(Image peta dari google)

(Image peta dari google)

Pada pertengahan 2014 silam saya bersempatan mengunjungi Pulau Sumba. Pulau di sebelah selatan Flores itu punya beberapa potensi wisata yang layak dikembangkan. Jika menyebut pariwisata Sumba, yang pertama kali terbayang di kepala adalah Pasola, lalu padang sabana hijau yang luas, kemudian pantai-pantai indah berpasir putih.

Pasola, nama ajang perang-perangan berkuda merupakan tradisi kebudayaan Marapu di pulau itu, dan setiap tahun ditampilkan oleh masyarakat layaknya festival .  Kehidupan dan cara hidup yang tradisional “asli”, dengan kepercayaan “Marapu”,  juga merupakan living culture bisa dikujungi hingga sekarang. Jadi Sumba pun berpotensi sebagai destinasi wisata budaya. Wisata alam dan wisata bahari bisa digandeng untuk melengkapinya.

Hari ini, saya teringat Sumba. Bagaimana kabarnya? Setidaknya ada tiga kabar positif. Pertama, di sana sedang dibangun sekolah perhotelan di Sumba Barat Daya. Pendirinya ialah Sumba Hospitality Foundation. Sekolah tersebut terletak di Manangaaba, Desa Ramadana, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya.

Kehadiran Sekolah Hotel Sumba ditujukan untuk menyokong sektor pariwisata. Pembangunan lembaga pendidikan menunjukkan tengah mengalir gerakan maju dan berorientasi pada masa depan. Lembaga pendidikan cenderung seringkali diabaikan. Padahal dari sanalah bisa tercipta SDM-SDM pariwisata yang berkualitas.

Sekolah Hotel Sumba rencananya akan rampung pada Maret 2016 di atas tanah seluas lima hektar. Ada empat jurusan yang disediakan, yaitu front office, tata boga, restoran, dan tata graha. Para peserta didik juga akan diajari bahasa Inggris, komputer dasar, matematika, dasar dan permaculture pertanian. Kegiatan belajar mengajar direncanakan mulai pada Juli 2016 dengan diikuti peserta didik usia 17-23 tahun yang telah tamat SMA/SMK.

Kabar baik kedua datang dari salah satu perusahaan travel besar di Indonesia, Panorama, yang menargetkan 230 ribu wisatawan asing datang ke Indonesia pada tahun 2016. Jumlah itu naik dua kali lipat dibanding target Panorama tahun ini yang 115 ribu wisatawan asing. Untuk mencapai target tahun depan, salah satu upaya yang bakal dilakukannya adalah membuka destinasi-destinasi baru. Sumba adalah salah satunya.

Para pelaku industri pariwisata Sumba perlulh mendukungnya, apalagi pemerintah daerah. Sumba rasanya tidak tidak akan menjadi destinasi wisata massal seperti Bali atau Lombok. Wisatawan yang datang ke Sumba biasanya mengincar pengalaman yang eksklusif dan berbeda, serta menghindari tempat-tempat yang terlalu turistik. Memahami segmentasi pasar wisatawan ini penting agar tidak terjadi salah arah.

Kabar baik terakhir bahkan tengah terjadi sekarang. Pemprov NTT dan Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) NTT tengah melakukan road show investasi ‘Sumba 2015’ kepada investor dan pengusaha asal enam negara Amerika Latin, yaitu Peru, Argentina, Suriname, Kolombia, Venezuela, dan Kuba. Para calon investor bersama dubes dari enam negara itu akan diajak berkeliling Sumba mulai Senin (30/11) hingga Jumat (4/12). Mereka diajak untuk melihat secara langsung potensi  Sumba.

Tentu saja, salah satu potensi yang hendak ditonjolkan adalah potensi pariwisata. Ada empat kabupaten di Pulau Sumba, yaitu Sumba Barat Daya, Sumba Barat, Sumba Tengah, dan Sumba Timur. Keempatnya memiliki potensi pariwisata yang diharapkan dapat merangsang para investor untuk berinvestasi di sektor pariwisata Sumba. Potensi wisata di Sumba pun bisa dipadukan dengan potensi sektor lain seperti perkebunan, perkampungan budaya, peternakan, dan rumput laut.

Ketiga kabar baik tentang pariwisata Sumba yang dijelaskan di atas mencakup soal lembaga pendidikan yang didirikan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat, usaha perluasan pasar dari perusahaan swasta, dan inisatif pemprov terkait investasi sektor pariwisata. Jika inisiatif-inisiatif dari luar sudah ada, sekarang giliran pemerintah daerah dan masyarakat Sumba ikut berperan juga.***(Pitor Pakan)