Sport Tourism, memang sekaligus jadi tontonan terbuka untuk umum.

Sport Tourism, memang sekaligus jadi tontonan terbuka untuk umum. (Foto: Ist.)

Melihat ke tahun-tahun yad ini, banyak peluang bisnis dari akivitas pariwisata. Aktivitas itu antara lain sport tourism, wisata bahari, wisata kereta api, wisata halal, wisata petualangan, wisata perbatasan, selain yang umum dikategorikan wisata alam, wisata budaya dan wisata man-made.          Beberapa tahun ke belakang sport tourism kian marak di Indonesia. Event-event yang menggabungkan minat olahraga dengan kepariwisataan diadakan di berbagai daerah. Olahraga yang paling sering dikemas menjadi sport tourism tentulah lari dan sepeda. Namun, olahraga lain pun tak ketinggalan, seperti golf, surfing, rafting, atau triathlon.

Sport tourism tentu digunakan pada dasarnya untuk harapan meningkatkan kunjungan wisatawan maupun memperkenalkan potensi wisata daerah. Selain itu, sebagai upaya diversifikasi tipe wisata, di luar wisata alam dan wisata budaya yang sudah melekat. Sport tourism sebenarnya bisa juga dikategorikan sebagai man-made tourism. Karena diciptakan oleh manusia, maka kreativitas sangat penting dan diperlukan agar bisa diciptakan dan diolah dengan baik.

Beberapa yang sudah dan akan eksis di Indonesia adalah Tour de Singkarak, Tour de Siak, Bali Marathon, Bintan Triathlon, Jakarta Marathon, Tour de Ijen, Tour de Timor, Tour de Flores, Ultra Mesastila, Asia Pacific Downhill Challenge, World Rafting Championship, Wonderful Indonesia Golf Challenge, Banyuwangi International Run, Musi Triboatton, Asian Beaches Games Bali, dan yang paling ditunggu MotoGP Indonesia 2017.

Lomba lari dan sepeda memang masih dominan. Unsur dalam olahraga lari dan sepeda itu relatif lebih lentur untuk dikemas enjadi ajang yang bernafas lifestyle dan pariwisata. Keduanya tampak sedang menjadi gaya hidup yang digemari masyarakat Indonesia. Tidak hanya itu, keterlibatan Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) dan Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) juga mendorong berkembangnya event sport tourism bertema lari atau sepeda ini.

Pertanyaannya sekarang: bisakah olahraga lain menyamai lari dan sepeda untuk marak dikembangkan sebagai sport tourism?

Seperti halnya niche market lainnya, apakah dalam wisata budaya, wisata bahari, wisata alam, atau wisata belanja, sport tourism nyatanya melibatkan kolaborasi berbagai pihak. Tidak bisa cuma Kementerian Pariwisata atau insan pariwisata yang terlibat. Khusus sport tourism, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) harus dilibatkan. Demikian pula dengan induk organisasi berbagai cabang olahraga di seluruh Indonesia.

Maka, untuk mengembangkan sport tourism di luar olahraga lari dan sepeda, diskusi antarpihak terkait sudah perlu dilakukan. Dari diskusi-diskusi biasanya muncul banyak ide dan terobosan inovatif.

Sebagai contoh, bukankah menarik membikin event olahraga berkuda di Bima atau Sumba yang terkenal dengan kuda-kuda dan para joki tangguhnya? Atau, bagaimana jika diadakan event triboatton (balap perahu) di sungai-sungai di Kalimantan? Bagaimana dengan event panjat tebing di Tana Toraja atau Belitung yang banyak gua dan batu megalit? Dan pasti masih banyak ide sport tourism lain jika didiskusikan oleh pihak-pihak terkait.

Saat Tour de Singkarak 2015 berlangsung, Kemenpora sempat berujar lewat akun Twitter resminya: “Sport tourism akan menjadi trend menarik di Indonesia, karena negeri kita memiliki syarat itu, yakni olahraga dan pariwisata.” Kesepakatan antara Kemenpora dan Kemenpar soal sport tourism juga pernah dilakukan di era pemerintahan sebelumnya (saat itu masih Kemenparekraf). Kolaborasi dua kementerian tersebut patut untuk dijaga dan ditingkatkan.

Pertanyaan berikutnya lebih praktis dan menyerupai tantangan: apakah ada yang ingin terlibat mengembangkan sport tourism di sebuah destinasi? ***(Pitor Pakan)