TTI teluk tomini feature Serasa tiada minggu tanpa event kini di negeri ini. Festival Boalemo dimulai 10 September kemarin. Termasuk dalam rangkaian Sail Tomini 2015. Jenis event terkait pariwsata memang macam-macam, mulai dari festival budaya, event olahraga, pentas kesenian, pameran hobi, eksibisi otomotif, dan masih banyak lagi. Selain bertujuan mencapai segmentasi “konsumen” masing-masing, berfungsi meningkatkan pariwisata suatu daerah. Telah terbukti bahwa event dan festival dapat menjadi momentum bagi suatu daerah untuk mempercantik diri, meningkatkan sarana dan prasarana pariwisata, serta mengoptimalkan potensi pariwisata. Di tingkat global, Piala Dunia sepak bola dan Olimpiade sering menjadi acuan bagaimana sebuah event bisa mendongkrak pariwisata, tidak hanya dalam hal jumlah kunjungan tapi juga perbaikan infrastruktur pariwisata.

Bagi daearah  Boalemo dan Gorontalo, Sail Tomini itu sebagai festival dinyatakan momentum yang tepat untuk memamerkan potensi wisatanya yang selama ini kurang dikenal, ujar Kepala Dinas Pariwisata Boalemo, Kusnan Sudrajat, seperti dikutip Tribun.

Donald Getz, profesor event and tourism studies asal Kanada, mengemukakan bahwa suatu destinasi mengadakan event dan festival untuk banyak tujuan, seperti menarik minat turis (terutama saat off-peak seasons), mengembangkan citra positif suatu destinasi, mengenalkan atraksi atau area wisata yang spesifik, berkontribusi pada kehidupan sosio-kultural masyarakat lokal, dan sebagai katalis pengembangan pariwisata.

Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) tahun 2012, membicarakan dampak positif program Sail Indonesia bagi daerah penyelenggara. Ada empat poin yang dicatat. Pertama, daerah mengalami pembanungan sarana dan prasarana. Kedua, berbagai kementerian bersatu dan memberi stimulus pembangunan untuk suatu daerah di satu tahun APBN tertentu. Ketiga, terjadi peningkatan arus penumpang, barang, dan wisatawan setelah event selesai sehingga meningkatkan perekonomian. Keempat, menjadikan ikon daerah mendunia.

Ketua Bappeda Sulteng, Patta Tope, memprediksi bahwa Sail Tomini 2015 akan berkontribusi besar bagi ekonomi Sulteng, tidak hanya pada tahun ini tapi juga tahun-tahun mendatang. “Kalau Sail Tomini sukses meningkatkan kunjungan wisatawan, maka ekonomi pasti bergerak naik sebab sektor jasa dan ekonomi kreatif pasti akan terangkat pula,” kata dia.

Saat event berlangsung, dampak ekonomi memang sangat terasa. Data Sail Bunaken 2009 memperkirakan rata-rata peserta rally kapal yacht membelanjakan 30-50 dolar AS per hari. Alhasil, warga di sekitar Bunaken saat itu bisa meraup perputaran uang hingga Rp 1,7 miliar sepanjang event. Sedangkan, data Sail Raja Ampat 2015 mencatat penghasilan tukang ojek di Waisai selama berlangsungnya event bisa mencapai Rp 1,3 juta per hari.

Kendati demikian, seminar Apkasi juga mengingatkan pemerintah daerah untuk melakukan follow up setelah event berakhir. Tujuannya agar momentum perbaikan pariwisata dan ekonomi dapat terjaga hingga bertahun-tahun kemudian. Pemda penyelenggara Sail Indonesia dinilai kurang jeli memanfaatkan peluang untuk menjadikan daerah sebagai destinasi wisata dunia. Tidak ada event berkelanjutan untuk menarik minat wisatawan mancanegara setiap tahunnya sehingga program terputus begitu saja. Semoga Gorontalo dan Sulteng tidak demikian.

Intinya: penyelenggaraan event terkait pariwisata, sesungguhnya mensyaratkan tiga pemanfaatan: sebelum atau menjelang event, saat berlangsung event-nya, dan bulan-bulan setelah event selesai. Pre-in-and post event management.***(Pitor Pakan)