ini yang disebut otak-otak di Pangkal Pinang,Bangka.(Foto:YD)

Ini yang disebut otak-otak di Pangkal Pinang,Bangka.(Foto:YD)

Indonesia boleh dibilang tempat bertemunya semua kuali di dunia. Di kota Pangkal Pinang di Pulau Bangka, Bangka Belitung dan Pontianak, Kalimantan Barat, boleh pula dikatakan dua tempat terbaik untuk menyecap perkawinan rasa masakan Tionghoa dan Melayu yang otentik di negeri ini.

Posisi geografis diantara dua benua dan dua samudera juga seolah membuat Indonesia menjadi tempat bertemunya semua kuali yang ada di dunia. Sebelum bangsa-bangsa Eropa datang, para saudagar dari jazirah Arab, India, dan Tiongkok telah memberi pengaruh kebiasaan makan dan cara memasaknya terhadap kuliner lokal. Pengaruh itu masih bertahan hingga sekarang. Kemudian cita rasa Eropa pun diserap juga ke dalam kuliner lokal.

Martabak manis bangka aslinya hanya ditaburi wijen.(Foto:ist.)

Martabak manis bangka aslinya hanya ditaburi wijen.(Foto:ist.)

Keunikan perkawinan rasa Tionghoa dan Melayu dalam koleksi kuliner di kota Pangkal Pinang adalah banyak makanan yang lahir, konon, dari semangat untuk bertahan hidup buruh-buruh di pertambangan timah. Pemerintah kolonial Belanda mendatangkan buruh dari bagian selatan Tiongkok untuk menambang timah di Pulau Bangka dan Belitung. Agar dapat bertahan hidup, mereka memanfaatkan bahan-bahan pangan yang ada, diracik dengan pengetahuan resep turun-temurun yang dibawa dari Tiongkok, dibuat supaya rasa lapar tidak segera dirasakan, lahirlah kemudian beragam makanan. Diantaranya yang paling kita kenal sekarang, martabak dan otak-otak.

Martabak manis dari Bangka aslinya hanya bertabur wijen. Istilah otak-otak di pulau ini berlaku bagi makanan olahan dari daging ikan dan sagu. Baik itu berupa pempek maupun otak-otak ikan yang dilapisi daun pisang. Berbeda dengan cara menikmati pempek di Palembang dan otak-otak di Makassar, selalu tersedia tiga macam kuah/sambal berbeda, yakni yang terbuat dari terasi, dari tauco dan cuka cabe. Ketiganya merepresentasikan rasa Melayu dan Tionghoa.

Yang unik dari tau swan,kerupuk tepung berasnya yg mirip mini cakue tetap renyak meskipun telah dicelupkan ke dalam bubur yang terbuat dari kacang hijau yang dikupas kulitnya.(Foto:YD)

Yang unik dari tau swan ini,kerupuk tepung berasnya,mirip mini cakue,tetap renyah sekalipun dicelupkan ke dalam bubur yang terbuat dari kacang hijau yang dikupas kulitnya.(Foto:YD)

Makanan dari mie juga bermacam-macam di pulau ini. Dua yang paling dikenal adalah mie bangka dan mie koba. Versi asli mie bangka berisi potongan daging babi atau mengandung minyak babi. Sedangkan mie koba, pertama kali diciptakan di daerah Koba, bertabur suiran daging ikan dan berkuah kaldu dari ikan. Perkawinan kuali Melayu dan Tionghoa terasa sekali di mie koba.

Martabak bangka dan mie bangka telah tersebar hampir di seluruh pulau di Indonesia. Di luar Pulau Bangka, kedua makanan itu telah mengalami beragam inovasi kreatif dan penyesuaian. Seperti mie bangka, di Pulau Jawa umumnya menggunakan potongan daging ayam dan minyak ayam atau rempah-rempah sehingga menjadi makanan yang halal.

Di Pontianak, cukup mudah menemukan aneka penganan yang masih disebut dalam istilah Tionghoa. Sama seperti di Bangka, resep turun-temurun dengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang tersedia memberikan pengalaman rasa di lidah yang sulit dilupakan. Apapun kuliner lokal yang kita makan di kota yang berada persis di garis khatulistiwa itu, jejak bumbu melayu maupun rasa chinese food sama-sama kuat menempel di lidah.

Pengkang dan cai kue,penganan yang mudah ditemukan di warung kopi.(Foto:YD)

Pengkang dan cai kue,penganan yang mudah ditemukan di warung kopi.(Foto:YD)

Masyarakat di Pontianak juga punya budaya minum kopi yang kuat. Dari tengah kota sampai di pinggir jalan menuju Trans Kalimantan bangku dan meja digelar untuk minum kopi. Rasa minuman kopinya boleh jadi tak seidentik sajian kopi di Banda Aceh namun penganan pendampingnya rata-rata pas menemami kopi pahit ataupun manis. Beberapa penganan pendamping itu merepresentasikan jejak rasa ketika kuali Tionghoa dan Melayu bertemu. Diantaranya, pengkang dan cai kue. Pengkang semacam lemper, terbuat dari ketan berisi ebi, ayam atau bengkoang. Cai kue berupa pastel basah, terbuat dari tepung beras dan biasanya ada lima pilihan isi/rasa.

Satu hal lagi yang paling saya sukai ketika berwisata kuliner di kedua kota ini adalah kejujuran para penjualnya. Mereka tidak akan sungkan memberitahukan jika makanan yang dijualnya tidak halal. Sepertinya telah menjadi hal yang lumrah diantara mereka untuk saling merekomondasikan rekannya sesama pedagang makanan.*** (Yun Damayanti)