TTI ah hal wholesaler Ingin memilih spesialis apa? Ini cermin peluang bisnis UKM (Usaha Kecil Menengah) pariwisata di Indonesia. Melihat di media sosial, FB, Tweet dan lainnya, “banyak sekali” pelaku bisnis pariwisata kita sedang hebat-hebatnya bermunculan, dan kebanyakan bergerak sebagai UKM. Tampak sebagian selaku pemain bisnis individual atau personal, sebagian lain tentu sudah berstatus perusahaan berbadan hukum.  Ke arah manakah perkembangan itu akan menuju? Menarik melihat ceminannya begini:

Selama 30 tahun telah berkiprah dan sejak 1 Desember 2015 kemarin satu perusahaan Wholesaler pariwisata di Australia menyatakan tutup, dan mereksturisasi model bisnisnya. Itu diberitakan oleh Travel Weekly tanggal 8 Desember 2015 di Australia.

Sepanjang kita ketahui, tadinya dia bergerak sebagai wholesaler, sama seperti peran kuat yang dimainkan oleh agen-agen wholesaler di pasar wisman di negeri Barat, Eropa dan Amerika. Lanskap bisnis pariwisata sejak menjelang 1990an hingga awal 2000an ini memang secara kuantitatif dan kualitatif didominasi oleh wholesaler sebagai key players. Agen-agen yang lebih kecil atau small player menjual produk-produk yang digabungkan ke wholesaler, dan wholesaler kemudian melaksanakan tur dengan business deal-nya dengan agen-agen handling di destinasi.

Peran dan dominasi wholesaler semakin berkurang jauh belakangan ini, apalagi bisnis yang bersifat umum atau general tour agent. Lanskap bisnis telah diubah signifikan oleh peran ITC (information technology  and Communication), — itu mudah kita maklumi dan saksikan sendiri —, tapi timbul kecenderungan menguatnya kembali peran “small player” dan “specialist agent”. Kategori agen spesialis bisa berdasarkan geografis, seperti agen-agen di Eropa dan Amerika yang mengkhususkan diri menjual produk wisata untuk destinasi di Asia, Asia Selatan, Asia Tengah atau ASEAN. Bisa juga berdasarkan tema atau aktivitas, agen spesialis yang mengkhususkan diri menjual produk kegiatan olahraga, cruise, penjelajahan atau adventour, dan lain-lain.

Nama wholesaler yang tutup di Australia itu, Creative Holidays, dan di awal Desember 2015 pimpinannya mengumumkan:  The move comes after extensive analysis and a rigorous review of the business model. The fiercely competitive environment in which we now operate has made for a difficult business proposition for a mass generalist FIT independent wholesaler such as Creative Holidays, hence we have reached this sad conclusion.

Sebenarnya, dan untungnya, kendati sebagai big wholesaler, rupanya dalam perjalanannya masih perlu menginduk lagi ke wholesaler lebih besar, The Travel Corporation (TTC). Nah, TTC terkait penutupan Creative Holidays diberitakan menyatakan antara lain : many staff are expected to be offered positions across the various TTC brands which includes Insight Vacations, Contiki, Trafalgar and AAT Kings among others. We see immense growth opportunity in cruising and niche specialist FIT operations, so our aim is to redeploy as many of the Creative Holidays team as possible into Creative Cruising and Adventure World, as well as other areas of TTC.

Jadi, bagi yang UKM, ini memberikan petunjuk arah, bahwa lanskap bisnis penjualan dan penanganan, — selling, di pasar wisman, dan, handling agent, di destinasi wisata, — akan terbuka peluangnya kembali lebih banyak diperankan oleh barisan-barisan smaller player dan specialist tour agents.

Gejala itu tengah berkembang juga di pasar  utama wisman dunia, di Eropa dan Amerika. Para professional di bidang pemasaran pariwisata pun tentu sudah memperhatikannya.

Apakah Anda termasuk di dalamnya? Mungkin sebagai spesialis operator tur di Labuanbajo, atau di Danau Toba, Toraja, dan seterusnya, akan lebih efektif mencari dan menawarkan produk pada “selling agent partner” di luar negeri, yang juga specialist tour agent. Dan para bigger agents atau stronger player di Indonesia, niscaya sudah memahami dan menyesuaikan langkah-langkah pula dengan perkembangan itu?***(Arifin Hutabarat)