Gajah sedang dilatih gurunya di Way Kambas Lampung. (Foto AH)

Gajah sedang dilatih gurunya di Way Kambas Lampung. (Foto AH)

 M. Riswal, Direktur Eksekutif BPPD Prov Lampung menyatakan bahwa pemda mendanai  dari APBD untuk operasionalisasi kegiatan BPPD (Badan Promosi Pariwisata Daerah)  selama tiga tahun pertama ini. Maka dia tengah mensiapkan apa saja yang akan dikerjakan. Dia juga melihat realitas bahwa wisnus merupakan sasaran awal yang perlu digarap Lampung tahap-tahap pertama BPPD beraksi, menuju ke pasar regional di ASEAN (Singapura dan Malaysia).

Ketika berada di even TIME Lampung baru-baru ini, Sekretaris BPPD Lampung,  Didi bilang untuk ke Teluk Kiluan sedang dalam pembicaraan untuk merancang jalan pintas dari Bandar Lampung dengan kerjasama Angkatan Laut RI setempat, yaitu menggunakan transportasi wisata via laut dari Bandar Lampung langsung menuju  ke Teluk Kiluan. Perjalanan laut ini agar bisa mencapai Kiluan dalam satu jam, karena kalau jalan darat memakan waktu lama 3 jam.    Padahal untuk bisa menyaksikan  lumbalumba adanya sekitar pukul 6 pagi ketika kumpulan-kumpulan lumba-lumba bermain di laut Teluk Kiluan itu.

Teluk Kiluan dengan lumbalumbanya selalu dimunculkan pada setiap materi promosi pariwisata Lampung sebagai obyek daya tarik wisata, selain Way Sambas dengan pusat pelatihan gajah, dan Tanjung Setia wisata bahari bagi surfer.

M. Riswal

M. Riswal

Didi bilang, akan membuatkan paket wisata 2 hari 1 malam perjalanan cross country menunggang gajah, menginap di kemah, berujung di danau Ranau, dari Ranau sudah dekat untuk turun menuju ke pantai Tanjung Setia, untuk wisata pantai, selam atau surfing.

Manfaatkan dan Hati-hati Online

Bicara tentang Lampung yang ingin menjadi destinasi wisata internasional, telah mendapat dukungan diselenggarakannya  Pasar Wisata Internasional (TIME) dua kali tahun 2011-2012. Seebelum dan setelah TIE itu, kawasan Tanjung Setia, pantai sekitar lima jam berkendara moil dari Bandar Lampung, sebenarnya telah mantap berkembang. Saat ini diperkirakan sekitar 20 ribu wisman setahun berkunjungdan tinggal beberapa hari untuk menikmati wisata selam.

Wisman datang berkat informasi hingga proses pemesanan dan pembayaran akomodasi diperoleh dan dilakukan melalui online booking. Pemasaran produk yang dilancarkan oleh pengelola akomodasi di Tanjung Setia, menjangkau seantero dunia dengan murah, melalui online tersebut.

Nah, kawasan lain di sekitar kota Bandar Lampung, sebenarnya mendapat ‘review’ juga di internet. Ada beberapa informasi  untuk berwisata bagi traveller mancanegara. Ada review berdasarkan pengalaman traveller yang telah ke kota Bandar Lampung. Tak banyak memang. Tapi perlu hati-hati dan justru baik memerhatikan apa yang dialami oleh para traveller yang telah rela menuliskan di blog masing-masing.

Satu pengalaman berikut ini dengan halus sopan mengingatkan pengelola wisata di Bandar Lampung, kendati pengalaman tahun 2011, namun rasanya masih relevan dalam memajukan pariwisata Lampung. Mari kita abaca:

Tanjungkarang – Telukbetung Off The beaten Path

by Assenczo Updated Sep 13, 2011 580 reviews

There are not very many options for entertainment outside of pool lounging in Bandar Lampung area. The three things to do (that is all) include surfing (100km away), Krakatau climbing (150km away) and a safari (100km away). The distances do not sound like much but they are time consuming and expensive because of the road conditions and their private character due to the lack of foreigners visitors. I will let the surf junkies go on about the best surf in the world as the local one apparently comes straight from Antarctica. The safari is actually an extra to the visit of the elephant center where you are exposed to some elephant show – not exactly what safari means. The catch is that if you want you will be granted the permission for extra moneys to go on the real thing chasing some wild elephants and other fauna but you have to be lucky in order to see anything!? After a safari in Africa where the word comes from and the animals are abundant and you have to be very unlucky not to see multitudes of them, this is a misunderstanding to say the least. The third option is the infamous Krakatau itself but again involves at least 12 hours of travel on rickety roads with the added thrill of being on a boat that most probably is hard to be called sea-worthy. That is why you get to pay insurance but guess what; the insured people are the transport guys, not the passengers, ha-ha. So if you want adventure and an expensive one embark on one of the three described above and there will be no room for disappointment. **