Awan hitam menggelayut di atas kota Banyuwangi. Angin bertiup kencang dan menurunkan hujan di pantai Pulau Merah (Red Island) selama dua hari di pertengahan Juli lalu. Dari total 132 set, tak lebih dari 10 set payung pantai dibuka selama dua hari itu. Tidak banyak pengunjung datang pada saat cuaca jelek seperti itu. Payung-payung milik warga sekitar disewakan rata-rata Rp 20 ribu per jam. Satu set payung terdiri dari sebuah payung berwarna merah dengan 2 kursi malas dan sebuah meja. Payung ini diadakan oleh masyarakat agar pengunjung yang datang mau tinggal lebih lama.

Warga lainnya ada yang menjajakan minuman kelapa muda yang dihargai Rp 10 ribu per buah di tepi pantai, yang menjual makanan dan minuman di warung-warung yang tampak bersih dan teratur rapi.

Seorang penjaga pantai (life guard), sudah mempunyai surf license, membuka paket surfing dan penyewaan papan seluncur. Tarif sewa papan Rp 50 ribu dan tarif belajar surfing Rp 250 ribu per 2 jam sudah termasuk sewa papan dan instrukturnya. Tak jauh dari pantai sekitar 10 rumah milik penduduk setempat difungsikan menjadi home stay. Kualitas kebersihan dan kerapihannya tampak terjaga sehingga memberikan kenyamanan bagi tamu. Sudah ada dua cottage berdiri di sini, seorang warga lainnya sedang membangun pondokan dengan memadukan material batu dan keramik dan material alami yang tersedia di desa seperti kayu, bambu dan daun kelapa.

Beberapa homestay ada yang menyewakan papan-papan seluncur.

Pantai wisata Pulau Merah dilindungi pulau-pulau kecil di depannya. Pengunjung yang tidak berminat berselancar maka akan menikmati ombak di sini, bisa menyewa kapal-kapal nelayan dengan biaya rata-rata Rp 800-900 ribu sekali trip.

Pemda Banyuwangi telah membuat aturan investasi akomodasi dan bisnis bisa dilakukan dalam radius minimal 1-2 kilometer dari obyek wisata. Tujuannya agar masyarakat di obyek wisata dapat mengembangkan usahanya dan mampu memberdayakan komunitasnya.

Sudah banyak kisah seperti yang diusahakan di Pulau Merah di berbagai penjuru Nusantara di mana suatu kawasan wisata bisa dikelola oleh masyarakat atau komunitas sesuai dengan kekhasan dan kearifan lokal. Masalahnya, tidak semua komunitas memiliki kepercayaan diri atau cukup pengetahuan untuk mengembangkan kewirausahaan sosial. Yang sudah berjalan cukup baik pun masih memerlukan bimbingan dan pendampingan serta dukungan finansial dan aturan-aturan yang jelas-tegas agar betul-betul mapan.

Kewirausahaan sosial bukan konsep baru. Komunitas di dunia sudah memulainya di segala lini sejak lama. Dalam kewirausahaan sosial yang lebih dipentingkan adalah pemberdayaan berkelanjutan. Komunitas itu harus mempertanggungjawabkan dukungan dan donasi yang diterimanya tanpa perlu terus-menerus dipantau oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan pemerintah. Sektor pariwisata akan menjadi lebih menarik apabila dikemas dengan konsep kewirausahaan sosial yang berkarakter lokal. Pemetaan zonasi usaha oleh masyarakat dan pemodal yang dilakukan Pemda Banyuwangi perlu terus dikembangkan dan disebarluaskan. Ini mendukung mewujudkan mimpi kita bersama untuk mencapai pariwisata berkelanjutan dan pembangunan daerah dan masyarakat yang berkesinambungan.***(Yun Damayanti)