Detik-detik matahari muncul di fajar menyingsing...di Bromo.(Foto: YD)

Detik-detik matahari muncul di fajar menyingsing…di Bromo.(Foto: YD)

Kita ulang memuat cerita perjalanan ini. Ringkas menarik. Dan, Bromo itu perlu kita populerkan terus. Sudah pernahkah Anda ke sana? Travel writing ini pernah kita angkat di sini 5 Mei 2014. Tetap relevan.

Jalan sepanjang Malang-Tumpang hingga mencapai Desa Gubuklakah lengang, orang-orang masih terlelap di rumah. Tiga jip jenis hardtop melintas masing-masing membawa wisatawan nusantara dan mancanegara. Ada yang berisi 2,3 hingga 5 orang. Bulan masih purnama pada tanggal 16 April 2014. Sinarnya menerangi hutan dan lading dan jalan  menuju pos pertama. Ini perjalanan menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dimulai sekitar pukul 1.30 dini hari dari Malang. Demi menyaksikan matahari terbit dari satu bukit namanya Pananjakan.

Selain dari Malang, TNBTS juga bisa diakses dari Pasuruan, Probolinggo dan Lumajang. Dari ketiga kota yang mengelilingi taman nasional itu butuh waktu 1,5-2 jam untuk mencapainya.

Sebuah jip sudah diparkir di depan pos satu pintu Tumpang. Tiga jip berturut-turut parkir di belakangnya. Ada dua orang petugas di pos yang gelap, salah seorang di antaranya menyalakan genset sumber penerangan di situ. Tersedia sebuah toilet di pos tapi tidak tersedia air karena hujan belum turun. Seorang warga Desa Ngadas menawarkan rajutan wol topi/kupluk, syal dan sarung tangan yang berlogo Gunung Bromo dihargai masing-masing Rp 30 ribu, Rp 20 ribu dan Rp 10 ribu. Semuanya dibuat oleh warga Probolinggo.

Di situ jalan bercabang dua. Para pendaki yang hendak mencapai Mahameru akan mengambil jalan mendaki di sebelah kanan menuju Ranu Pane. Dan jip-jip yang membawa wisatawan menuruni jalan di sebelah kiri menuju Bromo.

Jip langsung berguncang-guncang, jalan sempit itu rupanya dibangun dari conblock tapi sudah hancur. Di bawah penerangan dari sinar bulan purnama, jip melaju di jalanan berpasir berselang-seling tanaman semak. Bunga-bunga berwarna kuning dari rumpun pohon adas dan hembusan angin malam yang masih dingin menebarkan wangi aromatherapy dari rumpun pohon itu. Tidak lama kemudian, bayangan-bayangan hitam dari gunung-gunung di kejauhan semakin mendekat. Jalan berpasir itu akan menjadi sungai di bulan-bulan tertentu. Airnya berasal dari embun yang membeku kemudian mencair. Selama musim hujan, udara cukup hangat dan akan membeku hingga mencapai di bawah nol derajat celcius pada bulan Juli-Agustus.

Bagi anak-anak muda, melintasi jalan off road di savana, padang pasir, bekas kaldera raksasa di kaki Gunung Bromo dan Batok memang sangat menarik, tapi bagi yang lebih tua usia atau membawa keluarga rasanya akan kurang nyaman meskipun diakui jalur ini ‘dilengkapi’ pemandangan yang menawan dan cukup kental ‘rasa’petualangannya. Dua jalur lain dari Probolinggo dan Pasuruan mungkin menjadi alternatifnya.

Di ujung kaldera, deretan jip mengantri untuk meniti jalan mendaki yang dibangun dari beton permanen. Kerlap-kerlip lampu di Kota Malang terlihat indah dari atas ketinggian. Jalan mendaki itu berakhir di Pananjakan.

Berderet-deret jip sudah terparkir. Jarum jam  menunjuk angka 4.00 dini hari. Wisatawan berbahasa Indonesia, Inggris, Perancis, Spanyol, Mandarin ramai lalu lalang. Ada yang langsung menuju tempat dari mana hendak melilhat sunrise, banyak pula yang duduk-duduk dahulu sambil menyeruput minuman hangat di warung-warung yang berjajar.

Keluarga Perancis ini "ngopi" sebelum menuju bukit pemandangan matahari terbit . (Foto: YD)

Keluarga Perancis ini “ngopi” sebelum menuju bukit pemandangan matahari terbit . (Foto: YD)

   Hari itu diperkirakan sang mentari akan keluar dari peraduan sekitar pukul 5.00. Sunrise hoper, karena wisatawan yang datang ke sini bertujuan menyaksikan dan merasakan  momen matahari terbit, sudah memenuhi puncak bukit Pananjakan sejak pukul empat. Berdiri di railing menjadi tempat favorit dan diperebutkan semua orang.

Ada satu lokasi namanya Bukit Cinta. Entah kenapa atau siapa yang pertama kali menyebutnya Love Hill ( Bukit Cinta). Ini menjadi tempat wajib dikunjungi meskipun tidak secara resmi dicantumkan dalam itinerary. Biarpun tidak ada ribuan gembok cinta seperti di Paris atau Seoul, tempat ini cukup romantis juga untuk mengabadikan kenangan di Bromo. Apalagi bersama pasangan. Gunung Batok dan Bromo terlihat lebih dekat dari sini.

(Catatan Perjalanan  oleh Yun Damayanti, Reporter).