Bupati Banyuwangi Muhammad Azwar Anas  (kanan) datang ke Jakarta lalu bersama Wamen Parekraf Sapta Nirwandar (tengah) dan Dirjen Pemasaran Pariwisata Esthy Reko Astuty (kiri) selalu memberikan penjelasan pada pers beberapa waktu sebelum even pariwisata di daerahnya diluncurkan. (Foto: AH)

Bupati Banyuwangi Muhammad Azwar Anas (kanan) datang ke Jakarta lalu bersama Wamen Parekraf Sapta Nirwandar (tengah) dan Dirjen Pemasaran Pariwisata Esthy Reko Astuty (kiri) selalu memberikan penjelasan pada pers beberapa waktu sebelum even pariwisata di daerahnya diluncurkan. (Foto: AH)

Setiap gubernur, terlebih lagi bupati atau walikota, pada masa kini perlu realistis memandang potensi dan realitas bagi kemungkinan pembangunan dan pengembangan pariwisata di kawasan masing-masing. Kalau pun dianggap mempunyai potensi, maka kacamata realistis terhadap situasi dan kondisi yang ada, perlu diperhitungkan apakah sungguh telah waktunya, misalnya, mengalokasikan dana dan daya, yang berujung pada upaya dan kegiatan. Upaya dan kegiatan itu diperhtungkan akan nyata memberikan hasil yang dapat disaksikan dan dialami oleh masyarakat, dengan pengelolaan daerah dan kendati dengan tahapan-tahapan.

Pada kekinian, perkembangan di kabupaten Banyuwangi tampak menarik diikuti. Karenanya sebuah laporan di koran Kompas, beberapa hari yang lalu, sengaja dan baik kita kutip kembali dan disimak. Peran dan inisiatif di daerah kini diperlukan oleh kepariwisataan. Begini beritanya :

Bupati Banyuwangi Muhammad Azwar Anas meyakini bahwa ragam wisata ekoturisme memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan dengan wisata yang memberi peluang pergaulan bebas. Pilihan yang ditempuh Kabupaten Banyuwangi mengembangkan ekowisata, berupa selancar, pasir, pesona pantai, matahari terbit, dan keanekaragaman hayati taman nasional kepada wisatawan mencanegara tanpa memberi peluang pergaulan bebas, bisa menggerakan ekonomi pariwisata Banyuwangi.

Azwar Anas menjelaskan itu pada acara seminar Profil Pemimpin di Universitas Brawijaya Malang, Sabtu (7/6). Seminar dihadiri pula Rektor Universitas Brawijaya Prof. Dr. Muhammad Bisri. Dia mengemukakan sejumlah kemajuan yang didapat daerah dan masyarakatnya, dengan mengembangkan pendekatan manajemen yang lebih baru.

“Saya memutuskan menjual ekoturisme karena memang modal ekoturisme yang terutama dimiliki. Di Banyuwangi ada Gunung Ijen dan taman nasional, selain pulau-pulau serta pantai yang sangat banyak,” katanya.

Azwar Anas menjelaskan, dia melakukan berbagai perubahan manajemen mendasar dan memperkuat kekompakan birokrasi dengan cara tidak melakukan mutasi dulu sampai delapan bulan pertama masa pemerintahan. Selain itu, mendorong promosi wisata dan investasi dengan membuat tag line “Banyuwangi, Sunrise of Jawa.”

Berbagai perbaikan peluang investasi, membuat Banyuwangi mengubah capaian kinerja pemerintahan, diantaranya  pendapatan per kapita didongkrak dari semula peringkat 30 se-Jawa Timur, kini menjadi  peringkat ketiga.

“Kami memperbaiki infrastruktur dengan mengutamakan pembuatan jalan. Setiap tahun melakukan hotmix hingga 300 kilometer, lalu memperbaiki 600 irigasi. Di sektor wisata mendorong investasi, melarang pendirian mal, mendorong pendirian hotel dengan minimal bintang tiga, serta merealisasikan pembukaan jalur penerbangan kini hingga dua penerbangan sehari,” katanya.

Banyuwangi memperbaiki sektor pendidikan dengan membuka sekolah penerbangan serta sekolah politeknik milik Pemkab Banyuwangi.

Rektor Universitas Brawijjaya Prof. Dr. Muhammad Bisri menyatakan, capaian yang dialami Banyuwangi dalam bentuk perubahan manajemen pemerintahan yang menghasilka perubahan ekonomi masyarakat, jelas dihasilkan oleh kualitas kepemimpinan.

“Hal inilah yang sebenarnya diharapkan masyarakat di tiap daerah. Banyuwangi dulu dan sekarang sebenarnya masih merupakan obyek yang sama, tetapi dengan sentuhan pemikiran melalui pemimpin yang bertindak tepat, seketika kehidupan bisa berubah. Ini dialami tidak saja oleh Banyuwangi, tetapi juga oleh Kota Solo dan Kota Surabaya serta sejumlah kota lain di Indonesia,” katanya.

Bisri menambahkan “Model kepemimpinan seperti ini yang mesti dikaji dan dijadikan pola untuk pendidikan di perguruan tinggi.” (Kompas, 9/6/2014)