Pasti akan ramai diretwit cerita anda jika mendaki dan bermain di salju Puncak Cartensz di Papua. Apalagi jika dituangkan juga berbahasa asing setidaknya Inggris, lalu anda tweet atau di face book. Bisa menyebar ke dunia. Cerita berikut ini saja rasanya menakjubkan dan mengundang. Memang biaya ke sana saat ini relatif mahal. Tapi sooner or later tentu akan terjadi juga ekuilibrium alias keseimbangan harga sehingga semakin banyak orang merasanya “terjangkau”.

Perjalanan tur menuju Carstensz Pyramid (4.884 mdpl) yang diselenggarakan oleh Cartensz Adventure biasanya berdurasi 12 hari 11 malam. Menurut Direkturnya Maximus Tipagau, dia bersama timnya setiap tahun menerima rata-rata 10 sampai 15 grup dan satu grup terdiri dari 10-15 orang. Tamu-tamunya ialah wisatawan asing terutama dari Eropa seperti Austria, Jerman dan Amerika Serikat.

Ugimba, Intan Jaya, Papua. Kanan: wisatawan yang mengikuti tur selalu diajak berinteraksi dengan warga lokal. (sumber foto: Cartensz Adventure)

Ugimba, Intan Jaya, Papua. Kanan: wisatawan yang mengikuti tur selalu diajak berinteraksi dengan warga lokal. (sumber foto: Cartensz Adventure)

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari  Elka Pangestu di Jakarta, Selasa (23/9) meresmikan Desa Ugimba di Kabupaten Intan Jaya, Papua menjadi kampung wisata. Desa yang berada di kaki Gunung Cartensz ini memang menjadi pintu paling ideal untuk menjelajah dan menaklukkan Puncak Carstensz, salah satu dari tujuh puncak dunia (seven summits).

Operator yang menjual dan mengorganisasikan wisata pendakian ke Cartensz, mengatakan, “Penetapan Kampung Ugimba sebagai kampung wisata sendiri merupakan usulan masyarakat setempat yang diajukan melalui Yayasan Somatua. Ini juga sebagai langkah awal mulai bekerja bersama agar Cartensz dan Kampung Ugimba dapat dijadikan tempat wisata yang layak dikunjungi wisatawan serta menepis isu negatif khususny terkait isu keamanan. Isu-isu negatif selama ini dihembuskan untuk menghalau masuknya wisatawan asing ke Cartensz. Dengan penandatanganan ini, kami berharap akan mendapat perhatian khusus”.

   Yayasan Somatua adalah organisasi non-pemerintah yang didirikan oleh suku Moni yang tinggal di puncak Cartensz dan di Desa Ugimba. Somatua merupakan salah satu nama dari puncak yang ada di pegunungan Jayawijaya yang selalu diselimuti salju sehingga selalu tampak terang benderang.

 

Cartensz Pyramid

Kiri: posisi Cartensz Pyramid. (sumber: www.oysteinlundandersen.com); kanan: wisman bertujuan mencapai Cartens Pyramid (sumber: Cartensz Adventure)

Kiri: posisi Cartensz Pyramid. (sumber: www.oysteinlundandersen.com); kanan: wisman bertujuan mencapai Cartens Pyramid (sumber: Cartensz Adventure)

Gunung Carstensz di rangkaian pegunungan Sudirman berada di dataran tinggi barat tengah Provinsi Papua. Puncak Jaya atau Cartensz Pyramid adalah gunung tertinggi di Indonesia dengan puncaknya yang berada pada 4.884 meter (16.024 kaki) di atas permukaan laut. Puncak-puncak lain di Jayawijaya, Puncak Cartenz Timur (4.808 mdpl), puncak Sumantri (4.870 mdpl) dan Ngga Pulu (4.863 mdpl).

Seorang penjelajah Belanda Jan Carstenszoon ialah orang pertama yang melihat gletser di Puncak Jaya pada suatu hari yang cerah di tahun 1623. Penamaan “Carstensz Pyramid” diberikan untuk mengenangnya. Lapangan bersalju di Puncak Jaya ditemukan pada awal 1909 oleh penjelajah Belanda lainnya, Hendrik Albert Lorentz. Namanya kemudian diabadikan untuk sebuah kawasan konservasi yang dilindungi termasuk kawasan Cartensz. Kawasan itu kini dikenal dengan nama Taman Nasional Lorentz. Kawasan konservasi ini didirikan pada tahun 1919 menyusul laporan dari ekspedisi yang dilakukan oleh H.A. Lorentz.

Sementara puncak Puncak Jaya bebas dari es, beberapa gletser masih bisa ditemukan di beberapa lereng, termasuk Carstensz Glacier, West Northwall Firn, East Northwall Firn dan Meren Glacier di Meren Valley yang baru-baru ini lenyap. Posisi gunung yang berada di garis khatulistiwa mengakibatkan nyaris tidak ada fluktuasi suhu udara secara ekstrim. Suhu rata-rata selama setahun berkisar 0,5°C dan fluktuasi gletser secara musiman pun hanya sedikit.

Gletser di Puncak Trikora di Pegunungan Maoke menghilang sama sekali beberapa waktu antara 1939 dan 1962. Sejak tahun 1970-an, bukti dari citra satelit menunjukkan gletser Puncak Jaya telah berkurang dengan cepat. The Meren Glacier kadang-kadang mencair antara 1994 dan 2000. Sebuah ekspedisi yang dipimpin oleh paleoclimatologist Lonnie Thompson pada tahun 2010 menemukan, dengn kecepatan gletser menghilang setebal tujuh meter per tahun maka diperkirakan gletser di Puncak Jaya akan lenyap pada tahun 2015.

Puncak Jaya merupakan salah satu puncak yang menuntut teknik pendakian lebih rumit menurut salah satu versi dari daftar Seven Summits peak-bagging. Di dalam daftar itu dinyatakan bahwa tuntutan fisiknya memang tidak besar tetapi menuntut kemahiran keterampilan pendakian. Standar rutenya adalah ke arah utara dan mendaki di sepanjang punggung gunung dengan permukaan batu cadas.

Puncak Jaya sempat ditutup untuk wisatawan dan pendaki antara 1995 dan 2005. Sejak 2006, akses menuju puncak dibuka kembali dan tur dimungkinkan melalui berbagai program yang ditawarkan dan dijual oleh usaha wisata petualangan.***( Yun D.)