TPA Sarbagita Suwung Bali.(Foto:maritim.go.id)

TPA Sarbagita Suwung Bali.(Foto:maritim.go.id)

Jakarta,  ( ITN – IndonesiaTouristNews ):Bali bukan satu-satunya pulau tropis yang berjuang mengatasi krisis sampah. Tetapi ketertinggalannya dalam mengatasi masalah sampah itulah yang jadi masalah. Travel Weekly Australia (10 Januari 2018) mengangkat ini kembali dan memberi catatan, hotspots turis seperti di Thailand dan sebagian di Cina juga merasakan masalah yang sama seperti dihadapi oleh Bali.

Pada bulan Oktober tahun lalu, Thailand secara resmi melarang merokok di pantai. Kebijakan dan peraturan itu merupakan sebuah kemenangan besar bagi penyu, pemerhati lingkungan, dan wisatawan di mana-mana. Sesuai undang-undang yang baru, bagi mereka yang melanggar larangan tersebut akan dikenai denda hingga 10.000 baht Thailand atau sekitar AUD 3.850, dan mungkin menghadapi hukuman penjara maksimum selama satu tahun.

Menurut #DietKantongPlastik, orang Indonesia menggunakan kantong plastik rata-rata 700 lembar per tahun. Setiap hari Indonesia menghasilkan 4.000 ton sampah plastik. Menurut sebuah laporan mengenai limbah global pada tahun 2015, Indonesia berada di peringkat dua setelah Cina dalam hal penghasil sampah ke laut. Masih menurut laporan itu, masing-masing individu di Indonesia bertanggung jawab atas 0,8 kilogram sampai 1 kilogram sampah plastik per tahun. Kesadaran bagaimana memperlakukan limbah, terutama sampah plastik, masih rendah di sebagian besar masyarakat Indonesia. Disadari atau tidak, hal tersebut menambah masalah yang paling sering digerutui oleh wisatawan dan akan berpengaruh terhadap pariwisata yang saat ini tengah gencar dibangun.

Pada musim penghujan atau pada waktu-waktu tertentu, sampah memenuhi pantai-pantai di Bali. Sampah-sampah di pantai langsung dibersihkan. Sampah itu terbawa arus dari tempat yang berbeda, baik dari daratan pulau yang sama maupun dari tempat lain. Sampah bisa sampai ke laut dibawa oleh aliran sungai.

Revitalisasi TPA Regional Sarbagita Suwung

Revitalisasi TPA Regional Sarbagita Suwung telah diluncurkan oleh Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Jumat (22/12/2017), lalu di TPA Suwung, Denpasar, Bali. Proyek ini guna mengurangi bau, mencegah longsor timbunan sampah, dan dalam rangka menyambut sidang tahunan IMF dan Bank Dunia yang akan berlangsung di Bali pada bulan Oktober 2018. Proyek itu akan dilaksanakan selama 3 tahun dimulai sejak akhir Desember 2017 sampai dengan Oktober 2019.

TPA Suwung Bali seluas 32 hektar akan ditata dengan pola sanitary landfill yakni mengurug sampah dengan tanah. Tahapan kegiatan penataan TPA yang berada di posisi strategis dekat dengan bandara, jalan tol dan akses utama menuju lokasi-lokasi wisata terkenal itu meliputi penutupan gunungan sampah seluas 22,45 hektar yang akan ditanami pepohonan. Lahan sisanya akan dipersiapkan untuk membangun instalasi pengolahan air lindi dan gas methan serta Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).

Anggaran untuk merevitalisasi TPA Suwung sekitar Rp250 miliar. Pembiayaannya dilakukan secara bertahap selama beberapa tahun anggaran.*** (Yun Damayanti, dari berbagai sumber)