Sungguh Akomodasi di Tengah Sawah Desa, Ti Amo Bali, Cinta Italia dan Indonesia Berpadu, Dinikmati Wisman dan Wisnus

Ti Amo Bali,akomodasi mungil di tengah hamparan sawah di kaki Gunung Batukaru,Tabanan,Bali.(Foto:YD)

Ti Amo Bali,akomodasi mungil di tengah hamparan sawah di kaki Gunung Batukaru,Tabanan,Bali.(Foto:YD)

Ti Amo Bali, sebuah akomodasi di tengah hamparan sawah dalam arti yang sebenarnya. Akomodasi mungil dengan enam kamar saja di kaki Gunung Batukaru, Tabanan itu menawarkan nuansa otentik pedesaan di Pulau Dewata. Tinggal di dalamnya, merasakan kembali pengalaman awal bagaimana para maestro lukis dunia dan warga dari berbagai penjuru bumi jatuh cinta kepadanya.

Hari Minggu pertengahan bulan Mei kami tiba di Ti Amo Bali sudah lewat tengah hari. Suara dari beberapa orang anak laki-laki usia sekolah dasar memecah keheningan. Mereka memasuki pekarangan Ti Amo tanpa pagar. Meminta kembali layang-layang yang tersangkut di atap bangunan berbentuk joglo. Lalu berlarian kembali ke pematang sawah dan melanjutkan bermain.

Di bagian depan pekarangan ada satu bangunan kecil berfungsi sebagai Receptionist dan dapur. Tampak 3 unit sepeda parkir di garasi terbuka. Dua gazebo dan tempat duduk berpayung adalah ‘lobi’nya. Dari situ bisa melihat hamparan hijau dan mendengarkan suara gemericik air di saluran yang mengairi sawah. Udaranya terasa sejuk meskipun posisi matahari masih tegak lurus.

Di bangunan utama berbentuk joglo ada 4 kamar. Jendela-jendelanya lebar dan semua menghadap ke sawah. Setiap kamar dilengkapi kamar mandi dan toilet. Arsitektur dan furniturnya kental bernuansa pedesaan di Jawa. Di bagian kamar mandinya memadukan furnitur tradisional dengan perlengkapan sanitasi modern. Namun, tanaman-tanaman hias di pekarangan dan pura-pura kecil di sudut-sudut pematang sawah adalah Bali.

Teras di lantai satu langsung terhubung dengan kolam renang.(Foto:YD)

Teras di lantai satu langsung terhubung dengan kolam renang.(Foto:YD)

Dari beranda di lantai dua pemandangan lepas melihat seluruh pekarangan Ti Amo, hamparan sawah dan rangkaian pegunungan nun jauh di cakrawala. Di beranda lantai satu langsung terhubung dengan kolam renang berukuran sedang. Setelah itu terdapat dua bangunan lagi, juga berarsitektur Jawa. Itu bungalow dengan konsep studio. Teras dan jendela-jendelanya pun menghadap ke sawah.

Ti Amo Bali baru berdiri 3 tahun lalu. Pada mulanya adalah sebuah vila pribadi milik pasangan campuran Italia dan Bali. Baru sekitar satu tahun terakhir vila itu dibuka untuk umum. Dan saat ini berada di bawah pengelolaan Delvision Hotel Management.

Tamu-tamunya sekitar 70% dari luar negeri terutama dari Perancis, Amerika Serikat dan negara-negara Eropa lainnya. Sisanya tamu domestik. Mereka menginap rata-rata antara 1 hingga 2 malam.

Selain menikmati akomodasi mungil nan homy, tamu-tamu Ti Amo Bali suka menelusuri pematang sawah hingga ke sumber air panas alami sekitar 20 menit berjalan kaki atau 10 menit dengan motor. Atau mengeksplorasi desa dengan bersepeda atau naik motor. Akomodasi pun menyediakan 3 unit sepeda yang bisa disewa dengan biaya Rp 75 ribu per hari (24 jam) dan motor dengan biaya sewa Rp 125 ribu per hari. Pilihan lainnya, tur ke Batukaru mengunjungi pura dan tempat penyucian.

Pilihan menu makanan di dalam akomodasi memang tidak banyak. Menurut Windayani, Supervisor Site Villa, bahan-bahan baku yang digunakan di dalam menu sebagian besar mengambil dari hasil pertanian yang ada di desa.

“Sekitar 50% pertanian di desa ini pertanian organik. Sekitar 5 tahun lalu seluruh sawah di sini full organic,” terang Windayani.

Dua bangunan kecil berasiterktur Jawa,bungalow di Ti Amo Bali.(Foto:YD)

Dua bangunan kecil berasitektur Jawa,bungalow di Ti Amo Bali.(Foto:YD)

Untuk memperluas fisik akomodasi tidak mudah di desa tersebut. Akomodasi mungil ini berada sekitar 30 menit dari pusat hamparan sawah Jatiluwih, situs warisan dunia yang diakui oleh UNESCO. Berada di dekat kawasan warisan dunia berarti mesti patuh dengan peraturan-peraturan agar kawasan tersebut tetap lestari. Tetapi itulah yang membuat akomodasi mungil semacam Ti Amo Bali unik dan mempunyai karakter kuat.

Bangunan utama bisa disewa penuh 1 rumah (4 kamar). Biasanya digunakan oleh tamu keluarga atau grup kecil. Setiap kamar di dalam bangunan utama juga bisa disewa individual. Pada saat low season disewakan antara Rp 750 ribu-Rp 850 ribu net per malam per kamar dan Rp 950 ribu net per malam untuk bungalow. Biaya sewa sudah termasuk sarapan pagi yang terdiri dari 3 menu yang bisa dipilih. Tentu saja rasanya amat segar karena dibuat dengan menggunakan hasil pertanian di desa.

Ti Amo Bali adalah tempat untuk merasakan ketika cinta Italia dan Indonesia berpadu.*** (Yun Damayanti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.