Seorang agen travel selaku “buyer” dari Australia (kiri) saat mengikuti TIME 2013 di Padang, berpose mengenakan pakaian adat pengantin Minang, bersama seorang buyer dari Filipina. (Foto: AH)

Seorang agen travel selaku “buyer” dari Australia (kiri) saat mengikuti TIME 2013 di Padang, berpose mengenakan pakaian adat pengantin Minang, bersama seorang buyer dari Filipina. (Foto: AH)

Jumlah wisman dari Austsralia ke Bali rasanya tak akan menurun, kendati di tingkat diplomasi tengah terjadi semacam krisis antara Indonesia dan Australia. Yang berkaitan dengan isu pelaksanaan hukuman mati terhadap dua warga Australia yang terhukum urusan narkoba. Beberapa petunjuk mengarah pada optimisme ini.

Maskapai penerbangan Virgin Australia hingga kemarin belum melihat terjadinya penurunan pemesanan untuk perjalanan ke Bali. Bos maskapai itu John Borghetti dikutip media setempat mengatakan kemarin, “Kami belum melihat adanya perlambatan pemesanan (tiket)”, kata dia.

Memang ada juga media online di Australia, cheapflight.com.au yang menulis telah mengamati adanya penurunan signifikan dalam minat libur ke Bali.

Tapi, ingat beberapa waktu lalu kita ikuti cerita “love affair” antara warga Australia dengan Bali?

  Masyarakat Australia menyebut dengan romantis kecintaan mereka pada Bali sebagai “love affairs”. Tapi satu laporan di Travel Weekly Australia, ini, mengurai pengakuan-pengakuan yang menarik. Di bawah judul Aussies asked to stop Bali overcrowding, tanggal 10-6-2014 yll., termajemahan bebasnya seperti ini:
   Bom Bali tahun 2002 hanya menghentikan sesaat kisah cinta – love affairs – Australia dengan surga Indonesia ini – Bali –  dan jumlah pengunjung Australia sekarang mencatat rekor tertinggi.

Memang, wisman Australia ke Bali seakan tak terbendung kenaikan jumlahnya: Tahun 2008-2014 berturut-turut: 306.698, 446.042, 647.872, 790.965, 823.821, 826.385, 991.024 (kenaikan terakhir ini 19,92%). Ke Bali, mereka selalu terbanyak, meninggalkan jauh di bawahnya jumlah dari RRT dan Malaysia dan Singapura.

Pada media Travel Weekly di Australia tercermin juga sikap masyarakatnya. Ini dua komentar; AUSSIEtraveller ( 4 hari yang lalu ): tidak ada yang akan memboikot Bali. Kita bicara tentang pengedar narkoba,  penjahat. Dari Lex Bakker (2 hari yang lalu): Setuju AUDSIEtraveller yang tidak menghentikan saya dari pergi ke sana pada bulan Juli (yad). Orang-orang ini merencanakan untuk membawa 8 kg Heroin kembali ke Oz (Australia). Jika pemerintah Australia sangat serius (ingin pembatalan hukuman mati) orang-orang ini mengapa tidak bernegosiasi dengan pemerintah Indonesia dengan cara yang sama Indonesia ketika bernegosiasi membebaskan TKW di UEA?

Pariwisataa Indonesia menurut sejarahnya, mengalami penurunan jumlah wisman ketika terjadi “krisis” yang berkaitan langsung dengan “keamanan dan keselamatan di lapangan”, termasuk jika ada krisis menyangkut kesehatan atau wabah penyakit. Krisis pernah teralami di tahun 1998, dan kemudian peristiwa bom bali 12 Okt 2002 dan 1 Okt 2005. Lihatlah statistik jumlah wisman ke Indonesia yang menurun ini (teks merah0:

Tahun

Jumlah Wisman ke Indonesia

Pertumbuhan (%)

1995

4.324.229

1996

5.034.472

16.42

1997

5.185.243

2.99

1998

4.606.416

-11,16

1999

4.727.520

2.63

2000

5.064.217

7.12

2001

5.153.620

1.77

2002

5.033.400

-2,33

2003

4.467.021

-11,25

2004

5.321.165

19,12

2005

5.002101

-6.00

2006

4.871351

-2.61

2007

5.505.759

13.02

 

Saking sudah “cinta’ terhadap Bali”, kejadian-kejadian yang dialami turisnya di Bali, kecelakaan, tragedi dan penahanan, pengaruhnya sedikit sekali terhadap “love affair” Australia pada Bali, demikian ditulis media itu.

Nigel Mason, seorang pebisnis Australia yang telah berada di Bali selama 35 tahun, telah melihat perkembangan industri pariwisatanya. Dia dikutip mengatakan, sejak peristiwa pengeboman, telah terjadi perbaikan besar dalam keamanan, katanya. Pecalang,  penjaga lokal tradisional desa, digunakan terus, dan untungnya bagi turis Australia, mereka masih berbagi rasa humor yang sama.
“Mereka sangat sabar menghadapi para pemabuk Australia dan mereka akan selalu mencoba untuk menenangkan mereka,” katanya. “Sesekali turis Australia melakukannya hingga  ke batas kesabaran.”
Mason mengatakan, sangat disayangkan kebodohan yang dilakukan Aussie di Bali seringkali menjadi berita utama padahal pulau ini memiliki lebih banyak hal untuk ditawarkan (dinikmati).  Obat-obatan terlarang dan alcohol yang menjadi pemicu banyak kecelakaan, sementara itu perkelahian di klub malam juga menjadi salah satu penyebab terbesar masalah-masalah yang muncul.
Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) Australia pernah mengungkapkan 32 warga Australia tewas di Bali selama 2012-2013. Sebanyak 90 warga Australia dirawat di rumah sakit. Tahun 2013, di Indonesia, Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) memberikan bantuan konsuler dalam 391 kasus warga Australia yang menghadapi kesulitan ( di luar negeri). Dari jumlah itu, 301 kasus terjadi di Bali. Ruang gawat darurat di Kuta, terus didatangi Aussie setelah mabuk-mabukan, kecelakaan sepeda motor, dan menderita efek samping dari eksperimen mengkonsumsi obat-obatan yang mirip jamur ajaib.

Tapi, ya, sudah sering diungkapkan di media, ada “love affair’ antara masyarakat Australia dengan destinasi Bali.

Hasil studi yang dilakukan University of Queensland terhadap 864 warga Australia yang terbang keluar dari Brisbane pada liburan Natal dua tahun lalu (2012) menemukan, jumlah yang membeli asuransi perjalanan, mendapatkan vaksinasi atau mendaftarkan perjalanan mereka kepada DFAT sama dengan jumlah mereka yang bepergian ke Selandia Baru. Sementara jumlah outbound travelers dari Australia tertinggi adalah selalu bertujuan    Selandia Baru.

Bagi turis Australia, krisis dalam hal “keselamatan dan keamanan di lapangan” yang berpengaruh besar. Masa pemulihan krisis bom di Bali harus dijalani tahun-tahun 2002 sampai 2005, ketika terjadi tragedi bom Bali 1 tahun 2002, menyebabkan pariwisata yang menjadi leading sector perekonomian Bali dalam tiga dasawarsa terakhir sebelum tragedi, mengalami kemerosotan selama beberapa waktu. Seorang peneliti, N.W. Suriastini (2005) – SurveyMETER Yogyakarta, Email: suriastini@surveymeter.org, menggambarkan kejadian bom Bali 1 memberikan sinyal pada wisatawan bahwa keamanan tidak terjamin di Bali. Penurunan jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali beberapa saat setelah tragedi sampai awal tahun 2004, tidak bisa dihindari. Jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Bali turun drastis setelah tragedi dan belum tampak pulih kembali sebelum bulan Januari 2004.

Tapi sejak itu, jumlah wisman dari Australia bertambah terus.

Jadi, trending topic yang sempat menjalar #BoycotBali di Australia belakangan ini, rasanya tak berpengaruh besar akan menurunkan minat warga di sana untuk berkunjung ke Bali. Secara umum dimaklumi, mereka adalah masyarakat yang rasional ketika mempertimbangkan bahwa, keamanan dan keselamatan yang nyaman, dan keindahan alam serta budaya di destinasi terdekat dengan rumah mereka, dan “cinta terhadap Bali” tak membuat mereka mengubah rencana perjalanan wisata ke luar negeri, kalau memang sebelumnya sudah berniat hendak ke Bali.

Yang diperlukan rasanya kita pun mengalirkan terus informasi ke warga masyarakat di Australia yang akan bisa memelihara “love affairs” itu.

Semoga ya.***