Program kegiatan B-to-B memang terhenti sementara waktu, tapi rupanya kampanye Wonderful Indonesia tetap dilakukan melalui kanal media sosial dan disampaikan dengan halus dan simpatik. [Foto;YD]

Jakarta, (ITN-IndonesiaTouristNews):Usaha Biro Perjalanan Wisata  (BPW) dan Agen Perjalanan Wisata (APW) salah satu sektor terdepan dalam  industri pariwisata yang terkena dampak langsung pandemi virus corona (Covid-19) sejak awal wabah ah ini merebak di Wuhan, Hubei, Cina, pertengahan Januari 2020. Kalau menurut ASITA, dari survey pertama yang dilakukannya pada 17-21 Maret 2020, total kerugian di satu sektor ini saja diproyeksikan bisa mencapai USD 3,927 miliar selama bulan Maret 2020.

Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) mengadakan Survey Dampak COVID-19 kepada anggotanya di 34 provinsi selama seminggu terakhir. Hasil survey itu menunjukkan, penjualan paket tur turun sampai 65,2 persen, penjualan tiket pesawat turun 13,8 persen, dan paket perjalanan Umroh turun 11,7 persen.

Penjualan paket tur domestik turun paling banyak yakni 29,6 persen, penjualan paket perjalanan inbound ke Indonesia berkurang sampai 26 persen, dan penjualan paket outbound tour berkurang sebesar 25,5 persen. Sedangkan penjualan paket perjalanan Umroh turun 11,8 persen.

Usaha BPW dan APW yang penjualan paket turnya menurun hingga 100 persen mencapai 55,7 persen dari responden. Sebanyak 35,7 persen responden menyatakan penjualan paket turnya sudah turun hingga 75 persen. Dan hanya 7 persen dari responden yang mengikuti survey mengungkapkan kehilangan penjualan paket tur sebesar 50 persen.

Seiring dengan menurunnya penjualan paket perjalanan domestik, penjualan tiket pesawat di rute domestik pun mengalami penurunan lebih besar daripada penjualan tiket pesawat di rute internasional. Penurunan penjualan tiket pesawat rute domestik mencapai 56,6 persen dan penjualan tiket pesawat rute internasional turun 43,4 persen.

Selain kehilangan pendapatan dari penjualan paket-paket perjalanan dan tiket pesawat, BPW dan APW juga menghadapi pembatalan pemesanan. Menurut hasil survey tersebut 70,2 persen pelanggan membatalkan pemesanan dan meminta uang dikembalikan. Hanya 24,4 persen pelanggan yang menunda perjalanannya dan tidak mengubah destinasi yang dituju. Sisanya, menunda perjalanan dan mengubah destinasi, dan kombinasi pembatalan dan penundaan.

Sampai enam bulan ke depan, para pengusaha BPW dan APW menghadapi berbagai beban agar bisa mempertahankan bisnisnya. Mempertahankan bagaimana perusahaan tetap bisa membayarkan gaji pegawai merupakan beban paling menekan (40,6 persen), kemudian membiayai operasional kantor (28,5 persen), membayar cicilan ke bank (13,8 persen), dan sisanya masing-masing beban untuk membayar suppliers (hotel, maskapai penerbangan, dll.) dan membayar kewajiban pajak serta administrasi lainnya.

Hingga saat ini para pengusaha BPW dan APW berusaha mempertahankan usahanya dengan mengurangi jam operasional (43,6 persen), merumahkan karyawan (27,3 persen), mengurangi gaji dan insentif (16,0 persen), dan sisanya menghentikan segala aktivitas usaha.

Dalam menghadapi badai pandemi yang belum menunjukkan kapan akan berakhir, para pengusaha BPW dan APW tetap akan membuka kantor dengan segala penyesuaian (47,0 persen), mencari alternatif sumber pendapatan (30,2 persen), atau menutup kantor sambil menunggu keadaan menjadi lebih baik (20,5 persen).

Selagi mereka tertekan menghadapi situasi dan kondisi yang tidak menentu, 70,2 persen responden menyatakan bersedia mengikuti kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan kapabilitas SDM dan usahanya.

Survey diikuti 557 responden atau 8,1 persen dari seluruh anggota ASITA sebanyak 6.994. Data riilnya diprediksi bisa lebih besar daripada hasil survey pertama ini.

Di dalam industri pariwisata Indonesia, sektor BPW dan APW kerap luput dari perhatian daripada sektor lainnya. Perannya sebagai pemasar, penjual sekaligus layanan pelanggan juga nyaris dilupakan.***(Yun Damayanti)