Prancis, Belanda, Jerman, Jawa bercampur aduk di Puncak Ijen; Romantis dan Dramatis Cerita Pengalaman Trekking Ke Sana…

Pengunjung di puncak Gunung Ijen.(Foto:YD)

Pengunjung di puncak Gunung Ijen.(Foto:YD)

Waktu terbaik melihat Si Api Biru, the blue fire, di cekungan kawah Gunung Ijen adalah antara pukul 3 sampai 4 dini hari. Untuk melihatnya, pengunjung harus trekking dahulu sepanjang 3 kilometer menuju puncak Gunung Ijen (2.388 mdpl). Kemudian, menuruni lereng kawah. Si Api Biru berada sekitar 175 meter di bawah puncak. Asap belerang terus mengepul dari permukaan air di dalam kawah dan mengarah ke mana angin bertiup.

Pengunjung kawah Ijen, wisatawan mancanegara dan wisatawan Nusantara, mulai berdatangan sekitar pukul 1.30 dini hari. Bahasa Perancis, Belanda, Jerman dan bahasa-bahasa asing lainnya terdengar bercampur aduk dengan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa Timur ala Banyuwangi. Menjelang pukul 02.00 para pengunjung berdiri di tepi jalur awal trekking. Suasananya mirip peserta marathon yang bersiap-siap di garis start.

Tepat pukul 02.00 trekking sepanjang 3 kilometer ke Ijen dimulai. Laki-laki dan perempuan, tua muda hingga anak-anak serentak memulai trekking. Ada yang berjalan cepat-cepat ada juga yang bersantai-santai. Yang berjalan cepat-cepat rata-rata hendak mengejar momen melihat blue fire. Pada umumnya pengunjung asing, terutama dari Eropa. Sedangkan yang berjalan lebih santai umumnya pengunjung domestik.

Begini jalur trekking di Ijen.Bahkan penambang belerang pun terkadang beristirahat.(Foto:YD)

Begini jalur trekking di Ijen.Bahkan penambang belerang pun terkadang beristirahat.(Foto:YD)

Jalur trekking ke Ijen terus menanjak sejak awal. Nyaris tak menyisakan track mendatar untuk beristirahat. Semakin mendekati puncak, sekitar 2.300 meter di atas permukaan laut (mdpl), udara terasa mulai menipis. Bau belerang semakin menyengat dan menusuk hidung. Di puncak Gunung Ijen papan-papan peringatan ditempatkan. Mengingatkan kepada pengunjung terutama yang mempunyai sakit jantung, asma tidak diperbolehkan untuk turun ke kawah. Banyak juga pengunjung, asing dan domestik, yang tidak kuat dengan bau belerang tetap tinggal di puncak sementara kawan-kawan seperjalanannya yang mampu meneruskan menuruni lereng kawah menuju titik Blue Fire di kedalaman sekitar 175 meter dari puncak.

Bau belerang dari kawah Ijen selain menusuk hidung, uapnya yang tak terlihat itu bisa mengakibatkan rasa seperti leher tercekat, pusing hingga mual/muntah. Meskipun jalur yang dilalui oleh para penambang belerang tradisional semakin mirip anak tangga, di beberapa sisi dipasangkan pegangan dari kayu, jika sudah merasakan simptom seperti tadi sebaiknya tidak memaksakan diri untuk melihat fenomena Api Biru yang muncul dari pipa-pipa yang menyalurkan air dari kawah.

Dari puncak, ratusan lampu senter yang menyoroti jalur di lereng kawah bagaikan kunang-kunang diantara pendaran warna biru di dalam gelapnya malam. Panas tubuh dalam waktu tak lama pun menghilang dan barulah terasa angin malam yang dingin. Hingga warna merah jambu dan jingga mulai menghiasi langit sekitar pukul 05.00. Dan para pengunjung Ijen menunggu matahari pagi muncul pertama kali di Pulau Jawa.

Kawah Ijen,salah satu ikon pariwisata Kabupaten Banyuwangi.(Foto:YD)

Kawah Ijen,salah satu ikon pariwisata Kabupaten Banyuwangi.(Foto:YD)

Ketika posisi matahari semakin tinggi, muncullah wajah kawah Ijen. Kawah yang dibentengi dinding tebing berwarna abu-abu dan putih kekuningan dengan urat-urat berwarna cokelat di sana-sini. Air berwarna hijau toska di danau kawah berdiameter sekitar 2 kilometer dengan kedalaman sekitar 200 meter tampak tenang sekali tak beriak sedikitpun. Jangan coba-coba mencicipi airnya karena kandungan asam (pH)-nya amat tinggi dan tidak layak dikonsumsi manusia.

Dari atas puncak Ijen tampak Gunung Remuk, Gunung Ranti, Gunung Raung hingga Gunung Bromo. Kemudian berbaliklah. Air laut di Selat Bali memantulkan cahaya keemasan. Nun jauh, terhalang tirai kabut tipis merah jambu, terhampar padang rumput di Taman Nasional Baluran dan pantai Bama. Pengunjung Ijen pun cukup betah berlama-lama di sini meskipun relatif tidak ada fasilitas apapun tersedia di atas sana.

Pengunjung yang datang ke Ijen paling banyak dari Banyuwangi atau Kalibaru. Wisman kebanyakan mampir dalam perjalanan menuju Bromo setelah menghabiskan liburan di Bali. Atau ada juga yang melakukan sebaliknya. Pada tahun 2014 lalu, menurut seorang pemandu lokal, tren perjalanan wisman ke Ijen adalah banyak diantara mereka menyeberang dari Bali dan tiba di Banyuwangi pada siang hari. Mereka beristirahat beberapa jam, lalu pada malam harinya trekking ke puncak dan melihat blue fire. Kembali dari Ijen masih cukup waktu mengejar jadwal penyeberangan dari Ketapang ke Gilimanuk. Bagi wisman yang memilih tinggal di Banyuwangi, setelah dari Ijen, perjalanannya berlanjut ke kawasan perkebunan di Kalibaru atau Kaliklatak, atau, ke Taman Nasional Baluran, atau ke Sukamade di Taman Nasional Merubetiri.

Bagi pengujung yang tidak terbiasa trekking atau mendaki, beristirahat cukup dengan kualitas tidur yang baik sebelum berangkat ke Ijen akan membantu mencapai puncaknya. Pada saat trekking, ikuti saja kemampuan ritme langkah kaki sendiri. Berhenti sejenak untuk mengatur nafas dan kembali melanjutkan perjalanan. Setiap gunung tidak pernah bertanya siapa yang paling dulu mencapai puncaknya tapi dia akan selalu mengganjar mereka yang mampu mencapai puncaknya dengan imbalan luar biasa.*** (Yun Damayanti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.