Aceh sabet 3 kategori terbaik dalam Kompetisi Pariwisata Halal Nasional (KPHN) 2016.(Foto:Ist.)

Aceh sabet 3 kategori terbaik dalam Kompetisi Pariwisata Halal Nasional (KPHN) 2016.(Foto:Ist.)

Provinsi Aceh, sejak bangkit dari peristiwa tsunami 2004 lalu, telah memanfaatkan jaringan internet dan TIK. Salah satu hasilnya, destinasi ini memenangkan tiga kategori dalam Kompetisi Pariwisasta Halal Nasional 2016, dan kini bersiap memasuki kompetisi pariwisata halal dunia. Kemenangan di tingkat nasional tentu akan semakin menambah semangat gerilya mempromosikan pariwisata Aceh melalui dunia maya.

Wisatawan muslim dunia bisa langsung datang ke Aceh melalui KLIA. Kuala Lumpur, Malaysia jadi hub terdekat, menghubungkan Aceh dengan rute-rute internasional yang lebih luas. Seperti disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata Aceh Reza Pahlevi pada pertengahan bulan Mei lalu di hadapan sejumlah agen perjalanan dari Malaysia, masih ada 30.000 seat di rute Aceh dan Malaysia yang masih bisa dimanfaatkan.

Pariwisata halal Aceh menyasar wisatawan muslim dari Malaysia, Thailand dan Singapura. Sasaran berikutnya adalah Brunei Darussalam dan negara-negara Timur Tengah. Kemudian wisman non-muslim terutama wisatawan minat khusus yang hendak menyelam di Pulau Weh atau melakukan kegiatan ekowisata lainnya.

Mesjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh.(Foto:YD)

Mesjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh.(Foto:YD)

Dalam rangka meraih mereka, Rahmadhani, Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, mengatakan, Aceh akan terus melakukan promosi melalui pendekatan yang mengkombinasikan POSE dan media sosial. Kombinasi tersebut dimanfaatkan untuk menyiarkan merek pariwisata Aceh “The Light of Aceh” atau “Cahaya Aceh”.

Pemasaran digital dan media sosial telah dimanfaatkan untuk memperkenalkan dan mendistribusikan informasi mengenai destinasi Aceh: situs resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh yakni www.disbudpar.aceh.go.id; dan www.acehtourism.travel; akun resmi Facebook di laman Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh; akun resmi Instagram @disbudpar_aceh dan @acehtourism.travel; akun resmi Twitter @aceh_disbudpar; akun resmi YouTube di kanal disbudpar aceh; dan di Google+ dengan akun disbudpar aceh.

Pengikut (follower) di akun Instagramnya total sekitar 7.000 dan di akun Twitter sekitar 5.000. Pada masing-masing media sosial itu pengikut yang aktif dengan berkomentar, memberikan “Like”, dan me-retweet sekitar setengah dari jumlah total pengikutnya.

“Di Aceh ada komunitas blogger, Aceh Blogger Community (ABC). Disbudpar Aceh bekerja sama dengan ABC dan mengajak mempromosikan pariwisata di Aceh melalui internet,” ujar Rahmadhani.

Selain itu, dalam strategi BAS-nya, menyelenggarakan berbagai even bertaraf internasional di Aceh, juga hadir di beberapa pameran di dalam dan luar negeri.

Target utamanya wisman dari Malaysia, Thailand dan Singapura yang telah menjadi pasar wisman Aceh sejak lama. Pemda akan memaksimalkan pasar wisatawan muslim di ASEAN dulu. Sekarang pelaku industri pariwisata di sana mulai bergerak berpromosi ke Brunei.

“Ini bukan berarti kami tidak mau menyasar pasar lainnya. Tentu kami juga ingin mendatangkan wisman dari negara-negara Timur Tengah. Kami pun tidak boleh melupakan wisatawan non-muslim loh. Kami akan terus berupaya melakukan berbagai strategi pemasaran yang baik, mengimprovisasikan sarana dan pelayanan yang dimiliki, dimana semua itu harus berjalan sinergi, termasuk, meningkatkan kualitas SDM industri pariwisata melalui pelatihan-pelatihan dan sertifikasi. Seiring dengan kemajuan pariwisata di sini, Aceh juga mau dong mendatangkan wisatawan kelas menengah atas,” katanya seraya memberi penjelasan tambahan.

Dalam Kompetisi Pariwisata Halal Nasional 2016, Aceh dinyatakan yang terbaik sebagai Destinasi Budaya Ramah Wisatawan Muslim, punya Bandara Ramah Muslim Terbaik di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, dan Daya Tarik Ramah Muslim Terbaik di Mesjid Raya Baiturrahman. Dengan kemenangan ini Aceh akan didaftarkan dalam kompetisi pariwisata halal dunia yang pemenangnya akan diumumkan jelang akhir tahun ini. *** (Yun Damayanti)