ASEAN Tourism Forum (ATF)  2015 di ibukota Myanmar, Nay Pyi Taw, berakhir  Kamis 29 Januari 2015.  Tuan rumah Myanmar menyerahkan plakat kepada Filipina yang akan menjadi tuan rumah ATF tahun depan. Pertemuan tingkat menteri pariwisata se-Asia Tenggara bersama mitra-mitra ASEAN pada even selama delapan hari itu menghasilkan  catatan-catatan yang seharusnya  diperhatikan oleh para pemangku kepentingan pariwisata di Indonesia.

Jumpa pers para Menteri Pariwisata ASEAN bersama tiga mitranya dari Cina,Jepang dan Korea Selatan pada Senin (26/1).Dihadiri oleh menteri atau yang mewakili. (Foto:YD)

Jumpa pers para Menteri Pariwisata ASEAN bersama tiga mitranya dari Cina,Jepang dan Korea Selatan pada Senin (26/1). (Foto:YD)

The 18th Meeting of ASEAN Tourism Ministers

Pertumbuhan kunjungan wisatawan internasional di kawasan ASEAN Plus Three (APT) – ASEAN plus Cina, Jepang dan Korea Selatan — meningkat 6,9% dari tahun 2013 dimana APT menerima 241 juta turis selama tahun 2014. Pada tahun 2013, 66 persen dari total wisatawan mancanegara berasal dari negara-negara di kawasan APT. Parjalanan intra-APT tetap menjadi sumber utama pertumbuhan pariwisata di kawasan ini.

Tren tersebut juga terjadi di kawasan Asia Tenggara. Angka sementara menunjukkan 97,2 juta wisatawan mengunjungi intra negara-negara anggota ASEAN, tumbuh sebesar 3% dari 2013.

Pada sidang The 18th Meeting of ASEAN Tourism Ministers,  25 Januari 2015, para Menteri Pariwisata ASEAN  mengakui kemajuan-kamajuan yang dicapai dalam mempromosikan dan memasarkan pariwisata ASEAN melalui situs di internet, pemasaran melalui media sosial, hubungan masyarakat (PR) dan kemitraan dengan sektor swasta dan pusat-pusat ASEAN (ASEAN Center). Ini termasuk akan melanjutkan peningkatan promosi melalui situs Pariwisata ASEAN (www.aseantourism.travel), situs-situs resmi pariwisata negara-negara anggota ASEAN, situs Sina Weibo (www.dongnanya.travel), “Kampanye Cinta” pada Travel Channel untuk Pacific Asia Travel Association (PATA) dan kegiatan-kegiatan bertema “ASEAN untuk ASEAN” selama 2015-2016.

ASEAN-China Center, ASEAN-Japan Center, dan ASEAN-Korea Center telah menunjukkan dukungan tanpa henti mempromosikan pariwisata di Asia Tenggara. Hasil dari kegiatan yang dilakukan oleh Badan Promosi Pariwisata ASEAN (ASEAN Promotional Chapters for Tourism/APCTs) di Sydney, Australia dan Mumbai, India pada 2014 untuk mempromosikan pariwisata di negara-negara anggota ASEAN melalui partisipasi dalam pameran industri perjalanan, festival makanan, dan acara networking juga sukses.

ASEAN akan mengambil kesempatan mempromosikan kawasan Asia Tenggara sebagai destinasi tunggal. Sejumlah brosur telah didistribusikan ke Amerika Serikat, Cina, dan Jepang. Sedangkan untuk pasar Eropa, ASEAN telah memulai negosiasi putaran pertama dengan tujuan membuka kesempatan membuat perjanjian open sky antara ASEAN dan Uni Eropa. Pembicaraan tersebut sudah tentu akan menimbulkan minat yang kuat dari kedua belah pihak. Sebab perjanjian keterbukaan wilayah udara akan mempermudah lalu lintas masyarakat dari kedua wilayah tersebut. Pertimbangan lainnya adalah Uni Eropa masih menjadi investor terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Para menteri juga mencatat kemajuan dalam pengembangan produk wisata berbasis alam, termasuk pengembangan Rencana Strategis Ekowisata ASEAN, dan telah menugaskan pejabat-pejabat senior untuk menyelaraskannya dengan ATSP baru 2016-2025. Beberapa rekomendasi muncul dari penelitian berjudul “ASEAN Culture and Heritage Tourism Product Development in ASEAN Member States”. Para pejabat itu juga diminta untuk berkonsultasi dengan sektor swasta dan mengadakan famtrip bagi operator tur dan penulis perjalanan.

Dalam pertemuan itu, semua menyambut baik upaya-upaya mengembangkan produk pariwisata berbasis sungai, termasuk hasil dari The 3rd Experts Group Meeting on ASEAN-Japan Cruise Promotion Strategy yang diselenggarakan pada 27-28 Februari 2014 di Kuala Lumpur, Malaysia, dan bantuan teknis dari UNWTO mengenai pariwisata berbasis sungai.

ASEAN juga memelopori majalah digital bulanan (enewsletter) ASEAN Cruise News yang menyediakan berbagai informasi untuk memahami pasar utama dan beragam produk pesiarnya guna memperkuat penjualan produk-produk pesiar di kawasan ASEAN.

ASEAN Tourism Investment Forum 2014 yang diadakan pada tanggal 18 September 2014 di Phnom Penh, Kamboja mempromosikan ASEAN sebagai wilayah investasi terpadu pun dinyatakan sukses. Forum ini dihadiri oleh 178 peserta yang datang dari pemerintahan, organisasi investasi pariwisata, sektor swasta, dan pemangku kepentingan terkait pariwisata lainnya.

Forum investasi pariwisata ASEAN merupakan implementasi bagaimana kawasan ini ingin menarik wisatawan. Setiap negara anggota ASEAN memerlukan pasokan dari para pelaku bisnis perhotelan, taman hiburan, dan menciptakan produk-produk pariwisata yang juga sangat penting. Untuk memiliki produk yang baik maka diperlukan investasi, pemasaran, dan mengkomunikasikan produk-produk tersebut.

The 14th Meeting of ASEAN Plus Three Tourism Ministers

Terkait dengan pelaksanaan Pertemuan Tingkat Menteri Parwisata ASEAN ke-18 (M-ATM) yang diadakan sehari sebelumnya, Pertemuan Tingkat Menteri Pariwisata ASEAN Plus Three (China, Jepang, dan Korsel) ke-14 diadakan menjelang pembukaan resmi ATF 2015 pada 26 Januari 2015 di Nay Pyi Taw, Myanmar. Pertemuan itu dipimpin oleh Menteri Hotel dan Pariwisata Myanmar U Htay Aung, dan Du Yili, Wakil Ketua Administrasi Pariwisata Nasional China. Sehari sebelumnya pada 24 Januari 2015 diselenggarakan The 26th Meeting ASEAN Plus Three (APT) National Tourism Oraganisations.

Pada pertemuan tersebut para menteri mendorong ketiga negara mitra ASEAN itu terus mendukung Kemitraan Konektivitas ASEAN Plus Three yang dinyatakan oleh para pemimpin negara APT pada 2012 lalu dalam rangka meningkatkan konektivitas di wilayah tersebut.

Para Menteri Pariwisata ASEAN juga sepakat pentingnya pengembangan kerangka kerja dan bertukar pikiran mengenai statistik pariwisata di negara-negara APT dan mencari metode-metode baru dalam statistik pariwisata. Ini dimaksudkan agar tercapai pemahaman yang lebih baik mengenai pengembangan pariwisata di negara-negara APT. Mereka menyambut baik kemajuan yang dicapai dalam pelaksanaan Rencana Kerja Kerjasama Pariwisata APT.

Data statistik dalam pariwisata sangat penting. Pariwisata juga memerlukan data-data akurat untuk melihat perkembangan industri pariwisata. Namun negara—negara anggota ASEAN masih membutuhkan uluran tangan dari tenaga-tenaga ahli dunia terutama untuk mendukung data-data spesifik yang dibutuhkan di kawasan. Untuk itu, ASEAN telah menjalin kerja sama dengan UNWTO dan WTTC.

ASEAN juga berkerja sama dengan Jepang, Cina, dan Korea. Kerja sama itu terkait bagaimana mengumpulkan dan menghitung data statistik. Hasil-hasil dari pertemuan tersebut akan terus diinformasikan kepada semua pemangku kepentingan.

ASEAN mengapresiasi semua bentuk dukungan promosi yang diberikan oleh negara-negara mitranya. Cina mendukung promosi pariwisata di kawasan Asia Tenggara diantaranya dengan menyediakan bilik pada China International Travel Mart 2014 tanpa dipungut biaya, memproduksi siaran khusus bertajuk “Discovery ASEAN” dan “Taste of ASEAN” yang diputar di CCTV, siaran radio langsung yang menyoroti berbagai destinasi di ASEAN, famtrip yang diselenggarakan oleh media Cina kepada negara-negara anggota ASEAN dan lokakarya bagi operator tur.

Selama tahun fiskal 2014, Program Kerja Tahunan ASEAN-Japan Center telah menyelenggarakan pertukaran pemuda, lokakarya mengenai teknis pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat untuk BIMPS, aneka ragam kegiatan pariwisata dan pertukaran public relations, berpartisipasi pada CLMV Travel Mart, mempromosikan pariwisata berbasis tema, pertukaran pengembangan kapasitas dan budaya, serta dukungan pengembangan karir bagi para murid dari ASEAN di Jepang.

Republik Korea mendukung pariwisata ASEAN dengan mengembangkannya melalui kegiatan-kegiatan promosi dan peningkatan kapasitas, termasuk pembentukan situs resmi Kemitraan ASEAN-Korea, http://www.korea-asean.com, dan penyelenggaraan pameran Budaya ASEAN dan Pariwisata di Korea.

Ramon R. Jimenez,Jr.,Secretary of Tourism Phillipines menerima plakat serah terima tuan rumah ATF pada malam penutupan ATF 2015.Manila akan menjadi tuan rumah ATF pada 18-25 Januari 2016. (Foto:YD)

Ramon R. Jimenez,Jr.,Secretary of Tourism Phillipines menerima plakat serah terima tuan rumah ATF pada malam penutupan ATF 2015.Manila akan menjadi tuan rumah ATF pada 18-25 Januari 2016. (Foto:YD)

Rencana Strategis Pariwisata ASEAN

Rencana Strategis Pariwisata ASEAN (ASEAN Tourism Strategic Plan/ATSP) menyatakan bahwa ASEAN harus berusaha untuk menjadi tujuan wisata berkualitas yang menawarkan pengalaman unik dan beragam sekaligus berkomitmen melaksanakan pembangunan pariwisata yang bertanggung jawab, berkelanjutan, inklusif dan seimbang.

Kobkarn Wattanavrangkul, Menteri Pariwisata dan Olahraga Thailand, mengatakan,”Pariwisata tidak hanya terkait dengan bisnis langsung dan layanan tetapi juga berusaha memeratakan pendapatan, secara langsung maupun tidak langsung. Contohnya, bagi mereka yang tidak mempunyai daya tarik atau atraksi wisata, kita bisa membeli sesuatu dari mereka. Itupun akan meningkatkan pendapatan mereka.”

“Inklusif tidak hanya minoritas. Jika kita melihat terus kepada minoritas maka kita akan kehilangan mayoritas. Semua orang bisa terbang, semua orang dapat melakukan perjalanan, dan semua orang bisa berpartisipasi. Pariwisata adalah tentang menciptakan pemahaman, perdamaian dan kemitraan. Ya, kita melihat angka-angka kedatangan, berapa penghasilan yang kita dapatkan dari kedatangan, itu semua dampak penting. Tetapi pariwisata itu sendiri memiliki nilai-nilai yang tidak berwujud, seperti kemakmuran dan perdamaian untuk membuat orang bahagia, membuat orang mau berpartisipasi,” ujar Sekretaris Jenderal dari Kementerian Pariwisata dan Budaya Malaysia Datuk Dr. Ong Hong Peng, menegaskan dalam jumpa pers para Menteri Pariwisata ASEAN dengan media di Myanmar International Convention Center, Senin (26/1).

Itulah makna inklusif dalam kebijakan strategi pariwisata ASEAN yang sedang dilaksanakan.  Pariwisata adalah mengenai kesetaraan dan dari situlah akan muncul keberlanjutan bagi semua. *** (Yun Damayanti)