Pada salah satu data di Departemen Perhubungan memang pernah disebutkan, tingkat rata-rata insiden dan accident penerbangan di Indonesia, empat kali lipat dari rata-rata tingkat dunia. Sementara itu, Laporan tahunan INACA tahun 2007 meletakkan persoalan kecelakaan pesawat terbang di Indonesia menurut proporsinya, berdasarkan data statistis dari Departemen Perhubungan R.I. Yaitu sbb.:
Angkutan udara niaga berjadual, jika dihitung berdasarkan per 100,000 departure, mencatat kejadian accident rata-rata 5,12 selama tahun 2007. Jumlah accident tertinggi berdasarkan penghitungan ini, sebenarnya, terjadi di tahun 1997 ketika mencapai rata-rata sekitar 11,7 accident. Demikian laporan tahunan itu.
Jadi, itu berarati sebelum deregulasi di bidang penerbangan yang dilancarkan oleh pemerintah mulai tahun 2000. Sejak tahun 2000, bermunculanlah sejumlah perusahaan penerbangan swasta nasional yang beroperasi secara berjadual tetap, dan penggunaan pesawat jet tidak lagi merupakan monopoli bagi maskapai BUMN Garuda Indonesia. Sedikitnya kini lebih 15 maskapai penerbangan berjadual, dari tadinya tujuh sebelum deregulasi.
Per 100,000 departure, terjadi accident rata-rata 1,77 tahun 2006, rata-rata 4,64 tahun 2005, lalu 4,09 tahun 2004, dan 4,15 tahun 2003.
Kurve grafis yang serupa akan tampak bilamana kejadian accident diukur berdasarkan perhitungan per 100,000 jam terbang.
Semua anggota INACA telah menandatangani deklarasi Peningkatan Manajemen Keselamatan Penerbangan, bersama dengan 37 maskapai penerbangan domestik, serta dua pengelola bandara pada 15 Nopember 2007 di Jakarta.
Tidaklah mengherankan kalau safety management challenges kian meningkat dihadapi oleh industri penerbangan Indonesia, di mana lebih satu juta departure and arrival penerbangan berlangsung dalam setahun, atau rata-rata mendekati 3000 pergerakan pesawat per hari; rata-rata 166 penerbangan per jam bilamana diasumsikan tiap bandara beroperasi 18 jam per hari.
Pihak Regulator mengumumkan, sampai akhir 2007, berkaitan dengan upaya peningkatan safety and security, sudah melaksanakan 17 tindakan, yang mencakup berbagai aspek dan komprehensif.
Disamping itu, ada tindakan-tindakan lain yang sedang dalam proses pelaksanaan, terdiri dari:
Mengevaluasi tindak lanjut hasil audit FAA (Federation Aviation Administration, USA), ICAO (International Civil Aviation Organization) dan Uni Eropa, yang telah dicapai, agar dapat segera diselesaikan sesuai jadual. Menyelesaikan perbaikan terhadap temuan-temuan audit agar larangan terbang ke Uni Eropa dapat segera dicabut. Meningkatkan fungsi pengawasan lebih intensif melalui pelaksanaan Ramp Check, Audit, Surveillance dan Enroute Check.
Mengevaluasi kembali secara detail terhadap pelaksanaan safety commitment dari para CEO yang tertuang dalam Company Manual. Mengevaluasi berjalannya fungsi internal audit dan safety review setiap operator.
Laporan Tahunan 2007 dari INACA itu juga menyebutkan, Law enforcement yang lebih tegas dan konsisten sedang dilaksanakan sesuai dengan norma / standar / regulasi yang berlaku. Pemerintah Indonesia berpartisipasi aktif pada setiap kegiatan internasional yang diadakan oleh ICAO, FAA, bilateral meeting, harmonisasi regulasi serta BAP (Bridging Aviation Project) Eropa. Merevisi Norma / Standar / Regulasi yang disesuaikan dengan perkembangan ICAO Annex.
Selain itu, memberikan sanksi terhadap pelanggaran atas kewenangan dan tanggungjawab bagi Pilot in Command / Teknisi. Mengefektifkan fungsi CASO, Direktur Safety di setiap operator harus memonitor implementasi dari Safety Management System. Mengefektifkan fungsi Flight Operational Control / Flight Following / Flight Watch untuk rute penerbangan.