Kebudayaan terpisah dari Departemen Pariwisata ?

Penumpang domestik pun menurun

Kebudayaan mungkin dipisah dari Departemen Pariwisata, wacananya sudah meluas. SBY dalam satu tanya jawab di televisi selaku Capres juga mewacanakannya. Sekjen Depbudpar, Wardiyatmo, mengungkapkan bahwa di dunia sebenarnya terdapat 19 negara yang menerapkan Kebudayaan dan Pariwisata di bawah satu kementerian. Sementara itu perubahan landscape pasar pariwisata di dunia semakin jelas, menuntut siapa saja yang bergerak di bidang yang berkaitan pariwisata, segera perlu menyesuaikan diri.

Salah satu pilihan yang disebut dalam wacana adalah menyatukan kembali Kebudayaan ke dalam Depertemen Pendidikan. Kendati demikian, fokus untuk memajukan pariwisata Indonesia tak dapat dielakkan oleh pemerintahan yang sekarang maupun yang akan datang. Selain pada ekonomi makro telah mulai dibuktikan perannya yang sangat “terukur”, kegiatannya secara luas mencakup usaha menengah kecil, lapangan usaha dan lapangan kerja Proporsi dampak hasil sosial ekonomi yang dibawanya, bila dikelola tepat, memberi pariwisata hak bisa disebut sebagai ekonomi kerakyatan.

Perubahan apa lagi yang mungkin terjadi? Airlines Indonesia belum juga ada yang bisa beroperasi ke Eropa. Penerbangan yang membawa bendera Indonesia ke Eropa tetap perlu sebagai “ujung tombak” komunikasi pemasaran dalam memajukan pemasaran pariwisata di sana. Tapi tentu bisa kini diharapkan setidaknya dalam tahun ini larangan terbang ke negeri-negeri Uni Eropa itu akan dicabut. Maka suatu perubahan ke arah yang menguntungkan juga mesti bisa diharapkan, bilamana industri pariwisata Indonesia bersama Garuda Indonesia mempersiapkan langkah-langkah yang up-to-date.

Sementara itu masalah lama kita masih meminta penerapan yang efektif, mengenai peran pemerintah daerah lokal pada kepariwisataan. Tahun 1992 di kota Cape Town Afrika Selatan konperensi dua tahunan International Responsible Tourism Conference mendekalarasikan salah satu butir yang meminta dunia agar berfokus untuk mengefektifkan peran “local authorities dengan tour operators untuk bekerja menerapkan responsible tourism.

Fokus untuk menerapkan responsible tourism dalam rangka sustainable development di bidang pariwisata, memang seringkali diingatkan oleh Sekjen Depbudpar. Termasuk mengingatkan perlunya kita perhatikan isyu climate change, yang juga mempengaruhi pariwisata Indonesia, disamping capacity development dan daya saing. Seperti ecolabel yang kini telah berperan menentukan dalam pemasaran komoditi ekspor, demikianlah peran label responsible tourism, eco tourism, gejalanya akan kian kuat mempengaruhi wisman dalam memilih destinasi.

Krisis ekonomi global jelas membuat hampir setiap negeri ASEAN menurunkan target wisman tahun 2009 ini. Tapi dengan akan diterapkannya open skies di antara ASEAN mulai 2010, diharapkan akan meningkatkan traffic. Sebagai contoh, yang sudah dimanfaatkan oleh Indonesia, adalah penambahan berbagai rute penerbangan dan frekuensi yang dilakukan oleh maskapai Indonesia Air Asia.

Contoh lain, Singapore dan Kuala Lumpur sekarang telah dilayani oleh bukan saja “flag carriers” mereka, juga oleh low cost airlines. Rute baru Singapore ke Kota Kinabalu oleh Jetstar Asia telah menjanjikan pertumbuhan. Apakah para maskapai penerbangan nasional kita akan memanfaatkan keterbukaan udara itu? Bukankah jumlah penumpang domestik pun tahun 2008 telah mulai menurun dibandingkan tahun sebelumnya?

Di Australia, para pejabat pemerintahan dan kalangan industri pariwisata dewasa ini cukup sibuk menyusun konsep, yang dirasa diperlukan oleh kepariwisataannya menghadapi perubahan-perubahan struktural di pasar pariwisata. Kalau tidak, kata seorang pejabat senior pariwisatanya, Australia berisiko kehilangan 3,6 juta wisman, A$ 22 miliar devisa, dan 100 ribu kesempatan kerja, selama periode sekarang sampai tahun 2030.

Wah, jauh sekali jangkauan tahun yang dihitungnya. Tetapi, “Jangan ini sampai terjadi,” kata dia.

Ketelitian dan kejelian terhadap perubahan-perubahan yang sedang melanda pariwisata dunia, diperlukan, tampak juga pada kinerja pertumbuhan negatif jumlah wisman di negara yang sesungguhnya mempunyai aksesibilitas udara yang ramai, selama kuartal pertama 2009 ini: United Kingdom -12%, Amerika Serikat turun lebih dari 10%, Singapore turun lebih dari 13% dan Jepang anjlog 27%.

Perubahan lain perlu diingatkan lagi, betapa travel agents akan kehilangan banyak bisnis lantaran masyarakat telah beralih ke internet untuk mencari hotel, airlines, sampai jasa-jasa dan outlet lain di destinasi.

Bos-nya Badan Pariwisata Selandia Baru, George Hickton, memperingatkan pada industri pariwisatanya seperti dikutip oleh penerbitan TravelToday di Australia,:

People are just not buying it off the racks anymore,” kata dia.

They are going online and searching for the deal. We have to accept and recognise that the landscape is going to change permanently.”

Even if people do take brochures off travel agency shelves they will merely use it as an information tool and book direct, he said.

The first time traveller may need more assistance but more and more people are trusting the web,” he told Travel Today.

Customers now are price conscious and thinking, ‘I’ll just have a look at the deals online’. And once they start booking online, they trust making payments and see that it works, they will not go back.”.

Seperti pernah dicatat di sini, Malaysia dan Muangthai tampak sudah cukup jauh melangkah memanfaatkan dan beroleh jumlah wisman yang kian banyak mengunjungi destinasi pariwisata mereka melalui booking on-line.

Di Indonesia kita belum bisa mendapatkan gambaran perkembangan dalam hal ini.==