatan kuliner serta belanja.  Namun Monas tentu memerlukan “up grading” dalam hal fasilitas publik dan gaya pengelolaannya.

Ke Kebun Raya Bogor, beginilah contoh perbandingan jumlah pengunjung wisman dan wisnus:

2011

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Wisnus 76,077

67,415

 

67,062

 

67,719

 

83,940

 

112,174

 

104,981

 

Wisman 984

1,233

1,473

1,308

1,954

1,847

4,576

 

Citra Jakarta yang dihantui oleh macetnya lalu lintas, sehingga tak nyaman untuk dikunjungi, diharapkan  bisa dikompensasi atau “diatasi” antara lain dengan membangun citra nyamannya organized tour dengan jadwal dan obyek-obyek alias tourist spots yang sudah teratur dan tersistem: kota tua Jakarta, Bogor dengan KRB, dan museum pilihan serta monumen nasional.

Semoga news-analysis ini menambah masukan dan ide pada Walikota Bogor, pengelola KRB, dan masyarakat yang kota mereka belakangan ini dijuluki kota sejuta angkot. ***