“Katanya dari Bogor, mana lapis talasnya?” Buah umbi itu masih diingat dan menjadi trade mark buah tangan alias oleh-oleh dari Bogor selain asinan dan Roti Unyil. Kini talas yang dijadikan oleh-oleh tidak lagi sekedar berbentuk buah namun sudah menjadi penganan siap makan diantaranya keripik talas dan, yang sedang tren saat ini, bolu lapis talas.

Monumen Rumah di Atas Kapal di Kampung Lampulo, Banda Aceh termasuk di dalam itinerary wisata tsunami trek. Di halaman rumah yang kini dijadikan monumen itu ada sebuah toko kecil menjual aneka suvenir. Diantaranya ikan kayu.

Sejarah Aceh mengajarkan kepada warganya membuat makanan yang diawetkan dengan bahan-bahan alami. Sebelum kita terbiasa dengan makanan instan seperti sekarang, saudara-saudara kita di sana sudah lebih dulu mengetahui teknik mengawetkan makanan dan mengkonsumsi makanan instan. Ikan kayu yang dijual kini sudah dikemas layaknya makanan instan. Cara memasaknya tidak jauh berbeda dengan kita memasak makanan kemasan. Tidak jauh dari situ kita bisa menemui para ibu yang sedang memproduksi ikan kayu. Ibu-ibu itu tidak sungkan memberi tips bahan-bahan tambahan apa saja yang dibutuhkan dan cara memasaknya.

Ayam tangkap. (Foto:Ist.)

Ayam tangkap. (Foto:Ist.)

Ada lagi ayam tangkap. Masakan ini terbuat dari ayam kampung yang digoreng dengan rasa seperti ayam kecap berbumbu. Ayam dipotong kecil-kecil kemudian diaduk bersama semacam daun kari. Sehingga kita seolah-olah mencari ayam diantara dedaunan yang bisa pula dimakan itu. Menu ini bisa dipesan sehari sebelumnya dan dijemput saat menuju bandara. Untuk membawa masakan ini, kita perlu menyiapkan beberapa kantong plastik untuk membungkusnya sebab harumnya tetap meruap meskipun berada di dalam kardus tertutup rapat.

Beras merah jambu dari Bangka.Sepulen nasi putih.(Foto:YD)

Beras merah jambu dari Bangka.Sepulen nasi putih.(Foto:YD)

Di Kabupaten Bangka Tengah, masyarakatnya mengusahakan tanaman padi yang menghasilkan beras merah. Tidak seperti beras merah pada umumnya, warna beras dari Kabupaten Bangka Tengah ini berwarna merah jambu pucat. Istimewanya, beras merah jambu ini tidak perlu dicampur dengan beras putih sebab rasanya sepulen nasi putih. Mengkonsumsi beras merah jambu dari Bangka Tengah sama seperti kita mengkonsumsi beras merah. Harganya pun tidak jauh berbeda dengan beras merah yang dijual di pasar swalayan di Jabodetabek.

Gunung Kidul di Yogyakarta identik dengan daerah tandus dan tiwul. Di balik citra tandusnya itu, Gunung Kidul menyimpan sejuta pesona. Berada di daerah karst, daerah ini memiliki goa-goa, sungai-sungai bawah tanah, dan pantai-pantai yang eksotis. Wajah Gunung Kidul sekarang adalah dimana pohon-pohon buah yang subur menaungi sepanjang perjalanan dari kota Jogja. Kawasan tandus itu masih ada tapi tidak seperti dulu lagi.

Tiwul,penganan khas Gunug Kidul,tampil semakin percaya diri.(Foto:YD)

Tiwul,penganan khas Gunug Kidul,tampil semakin percaya diri.(Foto:YD)

Tiwul yang dikonsumsi masyarakat Gunung Kidul pun kini tampil percaya diri. Dikemas dalam besek, wadah anyaman dari bambu, dan dijual di toko-toko di sepanjang jalan. Ada yang masih orisinal adapula yang telah diberi tambahan rasa. Tampil dengan gaya dan rasa ndeso, tiwul malah jadi unik dan otentik.

cabai atau lada katokkon dari Toraja,Sulawesi Selatan.(Foto:Ist.)

cabai atau lada katokkon dari Toraja,Sulawesi Selatan.(Foto:Ist.)

Membawa kopi toraja dari bepergian ke Sulawesi Selatan memang sudah wajib, tapi ada lagi yang lebih seru. Masakan di Toraja rata-rata pedas. Rasa pedas yang sangat menggigit itu berasal dari cabai atau lada katokkon. Bentuk dan rasanya mirip dengan cabai gendot, cabai paling pedas di Jawa Barat, yang dihasilkan di Lembang, Bandung. Kita bisa menemukan cabai ini di pasar di Rantepao, ibukota Kabupaten Toraja Utara. Agar cabai yang dibeli tidak cepat rusak, jika kita tidak mempersiapkan kantong plastik vakum udara, banyak toko kelontong untuk membeli wadah.

Nah, ketika bingung akan membawa oleh-oleh apa dari Sorong, ada yang menyarankan untuk membeli roti gulung. Itu memang bukan produk asli dari kota yang menjadi gerbang ke Raja Ampat. Ada dua cabang toko roti dari Manokwari. Bentuknya sama saja dengan roti abon yang di jual di gerai-gerai ritel roti di Jabodetabek. Harganya juga relatif lebih mahal daripada yang ada di sini, Rp 10.000,00 per potong ukuran kecil. Tapi, rasa ikan segar yang jadi toping pada roti abonnya memang beda. Tidak heran sebab hasil laut di Sorong dan Manokwari melimpah.

Dalam perjalanan, terkadang kita menemukan banyak hal tak terduga, termasuk yang kita makan. Dari sekedar mencicipi, jika rasanya pas di lidah, terbersit keinginan untuk bisa membawanya pulang dan dimakan bersama keluarga di rumah. Yang disebutkan di atas adalah produk pangan dan masakan dari beberapa daerah yang penulis temukan dan layak juga menjadi buah tangan.

Selain produk busana, produk kuliner merupakan produk favorit sebagai buah tangan. Semua sudah mengetahui cerita sukses camilan dari Bandung dan pempek dari Palembang. Rasanya hanya di terminal kedatangan domestik bandara di Indonesia kita bisa menebak seseorang baru datang dari daerah mana cukup dengan melihat kardus yang ditentengnya. *** (Yun Damayanti)