Sapta Nirwandar naik beca di kota Balige, di tepian Danau Toba, ketika menuju ke tempat kegiatan Festival Danau Toba. Pada 17 September 2014 upacara Peresmian pembukaan festival dilaksanakan di lokasi Museum Batak, kawasan TB Silalahi Center, setelah usai pembukaan itu sang Wamen Parekraf Sapta berangkat menuju lokasi acara kegiatan lomba dan pameran di lapangan Sisingamangaraja di tengah kota Balige. Sekitar 20 menit perjalanan, dijepret oleh Henri ketika Sapta melongok keramaian masyarakat di depan jalan yang hendak dilalui.
Beberapa pejabat daerah saat itu mengiringi dengan beca juga. Beca di Sumatra umumnya bermotor, bukan dikayuh atau di dayung alias beca sepeda. Maka disebut beca motor. Kalau di Aceh disebut ringkas “Bentor”.
Pada festival Danau Toba 2014 ini, berlangsung 17-21September, diadakan lomba beca hias.
“Beca motor” di Sumatra Utara terutama di kota Medan, boleh dikatakan merupakan “bahan baku” ibarat raw material di industri pariwisata. Ketika ia diolah alias dikemas dibakukan masuk ke dalam bagian aktifitas di itinerary tur di destinasi, boleh jadi menarik hati untuk pengalaman unik bagi wisman, dan juga bagi wisnus. Siapa yang mau mengorganisirnya dan mengembangkannya?
Ini Festival Danau Toba yang kedua setelah pertama kali diinisiasi oleh Kemenparekraf bersama Pemda Provinsi Sumatra Utara serta kabupaten-kabupaten dan kota di sekeliling kawasan Danau luas dan cantik itu. Tahun lalu tuan rumahnya Kabupaten Pulau Samosir, tahun ini Kabupaten Toba Samosir. Yang kedua ini mulai diikuti kabupaten yang lebih jauh letaknya yaitu Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah dan dari Tanjung Balai.***