Masyarakat Malaysia biasa menikmati indahnya suasana taman di sekeliling Menara Kembar , Twin Tower di tengah kota Kuala Lumpur.(Foto: AH)

Masyarakat Malaysia biasa menikmati indahnya suasana taman di sekeliling Menara Kembar , Twin Tower di tengah kota Kuala Lumpur.(Foto: AH)

 Dari Malaysia Singapura Turun, Daerah-daerah Perlu “Penyegaran” Produk : Delapan daerah destinasi tampak perlu “mengebut” untuk mengejar ketertinggalannya, yatu Surabaya, Solo, Padang, Lombok, Makassar, Balikpapan, Yogyakarta, Bandung,  itu dilihat dari menurunnya dua dijit jumlah kunjungan wisman melalui bandara masing-masing, selama Januari-Maret 2015, dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Data BPS menunjukkan di Surabaya mengalami penurunan -12,31%, Solo -32,66%, Padang -26,77%, Lombok -17,61%, Makassar -26,08%, Balikpapan -32,40%, Yogya -31,99%,  Bandung -26,34%. Di bandara yang turunnya satu dijit, terjadinya di Jakarta -4,04%, Medan -4,42%.

Menarik perhatian dari data BPS ialah turunnya jumlah wisman selama tiga bulan pertama ini Jan-Mar 2015 dari Singapura dan Malaysia, turun lumayan yaitu dari Singapura  –6,15% dan Malaysia –10,32%.  Bagusnya, dari pasar utama lainnya meningkat lumayan, terlihat lima pasar utama susunannya menjadi begini: TTI PI 65 wisman Januari-Maret 2015 lima pasar utama

Dan pintu masuk utama 3 The Great dewasa ini seperti ini: TTI PI 65 wisman Januari- Maret 2015 pintu masuk 3 the great   Jumlah kunjungan wisman melalui bandara Ngurah Rai Bali tetap meningkat dua dijit, Januari-Maret 2015 naik 12,26%. Batam naik 5,80%. Tapi Jakarta turun -4,04%. Ini merupakan 3 The Great Destinations yang masuk sebagai target utama dalam strategi pemasaran dan promosi pariwisata Indonesia.

Ada pula bandara Sam Ratulangi Manado yang  istimewa naik 65,66% kendati jumlah absolutnya baru mencapai 6.793 orang dibandingkan 4.113 orang, yaitu periode Januari-Maret 2015 terhadap Januari-Maret tahun 2014. Rupanya dalam rangka Imlek, 2.000 turis asal Tiongkok berlibur ke Manado, menggunakan empat pesawat charter dari Guangzhou, Jumat (20/2/2015). Wakil Konsulat Jenderal RI di Guangzhou Eva Situmorang dalam rilisnya mengatakan, mereka mengunjungi sejumlah tempat wisata laut dan gunung serta menikmati kuliner Manado.

Malaysia

Untuk pasar wisman dari Malaysia, ada perkiraan bahwa keadaan ekonomi masyarakatnya tahun ini agak melemah, masyarakat cenderung hemat, pemerintahnya menaikkan pajak (Government Sales Tax) dari 3 menjadi 6%.

Kini cukup repot dirasakan oleh agen perjalanan/operator tur di daerah-daerah, di mana kemungkinan tiga bulan ke depan jumlah wisman dari Malaysia dan Singapura masih cenderung akan turun pada masa menjelang memasuki dan selama bulan Ramadhan dan Syawal yang akan jatuh pada bulan Juni dan Juli.

Jadi, berdasarkan informasi tersebut, pada pasar Malaysia ini agaknya kita tengah menghadapi kondisi obyektif keadaan ekonomi masyarakat yang membuat mereka mengurungkan rencana berwisata ke luar negeri termasuk ke Indonesia.

Medan/Sumatra Utara Dan Daerah Lain

Destinasi Medan dan Sumatera bisa diambil sebagai contoh. Operator tur setempat mengalami penurunan jumlah wisman dari Malaysia selama tiga bulan pertama 2015 ini sekitar 30-40 %. Salah satu agen yang tahun lalu biasanya menerima minimum 10 grup per bulan dan jumlahnya sekitar 500 orang, sehingga setahun ditangani sekitar 6000, mengaku bahwa selama Januari-Maret 2015 per bulannya hanya antara 200-300 orang wisatawan yang dikirimkan oleh agen penjualnya dari Kuala Lumpur dan Penang.

Pihak agen dan konsumen di Malaysia tidak meminta penurunan atau perubahan harga, sebab, menurut mereka, masalahnya adalah memang “daya beli untuk wisata” sedang  menurun.

Tetapi di lain pihak operator di Medan dan Sumatera Utara juga menyatakan,  mereka tak mampu menawarkan produk wisata yang baru, atau kualitas produk yang lebih baik untuk dijual. Hingga sekarang paket wisata yang bisa dijual ke pasar Malaysia hanya paket “tradisional” 3 malam 4 hari, menginap di Parapat, Danau Toba. Di kota Medan dan sekitarnya nyaris tak ada lagi program tur yang “menarik”. Sedangkan perjalanan darat dari Medan ke Danau Toba sekitar lima jam pun semakin tak disenangi wisman, mencerminkan bahwa pada perjalanan antara Medan dan danau Toba mestinya perlu dihidupkan program yang menarik bagi wisatawan.  Ini serupa “berat masalahnya” dengan perjalanan darat Makassar-Toraja yang sekitar 10 jam, sehingga susah “menjual” paket wisata dengan destinasi akhir Toraja ke pasar internasional.

Di tahun-tahun lalu jumlah wisman yang langsung datang ke Medan Sumatera Utara, sebenarnya secara keseluruhan menaik terus. Menurut statistik dari BPS yang dihimpun oleh Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Sumatera Utara, Mukhlis, menunjukkan pertumbuhan yang “steady”. Yaitu, tahun2011 = 223.126, tahun 2012 = 241.833, tahun 2013 = 259.299 dan 2014 = 270.837 orang.

Kunjungan wisman yang ke Toraja dicerminkan juga oleh jumlah wisman yang mendarat langsung di Makassar. Beberapa tahun ini berat sekali tampaknya bagi pelaku operator tur di daerah ini membuat paket wisata “laris” dijual luar negeri. Bandara Makassar pun seperti kurang laku terjual, jumlah penumpang penerbangan dari luar negeri, notabene hanya dari Kuala Lumpur dan Singapura, tak kunjung meningkat. Dikawatirkan operator penerbangan akan mengalami rugi operasional melayani rute itu. Maka Pemda dan pelaku bisnis wisata setempat perlu segera memberi perhatian dan melakukan “aksi”.

Jumlah wisman langsung  melalui bandara Bandung, yang jumlah terbesar asalnya dari Malaysia, tiga bulan Jan-Mar ini juga turun -26,34%.

Bandung pun tampak memerlukan “penyegaran” dalam menawarkan produk wisata ke pasar Malaysia, selain yang biasa selama ini, shopping dan kuliner. Mungkin perlu juga “mempenetrasi” masyarakat Malaysia hingga jauh ke luar dari kota-kota besarnya. Boleh jadi perlu lebih “mendatangi” mereka dengan iklan-iklan yang menjual produk perjalanan wisata Bandung, langsung pada konsumen.

Ketika bulan lalu kita perhatikan jumlah kunjungan wisman dua bulan pertama  Januari-Februari 2015, telah dicatat di sini, sembilan daerah destinasi tampaknya perlu mewaspadai dan “introspeksi”, mengapa jumlah wisman yang berkunjung dengan mendarat langsung dari luar negeri di bandara masing-masing, mengalami penurunan di bulan Januari dan Februari 2015 dibandingkan masing-masing bulan yang sama tahun 2014. Daerah tersebut ialah Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Lombok, Padang, Makassar, Balikpapan dan Solo.

Sekarang peng-ingatan itu terasa berlaku lagi.

Ada juga operator tur di Medan yang percaya, setelah liwat bulan puasa dan bulan syawal, wisatawan umumnya dari Malaysia akan kembali lagi berbondong-bondong ke Indonesia.

China/Jepang/Korea dan 3 The Great

Tiga “flag ship destinasi” yakni Bali, Batam dan Jakarta, demikian pula “tiga di antara lima pasar utama lainnya” yakni China, Korea, Jepang, berdasarkan performance tiga bulan pertama 2015 tadi, tampaknya akan tumbuh relatif tinggi. (Tapi Jakarta memang masih dipertanyakan). Itu bisa mengkompensasi jika dua pasar utama Malaysia dan Singapura “kebetulan” menurun.

Ke China, frekuensi dan kapasitas penerbangan langsung akan bertambah lumayan banyak, baik dengan reguler berjadual maupun penerbangaan charter, dan memang bertujuan umumnya ke Bali. Wisman dari Jepang dan Korea akan keep moving up , di mana airline dan para operator tur di dua negara itu belakangan ini seperti “terangsang” menjual produk wisata Indonesia. Seperti China, Jepang pun kabarnya tertarik ke Manado Sulawesi Utara.

Excersise sederhana bisa mengindikasikan, bahwa performance 3 bulan pertama yang total 2,3 juta wisman, itu saja dikalikan empat akan menghasilkan satu tahun 2015 sebanyak 9,2 juta. Angka empiris pola kedatangan wisman semester pertama dan kedua, selama ini, cenderungnya 45 : 55. Dengan asumsi seminimum itu, setidaknya akan bisa dicapai jumlah 4,6 juta (semester pertama) ditambah 5,5 juta = 10,1 juta wisman. Sebagai dimaklumi, jumlah kunjungan wisman tahun 2015 target rendahnya 10 juta dan target tinggi 12 juta. Dimaklumi pula, beberapa penerbangan rute luar negeri dekat di ASEAN, dan beberapa dari Timur Tengah, sedang dan akan menambah kapasitas atau rute baru ke Indonesia dalam tahun ini. Harus diakui, bahwa dinamika penjualan di pasar yang dilakukan oleh kalangan airlines dan operator tur setempat, merekalah yang akhirnya menentukan apakah penjualan paket wisata ke Indonesia terjual banyak atau sedikit.

Peran Airlines

Pada pertengahan 2015 Garuda Indonesia akan membuka penerbangan reguler nonstop Guangzhou-Denpasar. “Untuk tahap selanjutnya akan dibuka penerbangan serupa Shanghai-Denpasar,” kata Wakil Presiden Garuda Indonesia Wilayah Tiongkok, I Wayan Subagia. Selain itu enam kota di Tiongkok berminat untuk membuka rute penerbangan charter tujuan Bali.

Garuda telah berpengalaman penerbangan charter dari 10 kota di Tiongkok daratan ke Bali selama liburan Imlek 2015. Itu akan dilakukan lagi di liburan musim panas Juni-Agustus ini. Menurut Subagia, penerbangan charter dikaji untuk kemungkinan membuka rute baru bagi penerbangan reguler dari Tiongkok menuju Indonesia. Telah 10 tahun maskapai ini melayani penerbangan reguler Beijing-Jakarta, Shanghai-Jakarta, Guangzhou-Jakarta, dan Beijing-Denpasar. “Tidak menutup kemungkinan kami juga akan melayani penerbangan untuk tujuan lain, seperti Manado atau salah satu kota di Jawa,” ujarnya dikutip media.

Garuda tengah menjajaki layanan penerbangan ke Perancis dan Jerman. “Ekonomi Eropa terakhir ini. pertumbuhannya masih 2%-3%, the biggest gwroth masih Jerman. Perancis masih di bawah Jerman,” kata Arif Wibowo, Dirut Garuda,  di Jakarta. Selain pasar Eropa, Arif menilai pasar Timur Tengah, Jepang dan China cukup potensial.

Tahun 2015 ini Sriwijaya Air menata perencanaan membuka rute regional lain ke Malaysia dan Bangladesh. Menurt Chandra Lie, Dirutnya, tahun 2015 ini akan mendatangkan 13 pesawat Boeing 737-800 NG, tiga diantaranya tiba pada akhir tahun 2014.

Sejak 12 Desember 2014, SilkAir, mengoperasikan penerbangan harian ke Denpasar, maka dengan empat penerbangan harian Singapore Airlines, kedua maskapai mengoperasikan lima penerbangan pulang-pergi setiap harinya.

Qatar airlines juga menambah penerbangan dari TimTeng langsung ke Bali pertengahan 2015 ini.

Ketika demand di pasar terbangkitkan, merujuk srategi pemasaran dan promosi Kemenpar dengan melancarkan kampanye branding dan advertising, — lalu di sisi lain jika supply dari destinasi menawarkan kualitas yang diinginkan oleh pembeli, — maka para “pemain” di pasar sebagai penjual berhadapan langsung pada wisatawan, akan lebih lancar melariskan dagangan mereka. Ya itu, membawa wisman ke Wonderful Indonesia.

Tapi yah, tetap diperlukan pro-aktif menjual ketimbang menunggu pasif, bagi daerah-daerah di luar itu, demi memajukan pariwisata daerah, bukankah begitu?***(Arifin Hutabarat)