Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo meminta Bupati Tana Toraja dan Bupati Toraja Utara agar bersama berupaya mempercepat terlaksananya pembangunan bandara baru. Rencana bandara baru itu menurut Gubernur hendaknya bisa mulai dioperasikan tahun 2015 atau awal 2016. Harapan itu diutarakannya  di hadapan publik Toraja saat puncak kegiatan event bertajuk Lovely December di Makale, ibukota Kabupaten Tana Toraja, pada Sabtu 27-12-2014.

Lokasi bandara yang hendak dibangun itu berada di kecamatan Mengkendek, sekitar 23 KM jaraknya dari kota Makale. Adapun bandara bernama Pongtiku yang ada sekarang berlokasi sekitar 10 KM dari Makale. Tapi bandara Pongtiku dinyatakan tak bisa diperbesar atau landasan pacunya (run way) tak bisa lagi diperpanjang, maka keputusan bersama oleh Pemkab Tana Toraja, Pemkab Toraja Utara, dan Pemprov Sulsel akhirnya memilih rencana membangun bandara baru di Mengkendek. Ide itu tercetus tahun 2010.

Bandara Pongtiku di kota Makale, Tana Toraja.(Foto: AH)

Bandara Pongtiku di kota Makale, Tana Toraja.(Foto: AH)

Tana Toraja tadinya satu kabupaten dengan ibukota Rantepao, kemudian menjalani pemekaran maka kini menjadi dua yakni Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara. Kabupaten Toraja Utara dengan ibukota Rantepao, tadinya dikabarkan lebih cenderung ingin memanfaatkan bandara Luwu, lantaran jaraknya lebih dekat namun sebenarnya  berlokasi di kabupaten lain di provinsi lain (Sulawesi Tengah).

Adapun dari sudut pariwisata, dua kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara sejatinya merupakan dua kawasan yang sama-sama berpotensi dan selama ini menjadi daerah destinasi bagi wisman yang umumnya datang dari negeri jauh di Eropa dan Amerika.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja, Jidon Sitohang, pernah memberikan statistik jumlah wisman dan wisnus yang mengunjungi Tana Toraja. Data ini menunjukkan kecenderungan meningkat terus dalam lima tahun terakhir, kendati jumlah absolutnya relatif masih kecil.

NO

URAIAN

TAHUN

SATUAN

2009

2010

2011

2012

2013

1

Wisatawan Mancanegara
  1. Asia Pasifik         256         328           34       1,347           40 orang
  2. Eropa       4,478       4,921       8,002       8,209     11,989 orang
  3. Amerika         112         180           71       1,690         388 orang
  4. Timur tengah/Asean           62             –           14         346         342 orang
  5. Australia         156         180           51         407         193 orang
  6. Lainnya         543           25         833       1,533       6,372 orang

2

Jumlah Wisman     5,607     5,634     9,005   13,532   19,324 orang

3

Wisatawan Nusantara/Domestik     5,449   12,631   14,651   20,836   42,319 orang

4

Jumlah Total   11,056   18,265   23,656   34,368   61,643 orang
sumber data : ceck point pintu masuk salubarani
catatan : Data 2013 dari Januari – Desember

 

Tana Toraja dan Toraja Utara berjarak lebih 350 KM dari kota Makassar, dan jarak itu harus ditempuh sekitar 10 jam perjalanan darat dengan mobil. Selama perjalanan praktis tak bisa dihadirkan “hiburan” atau “selingan” bagi para wisatawan, kecuali untuk makan siang biasanya di salah satu restoran di kota Pare-pare. Bagi wisnus, ada satu lokasi lagi bernama Gunung Nona, di pertengahan antara Pare-pare dan kota Makale, di mana makanan dan minuman ringan a la lokal disediakan oleh beberapa warung.

Karena itulah dapat dipastikan, bahwa untuk memajukan pariwisata Toraja dalam arti menarik lebih banyak wisatawan, khususnya lagi wisatawan mancanegara, maka layanan penerbangan dari dan ke kota Makassar, merupakan satu-satunya pilihan. Tanpa itu, dapat diyakini bahwa pertumbuhannya akan relatif lamban, sehingga jumlah absolutnya akan tetap terasa “kerdil”.

Saat ini jika ke Toraja dari Makassar memang beroperasi bus malam setiap hari, dipandang cukup comfortable dengan reclining seat dan fully AC, per orang tiketnya Rp 200 ribu. Kelompok kecil 2 orang atau 3 orang akan merasa efisien dan hemat jika menyewa satu mobil seukuran mobil Avanza atau Xenia. Sewa mobil sekitar Rp 500 ribu per hari beriku supir, tetapi pembelian bahan bakar akan ditanggung oleh pengguna. Sebagian wisman yang datang ke Toraja, menyewa sepeda motor lokal untuk bekeliling mengunjungi ODTW dari satu lokasi ke lokasi lainnya, baik di Tana Toraja maupun di Toraja Utara.

Karena itu pulalah timbul pertanyaan, mengapa Pemkab maupun Pemprov tak memprioritaskan terlebih dahulu mengoptimalkan penggunaan bandara Pongtiku? Pesawat berkapasitas 12 tempat duduk, atau sekelas pesawat ATR yang berkapasitas 50-60 seater, dengan frekuensi 2-3 kali penerbangan seminggu, rasanya cukup feasible secara komersial melayani puluhan ribu hingga ratusan ribu wisatawan per tahun datang berkunjung .***