Dirut Garuda Indonesia Emirsyah Satar.

Dirut Garuda Indonesia Emirsyah Satar.

Garuda Indonesia menghadapi tantangan tersendiri pula dalam peningkatan operasi penerbangannya ke luar negeri. Pembukaan rute penerbangan langsung Jakarta-London masih harus tertunda dan baru akan mulai dioperasikan September 2014. Rencana tadinya dimulai Mei 2014 ini. Tetapi menurut Dirut Garuda Indonesia Emirsyah Satar, slot time di bandara Gatwick London belum diperoleh, sesuai dengan yang dibutuhkan. Slot time yang telah ditawarkan tidak sesuai bagi pertimbangan operasi Garuda, sehingga harus menunggu sampai September.

Masalah slot time juga dihadapi Garuda yang ingin menerbangi rute Tokyo-Manado. Bandara Narita dan Haneda di ibukota Jepang itu dinyatakan demikian padat sehingga harus ditunggu diperolehnya slot time yang cocok bagi Garuda.

“Kami yakin potensinya bagus untuk membawa wisman Jepang ke Manado sebagai destnasi bagi wisatawan selam (divers) dari Jepang,” kata Emirsyah Satar.

Penerbangan Tokyo-Manado itu rencananya akan merupakan rute Tokyo-Manado-Denpasar.

Tapi di sisi lain Garuda mulai Mei ini mengubah penerbangan rute Amsterdam-Jakarta menjadi penerbangan langsung dan tidak lagi singgah di Abudhabi.

Untuk rute penerbangan ke Eropa, Emirsyah Satar menyatakan rencana Garuda setelah terlaksana penerbangan langsung ke London, berikutnya yang akan diterbangi maskapai ini adalah penerbangan langsung ke Paris, setelah itu ke Italia. Ke Italia akan dipilih nantinyab apakah kota Roma atau Milan.

Penerbangan langsung oleh Garuda dari Eropa dalam dua tiga tahun mendatang ini akan memberikan pengaruh cukup besar bagi peningkatan wisman ke Indonesia. Ke Amerika Garuda dikabakan berencana melaksanakan tahun 2016 atau 2017. Bersamaan itu di dalam negeri maskapai ini sedang meluaskan rute-rute ke bagian timur Indonesia hingga ke kota-kota kabupaten yang relatif kecil.

Dirut Garuda menyatakan dalam memilih dan mengoperasikan rute-rute penerbangannya, maskapai itu memperhatikan terutama pertimbangan komersial agar operasi yang dijalankan tidak merugi.  Itu berlaku juga di dalam rute penerbangan dalam negeri, selain luar negeri.

Rute penerbangan langsung antara Biak dan Los Angeles di AS, menurutnya tidak masuk dalam rencana Garuda Indonesia. Rute tersebut dipandang tidak menguntungkan.

Tetapi dia berpandangan dalam kaitannya dengan pariwisata, bisa berlaku dua arah, apakah “the trade follow the ship atau the ship follow the trade”. Itu tentu maksudnya, kalau airlines membuka rute baru maka sebaiknya para pelaku bisnis pariwisata mengikutinya dengan kegiatan pemasaran dan penjualan. Atau sebaliknya airlines akan membuka rute di mana pasar telah produktif oleh kegiatan para pelaku bisnis. ***