Pengunjung mencoba peresean di Desa Wisata Sasak Ende,Lombok.(Foto:YD)

Pengunjung mencoba peresean di Desa Wisata Sasak Ende,Lombok.(Foto:YD)

Lombok, (ITN-IndonesiaTouristNews): Lima tahun berselang, Desa Wisata Sasak Ende sekarang sangat berbeda dibandingkan ketika saya mengunjunginya pada kesempatan pertama kali ke Lombok, Nusa Tenggara Barat. Desa wisata yang berlokasi di Desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah ini merupakan Desa Sasak pertama yang saya kunjungi. Desa masih tampak apa adanya waktu itu.

Sebuah bangunan bale beratap dimanfaatkan sebagai tempat istirahat para sopir dan pemandu. Bangunan musola dari bambu dalam tahap penyelesaian. Musola itu berada di pintu gerbang menuju desa. Seorang warga desa berseragam motif batik biru menghampiri mobil di tempat parkir kemudian menyapa kami satu per satu. Dia pemandu lokal yang akan membawa kami melihat desanya.

Saya merasa, rumah-rumah yang ada di desa sekarang tampak tidak sepadat ketika pertama kali mengunjunginya. Dari informasi yang disampaikan oleh pemandu lokal, sekarang ada 30 rumah khas sasak dengan 135 jiwa penghuninya. Jalan setapak antara rumah dengan rumah, antara rumah dengan lumbung padi dan kandang sapi terasa lebih lapang. Bahkan, lebih bersih hingga ke dekat kandang sapi. Desa tampak lebih teratur dan rapi.

Pemandu lokal menjelaskan mengenai Desa Sasak Ende,penduduknya dan budayanya.Turis asing dilayani dengan bahasa Inggris.(Foto:YD)

Pemandu lokal menjelaskan mengenai Desa Sasak Ende,penduduknya dan budayanya.Turis asing dilayani dengan bahasa Inggris.(Foto:YD)

Rumah khas sasak tampil lebih jelas dan menarik dengan tidak adanya etalase penjualan suvenir di depan rumah warga. Berkomunikasi dengan warga dan anak-anak desa pun lebih mudah tanpa tekanan untuk membeli barang. Penjualan suvenir khas Sasak ditempatkan menjelang pintu keluar desa. Di dalam desa telah disediakan toilet umum.

Pada bulan November digelar pertunjukan peresean. Tari ini melibatkan dua orang yang masing-masing membawa tameng dan tongkat rotan. Mereka berusaha saling memukul lawannya dengan tongkat itu. Awalnya tarian ini merupakan bagian dari ritual mendatangkan hujan.

Peresean yang sempat kami tonton pada bagian akhirnya itu dibawakan oleh anak-anak desa. Sebuah program seni budaya mulai dikembangkan sejak awal tahun 2017 bersamaan dengan penataan desa hingga menjadi yang saya lihat sekarang. Di desa ada sanggar seni yang membina anak-anak itu. Begitu pemandu lokal menjelaskan.

Tentu saja anak-anak itu menarikannya bukan demi mendatangkan hujan tetapi untuk mencintai seni dan budayanya serta mampu melestarikannya. Usai penampilan anak-anak, giliran wisatawan yang mencoba memainkan peresean. Dipandu oleh warga desa wisatawan pun mencobanya.

Desa Sasak Ende tahun 2012.(Foto:YD)

Desa Sasak Ende tahun 2012.(Foto:YD)

Saat ini jumlahnya 30 pemandu lokal. Semuanya warga Desa Sasak Ende. Mereka bisa berbahasa Inggris. Sebagian pemandu lokal di sana sudah mendapatkan lisensi/sertifikasi. Pembawaannya pun selayaknya seorang pemandu.

Desa Sasak Ende memang tidak terlalu luas. Meskipun demikian, perubahan kemajuan yang ditunjukkan desa ini sungguh telah menjadikannya obyek yang patut dikunjungi sebelum ataupun setelah dari kawasan pantai Kuta Mandalika.***(Yun Damayanti)