(Foto:Humas Kemenpar)

(Foto:Humas Kemenpar)

Kementerian Pariwisata baru saja usai menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kepariwisataan ke-2 selama dua hari pada 28-29 April 2016 di Jakarta Convention Center. Rakornas itu sebagai upaya meningkatkan sinergi antara pusat dan daerah. Tujuannya, mempercepat pembangunan kepariwisataan nasional guna mewujudkan pencapain  target  pariwisata  2016  hingga  2019. Rakornas dibuka, sekaligus sebagai pembicara utama, Menteri Pariwisata Arief Yahya.

Pada kesempatan itu Menpar menegaskan kembali kunci keberhasilan pembangunan pariwisata nasional tidak lepas dari peran serta semua pemangku kepentingan yakni pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, media dan praktisi maupun komunitas pariwisata (Penta Helix).

Di dalam Travel and Tourism Index Competitives Index 2015 yang dirilis oleh World Economic Forum (WEF), pariwisata Indonesia mengalami kenaikan pada 3 pilar: business environment naik 30 tingkat berada di peringkat 63 dunia, international openness naik 59 tingkat berada di peringkat 55, dan air transport infrastructure naik 15 tingkat berada di peringkat 39 dunia.

Pemerintah telah menetapkan 14 program prioritas nasional pada tahun 2017. Tiga program prioritas nasional teratas adalah Antar Kelompok Pendapatan, Pembangunan Pariwisata, dan Pembangunan Perkotaan.

“Dengan ditetapkannya pariwisata sebagai program prioritas nasional, alokasi anggaran pariwisata 2017 akan meningkat. Kita mengusulkan, dalam pagu indikatif RKP 2017 sebesar Rp 7,9 triliun atau naik 46,3% dari tahun lalu sebesar Rp 5,4 triliun,” ujar Arief Yahya (siaran pers Humas Kemenpar, 28/4).

Rakornas khusus membahas percepatan pembangunan di 10 destinasi prioritas.(Foto:Humas Kemenpar)

Rakornas khusus membahas percepatan pembangunan di 10 destinasi prioritas.(Foto:Humas Kemenpar)

10 destinasi prioritas = 10 destinasi branding

Pemerintah daerah di 10 destinasi prioritas diharapkan secara serius dan konkret mendukung dan melaksanakan upaya-upaya percepatan pembangunan pariwisata di daerahnya. Pemerintah sejak lama menetapkan Danau Toba, Sumatera Utara; Tanjung Kelayang, Babel; Tanjung Lesung, Banten; Kepulauan Seribu, Jakarta; Borobudur, Jawa Tengah; Bromo-Tengger-Semeru, Jawa Timur; Mandalika, NTB; Labuan Bajo, NTT; Wakatobi, Sulawesi Tenggara; dan Morotai, Maluku Utara jadi 10 destinasi prioritas yang akan dipercepat pengembangannya untuk mendukung Bali sebagai hub utama pariwisata di tanah air.

Faktor kritis dalam mempercepat pembangunan pariwisata di kesepuluh destinasi tersebut adalah pengelolaan destinasi terintegrasi dengan menggunakan metode single destination, single management. Wujud pengelolaan terpadu itu berupa Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Badan Otoritas Pariwisata (BOP). Pemerintah telah menetapkan empat KEK di Tanjung Lesung, Mandalika, Tanjung Kelayang, dan Morotai dengan Peraturan Pemerintah. Sedangkan BOP akan dibentuk melalui payung hukum Peraturan Presiden. BOP yang telah terbentuk di Danau Toba dan Borobudur.

Untuk mempromosikan kesepuluh destinasi prioritas tersebut akan dirancang destination branding dan komunikasi pemasaran terintegrasi dengan tetap mengacu pada strategi pemasaran pariwisata nasional, yaitu DOT (Destination, Origin, Time), BAS (Branding, Advertising, Selling), dan POS+E (Paid media, Owned media, Social Media dan Endorser)

Rencana destination branding dan komunikasi pemasaran terintegrasi itu akan menggunakan sistem kluster, Great Kepri termasuk Medan; Great Jakarta termasuk Bandung dan kawasan segitiga Joglosemar (Jogja-Solo-Semarang); Great Bali termasuk Banyuwangi, Lombok, Makassar, Bunaken, Wakatobi dan Raja Ampat.

Seikat bayam atau semangkuk sayur bayam?

Seikat daun bayam berpotensi menjadi semangkuk sayur bayam bening, atau sepiring tumis bayam, atau campuran di dalam pecel dan urap, atau setoples rempeyek. Untuk sampai menjadi masakan yang siap disantap, seikat bayam itu mesti dibersihkan dulu, disiapakan peralatan memasaknya, dibumbui sampai disiapkan penyajiannya agar menggugah selera. Proses membuatnya bisa cepat bisa lambat, tergantung bagaimana kita mengolahnya.

Sama seperti gunung, danau, sungai, pantai, laut dan bangunan-bangunan buatan manusia yang monumental dan bersejarah. Mereka itu bagai seikat daun bayam. Agar semua itu menggugah minat wisatawan mau berkunjung membutuhkan sebuah proses, bisa lama bisa sebentar tergantung bagaimana kita mengelolanya.

Bahkan sayur bayampun punya kesepakatan bumbu pokok. Terhadap kekayaan alam dan peninggalan sejarah, sudah sepakatkah para pemangku kepentingan di daerah-daerah itu mau dimanfaatkan untuk apa? Meskipun bumbu pokoknya sama, rasa sayur bayampun dapat berbeda-beda. Misal sudah sepakat potensi itu akan dimanfaatkan untuk pariwisata, lalu cerita apa, aktivitas yang bagaimana, kekhususan apa yang hendak ditawarkan kepada wisatawan?

Selama ini, daerah-daerah di luar Bali (dan mungkin sekarang Jogja) menawarkan seikat daun bayam dan bukan semangkuk sayur bayam kepada wisatawan. Seikat daun bayam lebih baik ditawarkan kepada juru masak yang tahu bagaimana mengolahnya jadi masakan lezat. Semangkuk sayur bayam sudah pasti bisa langsung dijual kepada konsumen yang siap menyantapnya. Dalam industri pariwisata, turis ialah konsumen akhir yang tahu beres. Karena kita masih fokus pada volume jumlah kunjungan, apa yang mau Anda tawarkan, seikat daun bayam atau semangkuk sayur bayam? *** (Yun Damayanti, dari berbagai sumber)