Seperti Apa Pengalaman Perjalanan di Taman Nasional/Taman Wisata Alam Kita? (Bagian I)

Para porter di TN Gunung Rinjani.(foto:YD)

Para porter di TN Gunung Rinjani.(foto:YD)

Perjalanan yang diceritakan ini baru tiga minggu yang lalu. Ternyata, Gunung Rinjani dan anaknya, Gunung Barujari, punya ibu dan nenek. Dia adalah Gunung Samalas yang meletus tahun 1257. Anak dan cucu Samalas pun masih aktif sampai saat ini. Sisa-sisa keberadaannya masih bisa dilihat saat trekking menyusuri bukit-bukit savana menuju puncak Rinjani untuk melihat, ataupun mendatangi Barujari di Danau Segara Anak. Diantara panorama alam yang memikat dan medan yang menantang, ada sesuatu yang membuat trekker merasa “ill feel”.

Di jalur trekking di lereng Rinjani yang semakin tinggi dan terjal relatif bersih. Jejak keberadaan manusia tampak di tanah-tanah yang mendatar. Di bagian ini biasanya dimanfaatkan sebagai tempat beristirahat. Di tanah yang mendatar membentuk lapangan cukup luas dijadikan pos-pos tempat beristirahat dan bermalam.

Mulai dari depan gerbang “Selamat Datang di Taman Nasional Gunung Rinjani” di Sembalun, di Pos I, II, III, Ekstra dan camping ground seperti di Rim I Sembalun Crater jejak-jejak yang ditinggalkan menandakan kita belum cukup memahami bagaimana memperlakukan sampah dan kotoran yang dihasilkan di alam terbuka. Sisa-sisa pembungkus makanan dan minuman, tutup-tutup plastik kaleng gas portable untuk memasak, bekas-bekas tisu basah, sisa-sisa sayuran dan buah-buahan mudah sekali ditemukan di bagian-bagian tanah yang mendatar, terutama di pos-pos. Di jalur trek terbuka yang dilalui oleh trekker di camping ground, kalau tidak berhati-hati, bahkan bisa hampir menginjak kotoran manusia yang mulai mengering setelah terpapar sinar matahari.

Ini hanya sebagian kecil sampah yang ditinggalkan oleh pengunjung sebelumnya.Di camping ground Rim I Sembalun Crater.(Foto:YD)

Ini hanya sebagian kecil sampah yang terserak yang ditinggalkan oleh pengunjung sebelumnya. Di camping ground Rim I Sembalun Crater.(Foto:YD)

Jejak-jejak yang ditinggalkan itu bukan saja hanya menurunkan kualitas pengalaman perjalanan dan keindahan panorama Rinjani beserta anaknya Barujari, tetapi juga akan berdampak pada “gangguan kesehatan” tanah dan flora serta perilaku hewan yang ada di dalam Taman Nasional Gunung Rinjani. Bahkan bisa pula membahayakan kesehatan para pengunjung.

Di Pos I, II, dan III tampak beberapa karung ditempatkan. Tapi entah apa gunanya. Wadah atau tempat untuk menempatkan sampah tak terlihat. Bagi yang kurang peduli ataupun tidak terbiasa ya akan ditinggalkannya begitu saja di situ.

Di Pos I dan II, masing-masing ada sebuah bangunan kecil yang katanya “toilet”. Tapi, para porter dan pemandu tidak akan menyarankan untuk menggunakannya. Bangunannya kecil dari batako tanpa plester dan beratap seng. Berpintu aluminium. Tanpa penerangan. Di dalamnya hanya berupa tanah dengan sebuah lobang yang digali. Lantai tanahnya lembab dan nyaris tak terlihat lagi sebab sudah tertutup bekas helain-helaian tisu basah dan berbagai pembungkus yang entah sudah berapa lama ada di sana, kotoran dan lain-lain. Itu lebih buruk dari “toilet sementara” yang pernah saya gunakan di pos terakhir sebelum mencapai puncak Gunung Ijen, “pos” di mana para pengambil belerang menimbang hasil yang diperolehnya, pada 2014 lalu.

Dan Rinjani tak sendiri menghadapi persoalan yang sama.*** Bersambung (Yun Damayanti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.