Divers dan surfers dari berbagai pelosok dunia pada kenyataannya merupakan satu segmen wisman yang mestinya bisa didualipatkalikan jumlahnya untuk ikut mendukung pencapaian 20 juta wisman di tahun 2019. Salah satu pengusaha Liveaboard memperkirakan kini setahun antara 500-600 ribu divers mancanegara berwisata ke Indonesia.

Tak begitu banyak terberitakan bahwa ternyata di Tanjung Setia hingga pantai Krui di Lampung barat, dalam setahun kini diperkirakan telah dikunjungi oleh sekitar 20.000 wisman sedangkan tiga tahun yang lalu diperkirakan sekitar 10 ribu orang. Hampir seluruh wisman ke sini terdiri dari surfer dan diver datang berpayah-payah dari jarak jauh, Jerman, Portugis, Perancis, Amerika, Kanada, dan Jepang walaupun jumlahnya paling sedikit dan tentu saja juga dari Australia.

Yang sudah lama terkenal Bunaken di Sulawesi Utara, beberapa tahun belakangan kian diramaikan oleh kunjungan ke pulau dan selat Lembeh. Di situ pun, bisnis penginapan sebenarnya terbuka bagus bagi usaha-usaha lokal, di mana akomodasi yang diperlukan oleh divers biasanya bukan kelas hotel bintang, tetapi unit-unit akomodasi terbuka dengan “menguntungkan” bagi ukuran per unit mulai 4-5 kamar hingga dua puluh. Di pantai selat Lembeh, sebagaimana juga di pantai Lampung Barat, sebagian usaha akomodasi dimiliki usahawan lokal dan sebagian milik warga asing.

Bedanya, di Lembeh, cukup banyak kapal-kapal rekreasi atau Liveaboard yang berseliweran. Para divers datang ke kawasan itu, beberapa hari melakukan tur selam, dan mereka menginap malam hari di Liveaboard. Di Lampung,  para surfer datang jauh-jauh membawa papan surfing naik mobil dari bandara Lampung padahal memakan waktu 5-6 jam perjalanan, sementara kalau dari kota Bandar Lampung yang berjarak sekitar 278 KM, ke Tanjung Setia ditempuh 4-5 jam. Mereka tinggal rata-rata seminggu walau sebagian bisa hingga dua minggu. Jumlah penginapan sudah berkisar 20 unit dan yang bersifat unit pribadi kurang atau lebih 10. Satu unit ukuran terbesar mengoperasikan 14 kamar, kapasitas penuhnya menampung 37 orang. Di Krui malah sekitar 40 unit penginapan sudah tersedia, sebagian milik anggota masyarakat.

Sabang di Aceh tampak berkembang mirip dengan di Lampung. Unit-unit penginapan kini juga dimiliki oleh warga asing dan sebagian oleh warga lokal, per unit berkapasitas antara 5 sampai 20 kamar saja. Belum didapat berapa persisnya jumlah wisman keseluruhan per tahun, namun para usahawan setempat mengaku praktis sepanjang tahun kini mereka tak kekurangan tamu. Perkiraan saja jumah wisman ke sini sudah melebihi angka 10 ribu per tahun, Para wisatawan bahari ke sini datang dari beberapa negara Eropa termasuk Portugis, selain dari AS dan Kanada. Sekitar laut Sabang terdapat titik-titik selam yang menarik mereka, sementara pelabuhan alamnya dalam setahun menerima kedatangan 3-4 cruise ship yang membawa penumpang wisman ribuan orang, kendati yang turun ke darat berwisata atau shore excursion relatif masih sedikit. Sebagian menikmati matahari Aceh di geladak kapal pesiar mewah mereka.

Labuan Bajo dari satu sudut pandang di perbukitan.(Foto:AH)

Labuan Bajo dari satu sudut pandang di perbukitan.(Foto:AH)

Kepulauan Mentawai juga telah “mapan”, namun tampak batas daya tampungnya telah mulai tercapai, Sementara pulau Nias, ombak untuk surfers konon membuat penggemarnya bisa mabuk lantaran indah dan hebatnya, saat ini sudah sangat “kondusif” untuk “diakselerasi” dengan kenyataan lebih satu operator penerbangan telah membuka koneksi berjadwal dari Medan dan dari bandara Sibolga. The trade must follow the ship, di sini berlaku. Siapa yang mau menggalakkan kegiatan bisnis mendatangkan wisman ke sini sekarang?

Kalau perairan laut sekitar pulau Komodo, titik-titik penyelaman bagi divers telah menarik wisman dengan naik Liveaboard, kendati sedikit yang menginap di akomodasi yang tersedia di darat di kota Labuan Bajo. Seperti beberapa kali telah diungkapkan, nama Komodo merupakan magnit yang kuat menarik minat wisman, namun di daratannya sekitar Labuan Bajo tak tersedia shore excursion yang menarik bagi penumpang kapal wisata. Jika berwisata di daratan Labuan Bajo, maka pilihannya lain lagi, yakni berwisata darat menjelajahi Flores ke arah timur, menaik ke danau Kelimutu, ke pantai Endeh, atau hingga ke ujung timur di Larantuka, Lembata, Alor.

Jadi, ODTW di Sabang, Lampung, Labuan Bajo, Bunaken, Lembeh, Nias, tampaklah merupakan “destinasi” yang memerlukan upaya meningkatkan pemasarannya melalui optimalisasi penggunaan media internet, website, promosi sebaran email, media sosial, semuanya dalam bahasa Inggris tentunya.

Adalah pelaku bisnis di Labuan Bajo yang bersemangat sekali menceritakan tur darat yang diakuinya sebagai “pasti menarik bagi wisman”. Yaitu tur memasuki desa dan wilayah penduduk di mana budaya asli hidup dengan masyarakat yang tentram. Sudah ada wisman yang menikmatinya. Tetapi ketika dia diminta untuk menuliskannya, kalau perlu dengan gambar foto, untuk memenuhi permintaan “calon wisman dari Jerman”, sayangnya, dia hanya bisa menuliskan itinerary di sms. Padahal kalau dengan email, setidaknya secara visual calon wisman dari Jerman itu bisa lebih cepat dan tepat mempertimbangkan, berdasarkan foto-foto yang bisa di attach di email. Apalagi jika dalam formay website. Dia tak punya dan rupanya belum mau bermain di internet dengan email. Dia sebenarnya berprofesi guide yang memandu turis grup kecil adakalanya grup besar.***