Perlu Panduan Berwisata bagi Wisatawan Nusantara dan Pelancong Lokal

Peraturan di kompleks Candi Prambanan.Ditempatkan setelah pintu masuk tempat membeli karcis.(Foto:YD)

Peraturan di kompleks Candi Prambanan. Ditempatkan setelah pintu masuk tempat membeli karcis.(Foto:YD)

Di dalam Kode Etik Pariwisata yang dituangkan dalam Guide to Civilised Tourism yang diterbittkan oleh Pemerintah Cina dikatakan, menciptakan lingkungan pariwisata yang harmonis dan beretika harus menjadi perhatian utama setiap turis. Menjadi wisatawan beretika adalah kewajiban setiap turis.

Guide to Civilised Tourism dikeluarkan oleh China National Tourism Administration pada bulan September 2013. Empat bulan berselang dari insiden seorang wisatawan remaja asal Cina yang menorehkan grafiti pada artefak berusia 3.500 tahun di Luxor, Mesir. Pemerintah Cina merasa perlu mengeluarkan sebuah buku panduan manual etika berwisata bagi warganya agar citra negara dapat dijaga dengan baik. Buku panduan etika manual itu setebal 64 halaman dilengkapi dengan gambar-gambar kartun sehingga panduan tertulisnya mudah dipahami oleh siapa saja.

Isinya, Kode Etik Pariwisata Beradab yang terdiri dari Standar Etika Wisatawan Domestik dan Standar Etika Wisatawan Saat Keluar Negeri. Kemudian, Tips-tips Praktis Pariwisata Beradab terdiri dari, hal-hal yang biasa dilakukan dalam pariwisata beretika; elemen-elemen dalam pariwisata beretika; kebiasaan-kebiasaan dan tabu-tabu di destinasi-destinasi di luar negeri; serta penanda-penanda dan nomor-nomor penting di luar negeri.

Duduk di tempat yang sudah diberi tanda ‘Dilarang duduk’ di Candi Borobudur; merokok di dalam ruangan candi di kompleks Candi Prambanan; membuat grafiti (vandalisme) di tembok pembatas di tepi kawah Bromo, di bebatuan, batang-batang pohon di hutan, di gunung dan di pantai; menginjak dan memegang terumbu karang dan biota laut; sampai meninggalkan sisa-sisa pembungkus makanan, gelas karton, botol plastik mulai dari pusat perbelanjaan, di tempat parkir taman rekreasi, hingga di puncak gunung dan di tengah laut.

Begitulah sebagian kecil dari hal biasa dan dibiasakan oleh wisatawan domestik dan pelancong lokal. Keindahan dan pesona Indonesia di dalam gambar/foto berjarak dengan realitasnya yang kerap kali terlihat kumuh dan tampil berantakan.

Masih banyak pengunjung lain setelah kita yang juga ingin menikmati yang kita alami.Sampah di Rim I Sembalun Crater TN Gunung Rinjani,Lombok.(Foto:ist.)

Masih banyak pengunjung lain setelah kita yang juga ingin menikmati yang kita alami. Sampah,masalah yang dihadapi oleh semua obyek dan destinasi wisata.Ini di Rim I Sembalun Crater TN Gunung Rinjani,Lombok.(Foto:ist.)

Mengutip “12 Ciri Psikis Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungjawaban)” yang ditulis oleh Mochtar Lubis (Alm), (1977), salah satu ciri yaitu ‘segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, keputusannya, kelakuannya, pikirannyamasih lekat pada sebagian besar wisnus dan pelancong lokal terutama ketika sedang bepergian/ berwisata di dalam negeri.

Setiap tahun, setiap sekolah mulai dari jenjang taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas punya program study tour. Biasanya mengunjungi obyek-obyek wisata bermuatan edukasi. Murid-murid di sekolah lanjutan akan ditugaskan untuk membuat laporannya setelah perjalanan usai. Namun selama perjalanan tersebut, adakah guru-guru pembimbing menyampaikan bahwa obyek-obyek wisata yang akan dikunjungi adalah milik umum berarti setiap pengunjung harus memperhatikan hak pengunjung berikutnya? Adakah para orang tua yang menemani anak-anak yang lebih muda usianya saat mengikuti study tour atau field trip memberi contoh bagaimana berlaku di area publik, diantaranya di tempat daya tarik wisata?

Seberapa banyak dari kita menyadari bahwa daya tarik wisata dan produk-produk pariwisata bukanlah disposible product, produk sekali pakai terus dibuang? Daya tarik wisata bukan hanya milik masyarakat lokal atau pengelola obyek wisata saja tetapi itu milik umum. Ada pengunjung lain setelah kita yang juga ingin menikmati apa yang telah kita alami.

Apa saja sih Standar Etika Wisatawan Domestik yang ditetapkan oleh Pemerintah Cina?

Wisatawan harus menjaga kebersihan lingkungan di destinasi dan obyek daya tarik wisata termasuk tidak meludah sembarangan, tidak membuang sampah sembarangan, tidak merokok di tempat-tempat yang dilarang merokok.

Memperhatikan keteraturan lingkungan sekitar termasuk merendahkan suara saat berbicara, mengantri, tidak menghalangi jalan dengan berjalan bersama-sama melebar dan seterusnya.

Dalam 4 tahun terakhir bintang laut di pulau pasir,Belitung yang muncul ke permukaan terus berkurang.Ditengarai salah satu penyebabnya adalah banyak pengunjung yang mengangkatnya saat berfoto.Ini diungkapkan oleh seorang pemandung lokal di sana.(Foto:lovebelitung)

Dalam 4 tahun terakhir bintang laut di pulau pasir, Belitung yang muncul ke permukaan, terus berkurang. Ditengarai salah satu penyebabnya adalah banyak pengunjung yang mengangkatnya saat berfoto.Ini diungkapkan oleh seorang pemandu lokal di sana.(Foto:lovebelitung)

Sebagai pengunjung, wisatawan harus turut menjaga lingkungan termasuk  tidak berjalan di rumput; tidak memetik bunga dan buah; tidak mengejar, menangkap, atau memberi makan hewan.

Turut melestarikan peninggalan budaya dan tempat bersejarah termasuk tidak mengotori atau merusak peninggalan budaya atau situs bersejarah dengan ukiran atau grafiti; tidak mendaki atau menyentuhnya; dan mengambil foto hanya jika diperkenankan.

Turut menjaga fasilitas umum, diantaranya tidak merusak kamar mandi umum dan fasilitas lainnya.

Menghargai hak orang/pengunjung lain termasuk diantaranya, mengikuti petunjuk di toilet umum, menghormati pekerjaan staf layanan, dan menghormati kebiasaan semua kelompok etnis dan agama yang ditemui di destinasi.

Bersikap sopan dan santun termasuk dalam berpakaian, menghormati orang-orang tua, anak-anak, dan penyandang disabilitas, tidak berbuat gaduh dan lain-lain.

Dan membantu mempromosikan pariwisata yang sehat. Termasuk menolak cerita-cerita takhayul, pornografi, pelacuran, judi dan obat-obatan terlarang.

Isi di dalam Guide To Civilised Tourism yang dikeluarkan oleh Pemerintah Cina.(Gambar: Ist.)

Isi di dalam Guide To Civilised Tourism yang dikeluarkan oleh Pemerintah Cina.(Gambar: Ist.)

Panduan etika perjalanan dan berwisata bagi wisnus dan pelancong lokal dapat disosialisasikan dengan menggunakan semua media yang ada. Panduan dapat dicetak seukuran buku saku, disebarluaskan melalui media massa, melalui jejaring sosial di internet hingga membuat even-even interaktif di pusat-pusat keramaian.

Dalam rangka membangun pariwisata nusantara yang bertanggung jawab dan berkelanjutan, diantaranya, pemeliharaan daya tarik/obyek wisata tidak hanya ditanggungkan semuanya kepada pemilik destinasi dan pengelola obyek daya tarik wisata tersebut. Pengunjung pun punya andil dan tanggung jawab.

Memang, pengelola daya tarik wisata juga harus mempunyai ketegasan dalam menegakkan peraturan-peraturan yang dibuatnya. Namanya peraturan ya dibuat untuk mengatur agar semua tertib dan teratur. Pengelola juga mesti memperhatikan kapasitas yang bisa diakomodasi daya tariknya dan dampaknya terhadap lingkungan di sekitarnya.

Jadi, ke manapun kita pergi etika itu harus selalu diingat dan dijalankan, bukan dihafalkan. Etika perjalanan tidak memandang asal-usul, status, dan usia. (Yun Damayanti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.