Presiden - Wakil Presiden terpilih, Jokowi-JK. (Image: Ist)

Presiden – Wakil Presiden terpilih, Jokowi-JK. (Image: Ist)

Analisis Berita : Setidaknya empat ciri atau sifat dasar Menteri yang akan bekerja membantu Presiden dan Wakul Presiden terpilih Jokowi-JK. Pertama, “yang penting ada niat”, kata Presiden terpilih Joko Widodo pada salah satu sesi debat calon Presiden dan calon Wakil Presiden,  dengan bahasa sederhana, untuk mensukseskan program, kedua, mengerti dan mampu dalam pengelolaan lapangan, dan ketiga, memiliki “bakat” atau pun kemampuan pemasaran (“marketing”) alias marketeer. Lalu, mau dan mampu menggerakkan fungsi pengawasan.
Kata “Niat” bermakna menentukan tekad melaksanakan sesuatu agar tujuan yang hendak dicapai sungguh terlaksana. Kalau memang ada Niat memajukan pertanian dan petaninya, sebagai salah satu contoh, peraturan bisa diciptakan dan seorang Menteri yang mengerti praktik dan mengelola di lapangan, akan berhasil. Contoh itu diuraikannya pada satu kesempatan khusus.
Jadi, menguasai pengetahuan fakta dan praktik yang hidup, bukan sekadar teoritis, itu yang diharapkan oleh Jokowi sebagaimana dinyatakannya dalam pidato-pidatonya. Ini memang mengingatkan akan kebiasaannya “blusukan” selaku gubernur DKI. Dan menonjollah sikapnya selaku “manager”. Bukan hanya seorang “top executive”.  Adagium manajemen menyebutkan, “there is no detail is too small for a good manager”.
Capres Jokowi hingga setelah Presiden terpilih berulang kali mengisyaratkan salah satu kriteria untuk dijadikan seseorang Menteri di kabinetnya, ialah memiliki “sense” pelaku pemasaran atau “marketing”. Duta Besar RI di luar negeri pun, menurut Jokowi, perlu memiliki dan mempraktekkannya. Uraian-uraian ringkas yang sempat diutarakannya dalam beberapa kesempatan, menunjukkan satu kriteria, yakni memiliki entrepreurship alias kewirausahaan.
Para entrepreneur digolongkan oleh Prof David McLellan sebagai golongan masyarakat yang termasuk tertinggi kadar virus nAch, “need for Achievement”. Segmen mahasiswa  juga termasuk pemilik tinggi kadar nAch.
Yang kita catat akhirnya dalam konteks ini ialah beberapa kali Jokowi mengatakan pandangan dan tekadnya sendiri, bahwa salah satu kelemahan kita di Indonesia selama ini adalah melaksanakan pengawasan alias “control” maka fungsi kontrol haruslah mampu digerakkan oleh sang Menteri. ***