BBTF 2020 mengangkat tema perjalanan budaya di Indonesia.[Foto; BBTF]

Jakarta, (ITN-IndonesiaTouristNews): Pasar-pasar pariwisata (travel mart) utama di Indonesia pada tahun 2020 direcanakan tetap akan berlangsung. Meskipun beberapa di antaranya mengalami perubahan jadwal.

Pasar pariwisata internasional yaitu Bali and Beyond Travel Fair 2020 (BBTF) akan berlangsung pada tanggal 9 hingga 13 Juni 2020 bertempat di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Nusa Dua, Bali. Pada penyelenggaraannya yang ketujuh tahun ini, BBTF mengangkat tema Going Further for Cultural Heritage di mana buyers dari dalam dan luar negeri akan menemukan produk-produk perjalanan bertema dan/atau berbasis budaya lebih beragam. Sampai dengan tulisan ini dibuat, di situs resminya belum ada pemberitahuan perubahan.

Sebelumnya, Jogja International Travel Mart (JITM) ditunda ke Juni. Rencana asli dijadwalkan dihelat pada akhir Maret 2020. Atas pertimbangan keselamatan seluruh peserta dan pihak-pihak lain yang terlibat– buyers, sellers, panitia, media, wakil pemerintahan daerah dan lain-lain — pasar pariwisata internasional di Yogyakarta itu diundur pelaksanaannya. Pasar pariwisata tersebut akan digelar padar 15-18 Juni 2020 di kota Jogja.

Kegiatan B-to-B di Bali and Beyond Travel Fair.[Foto; BBTF]

Begitupun dengan pasar pariwisata tertua di Indonesia saat ini Majapahit International Travel Fair 2020 (MITF) yang pada awalnya akan digelar pada pertengahan April 2020 diundur hingga bulan Juni 2020. Jadwal pelaksanaan akan diumumkan kemudian, begitu dikonfirmasikan Monas Tjahjono, selaku Ketua Pelaksana Travel Exchange MITF 2020. MITF tahun ini mengangkat tema East Java Culinary Journey. Dan ini merupakan pertama kali di Indonesia ada pasar pariwisata yang meng-highlight perjalanan berbasis kulinari.

Dengan banyaknya pasar pariwisata internasional di luar negeri yang dibatalkan terkait sebab pandemi virus corona, upaya para pemangku kepentingan pariwisata untuk tetap menghadirkan pasar-pasar pariwisata internasional di daerah menjadi sangat berarti dan perlu didukung. Bagaimanapun, kegiatan pemasaran pariwisata sejatinya tidak pernah berhenti, dilakukan melalui pendekatan-pendekatan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada.***(Yun Damayanti)