Pada kegiatan talk show satu jam di tengah Pameran Halal Food di JCC Jakarta, 20 Desember 2014, DR. Sapta Nirwandar tampil dan memberi semangat tentang bagaimana wisata syariah, atau wisata halal, atau halal travel, sangatlah berpotensi bagi pengembangannya di Indonesia. Semasa menjabat di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (terakhir selaku Wamen), Sapta tiada henti-hentinya melakukan langkah-langkah, kebijakan dan kegiatan untuk mensosialisasikan dan mendorong pengembangan wisata syariah alias wisata halal. Maka didorongnya pula penyelenggaaan semacam Indonesia Halal Business and Food Expo (IHBFE) di Jakarta pada medio Desember 2014 ini.

Dr Sapta Nirwandar (kanan) dimoderatori oleh Rifda Ammarina pada talk show tentang halal tourism dan halal food di Jakarta pada 20-12-2014.(Foto:Ist).

Dr Sapta Nirwandar (kanan) dimoderatori oleh Rifda Ammarina pada talk show tentang halal tourism dan halal food di Jakarta pada 20-12-2014.(Foto:Ist).

Dimoderatori oleh Rifda Ammarina, Ketua Penyelenggara Expo tersebut, Sapta Nirwandar menguraikan perkembangan mutakhr berkaitan wisata halal di dunia, termasuk perkembangan pada aspek halal travel, halal food, halal cosmetics, halal wellness and spa, dan seterusnya.

Tapi ihwal konsep dan upaya mengembangkan wisata syariah atau moslem tourism di dunia dan Indonesia, sepanjang yang kita ikuti selama ini, Sapta Nirwandar pernah mengemukakan fakta-fakta dan gagasan dengan pandangan-pandangan seperti dicatat di bawah ini.

Adalah menarik perhatian dan amat penting, kenyataan bahwa nilai-nilai dan konsep wisata syariah atau Muslim Tourism atau Halal Travel, terkandung di dalam kode etik pariwisata dunia, dan khususnya lagi bagi Indonesia, termasuk di dalam konsep tentang kepariwisataan Indonesia.

Di situ terkandung konsep dasar bahwa manusia dan segala sesuatu di alam ini  adalah rahmat untuk alam itu sendiri (Rahmatan lil‘alamiin..) sebagaimana terurai di dalam Undang-undang no. 10/2009 tentang Kepariwisataan Indonesia.

Pada skala global, faktor-faktor penggerak utama wisata syariah juga memberikan harapan yang mendasar, yaitu :

• 1,6 miliar penduduk dunia adalah masyarakat muslim, atau 23% dari penduduk dunia, yang pertumbuhan rata-ratanya 1,5% sedangkan pertumbuhan dunia  0,7% tiap tahun.

• Ekonomi muslim tahun 2012 dicatat total bernilai US $ 8 triliun, bandingkan dengan  ekonomi China US $ 8,5 triliun. Negara OKI secara keseluruhan  menguasai 60% sumber daya alam dunia, dengan tingkat pertumbuhan PDB yang tinggi, rata-rata 6,3%  bandingkan dengan rata-rata 5,3% pertumbuhan dunia.

Perhatian pun diarahkan terhadap tren kemasyarakatan Muslim dunia, antara lain :

  • Bergeser dari tradisionalis Muslim ke Muslim Futurist.
  • Demografis berusia muda dengan beberapa karakteristik:

– Bertumbuh dalam kemakmuran, tapi tetap berakar kuat dalam nilai-nilai yang dianut dan dikembangkan.

– Masyarakatnya bergerak dengan perubahan dan kemajuan. Memiliki resistensi yang sangat rendah untuk perubahan, selama sesuai dengan nilai-nilainya.

– Industri medianya ramah dan menghargai setiap aspek “Edutaintment”.

Potensi Industri Pariwisata Islamic Global dan Domestik dengan Dampak-dampak Ekonomi.

Pariwisata bagaimanapun menjadi semakin penting di dunia. Menghasilkan : 9% GDP dunia; 1 dari 11 pekerja di dunia terkait langsung dan tak langsung dengan pariwisata; Sebagai ekspor, nilai devisanya US $ 1,3 trilliun atau 6% dari total ekspor dunia; 1.035 juta wisatawan international  bepergian di dunia tahun 2012, membelanjakan US$ 1.075 miliar .

Di antara nilai total itu, wisatawan Muslim sedunia membelanjakan US$137  miiar (12,5% dari omzet global), dan itu  pun telah diproyeksikan  akan meningkat signifikan menjadi US$ 181 miliar pada tahun 2018.  Berarti pertumbuhannya 32% atau rata-rata pertumbuhan 5.3% per tahun.

Perhatikan pula bahwa itu tidak termasuk perjalanan umrah-haji. Jadi, merupakan pertumbuhan tercepat di dunia.

Sementara itu industri pariwisata Indonesia telah mencapai jumlah kunjungan wisman tertinggi 8,8 juta di tahun 2012, dengan pertumbuhan sekitar 9 %, kendati yang ditargetkan untuk tahun tersebut 8,6 juta wisman. Pertumbuhan wisata inbound dunia tahun itu 5%. Juga tertinggi dalam sejarah sampai tahun itu nilai devisa mencapai US$ 10 miliar.

Wisata domestik di Indonesia termasuk tertinggi di dunia. Tentu kondisi objektif yang mendukungnya adalah dari jumlah penduduk yang besar dan negeri yang luas, pertumbuhan ekonomi dan kelas menengah, disertai promosi yang konsisten dijalankan oleh pemerintah dan masyarakat. Tahun 2013 telah tercapai 248 juta perjalanan wisatawan nusantara dari hasil pertumbuhan 1,1 %.  Memang masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, baik sebagai pasar maupun sebagai destinasi, sekalipun di lain sisi sebenarnya mengindikasikan terbuka peluang perluasan wisnus ke daerah-daerah di luar Pulau Jawa pada tahun-tahun yang akan datang.

Dengan memperbandingkan potensi global wisata syariah dengan potensi wisata syariah yang ada di Indonesia,  kuat sekali indikasi  bahwa Indonesia di satu sisi akan bertumbuh dan bekembang terus sebagai pasar, namun potensinya sebagai  destinasi telah mulai membuka harapan besar untuk menjadi salah satu destinasi utama wisata syariah dunia.

Indonesia berada pada posisi bagaimana strategi selanjutnya untuk mempercepat pertumbuhan, perluasan dan peningkatan jumlah wisman syariah agar berkunjung ke Indonesia.

Produk wisata syariah Indonesia pun mempunyai sifat dan etika untuk Pariwisata Berkelanjutan dan untuk Mengentaskan Kemiskinan. Indikasinya antara lain:

• Sekolah-sekolah santri bertambah maka terbuka kemungkinan orang-orang muda dari pesantren tradisional pun berpotensi sebagai pelaku dan pemandu wisata syariah.

• Majunya usaha kecil dari masyarakat setempat yang menciptakan pengalaman moslem lifestyle lokal dengan masing-masing keunikan seperti contohnya Kampung Naga di Neglasari Village, Tasikmalaya, Jawa Barat.

• Mendorong usaha kecil dari masyarakat setempat yang menjual barang dan jasa guna memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk moslem traveler, seperti fashion dan kain untuk moslemmen dan wanita, perlengapan shalat, tasbih, dll

Mendorong usaha kecil dari masyarakat setempat, untuk memasok barang dan jasa untuk perusahaan pariwisata dengan mempekerjakan dhuafa, seperti buah-buahan, sayuran, rempah-rempah, dll untuk restoran dan hotel.

• Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mendorong hotel untuk mengadopsi usaha kecil sebagai pemasok atau mitra dalam Corporate Social Responsibilities Program.

Pemberian sukarela dan dukungan oleh wisatawan atau perusahaan pariwisata, seperti Ribuan Qurban Tourism dari Singapura ke Batam, Pariwisata Spiritual dan Pariwisata Charity dipimpin oleh Ulama Islam terkenal di Indonesia pun telah membuktikan potensi-potensi yang sedemikian banyak, dan, khas Indonesia.

• Investasi dalam infrastruktur seperti perbaikan di sekitar Sekolah pesantren, makam Ulama Islam dan situs Warisan Islam, serta perbaikan infrastruktur di tujuan wisata populer dengan peningkatan fasilitas musholla, drainase dan sanitasi, kebersihan dan tempat istirahat.

Dengan demikian, jika Indonesia menemukenali tantangan-tantangan yang dihadapi dan melakukan capacity building secara terprogram untuk pengembangan wisata syariah, dampaknya positif pada sisi ekonomi dan sosial kemasyarakatan.

Pembangunan modal manusia, kepemimpinan dan pengawasan, pemanfaatan teknologi, merupakan aspek-aspek yang kini diperlukan pengembangannya di wisata syariah. Pariwisata sendiri mempunyai karakter labor intensive.

Teknologi : Memanfaatkan teknologi yang tersedia untuk inovasi dan pengembangan produk dan jasa Pariwisata Islam serta penggunaan internet, media sosial dan revolusi mobile untuk mencapai pelanggan 1,2 miliar muslim cellular.

Kepemimpinan / Pengawasan : Kepemimpinan berkelanjutan dan pengawasan yang diperlukan untuk memastikan bahwa kemajuan sedang dibuat sesuai dengan Road Map..

Prinsip-prinsip pembangunan pariwisata Indonesia akan menjadi kenyataan, yaitu :

• Untuk menegakkan norma-norma agama dan budaya sebagai implementasi hidup dalam hubungan harmonis dengan Tuhan, masyarakat dan lingkungan

• Untuk menegakkan hak asasi manusia, keragaman, dan kearifan lokal;

• Agar bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial

• Untuk menjaga kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup;

• Untuk memberdayakan masyarakat lokal

• Untuk mematuhi Kode Etik Global Pariwisata

• Untuk memperkuat kesatuan Republik Indonesia

Itu juga dengan sendirinya akan merealisasikan dan memperkuat “4” pilar pembangunan Pariwisata Indonesia, yakni meliputi destinasi pariwisata Indonesia, pemasaran pariwisata, industri pariwisata dan lembaga pariwisata.

Fokus strategi untuk Industri Pariwisata Syariah Indonesia adalah untuk memperkuat daya saing melalui Peningkatan Kapasitas dan Implementasi Standardisasi Industri Pariwisata.

Jadi, konsep Pariwisata Syariah INDONESIA adalah :

• Tidak terbatas pada wisata religi, tetapi meluas ke segala bentuk pariwisata kecuali yang bertentangan nilai-nilai Islam.

• Sebuah dimensi etika baru di bidang pariwisata. Ini adalah singkatan dari nilai-nilai umum yang diterima sebagai standar tinggi moralitas dan kesusilaan. Praktiknya juga menghormati kepercayaan dan tradisi lokal, serta peduli lingkungan. Ini merupakan pandangan baru tentang kehidupan dan masyarakat.

• Wisata Syariah harus bersifat universal, inklusif dan modern.

Untuk itu perlu disusun suatu Road Map menuju pada pelaksanaannya.***