Performance Tradisional di Rumah di Desa di Bali; dengan Tekun Sudah Menerima Ribuan Wisman

Dewa Rai Budiasa.

Dewa Rai Budiasa.

Sanur, Bali (ITN-IndonesiaTouristNews): Pukul setengah tujuh senja hari 24 orang wisman Perancis turun dari bis wisata, di pinggir jalan raya di desa, lalu langsung memasuki pekarangan rumahnya Dewa Rai Budiasa. Di desa Pengaji, Payangan,  masih di kawasan Ubud, Bali. Yang diceritakan ini adalah grup wisman Perancis itu hendak makan malam di tengah pedesaan, di sebuah rumah yang tampilan dan layout alias denah letak bangunan-bangunannya asli trasional Bali. Dan, sebelum dinner, mereka duduk theatre style, kendati berkursi plastik, menonton tari Bali.  Malam itu, dengan suguhan tari Barong. Lebih dari itu lagi, ketika menyaksikan performance tarian di hadapan mereka, di sisi kiri di bawah tenda sekitar 4 X 4 meter, tampak kelompok pemusik gamelan duduk memainkan gamelan; nah, di sisi kanan, tampak dua baris anak-anak desa juga duduk tetapi di atas lantai tanah, dengan wajah-wajah yang senang sumringah ikut menikmati show penari. Suasana desa yang begitu itu selama ini justru mengesankan bagi para wisman.

Wisman dan anak-anak desa di Bali sama-sama menonton menikmati tari Bali di desa Pengaji. (Foto:AH)

Wisman dan anak-anak desa di Bali sama-sama menonton menikmati tari Bali di desa Pengaji, Payangan, Bali. (Foto:AH)

Tahun ini akan lebih 2000 wisman lagi berwisata malam ke desa Pengaji itu, menurut pengelolanya, Dewa Rai Budiasa, setelah tahun 2016 lalu dia mencatat jumlah tamunya menembus angka 2100 orang. Beberapa agen besar telah membuat kontrak dengannya, sehingga tamu-tamu dalam grup akan datang secara berseri.

Grup 24 orang wisman Perancis itu tampk tengah dinner.(Foto: AH)

Grup 24 orang wisman Perancis itu tampak tengah dinner.(Foto: AH)

Lebih setahun yang lalu pernah kita kabarkan di sini, bagaimana Dewa Rai menceritakan pengalamannya untuk perlu tekun dan konsisten memperkenalkan produk dan gaya baru dalam menarik kunjungan wisman. Yaitu, dalam istilah atau citra besar, menyajikan the living culture dalam bentuk asli. Suasana desa, di tengah gaya hidup desa, menyajikan tarian tradisional setempat, dibawakan oleh para seniman seniwati gamelan dan tari dari desa itu sendiri. (Setiap kegiatan malam seperti itu, terlibat aktif 25 sampai 30 warga desa.) Lalu makan malam dengan pilihan kuliner Indonesia dan internasional. Sebelum atau setelah dinner, diceritakanlah kepada para wisman itu tentang denah rumah tradisional Bali dengan makna-maknanya, tentang putera puteri muda belia dari desa dan para senior mereka yang ikut menyajikan performance hingga yang memasak dan melayani wisman. Berbahasa Inggris, atau, berbahasa Perancis.

Tampaknya perlu cahaya listrik agar lebih terang pada suasana makan malam itu?, Anda pun mungkin akan bertanya pada Dewa Rai.

“Oh, jangan. Sinar listrik yang tak terang benderang, suasana desa dan nuansa tradisioal dari pencahayaan yang sedang-sedang inilah, yang disukai oleh wisman,” itu jawab Dewa Rai.

Performance tari Bali itu berlangsusng sekitar satu jam, ketika kita saksikan, sedang menyuguhkan cerita legenda Ramayana dengan tari Barong. Pukul setengah delapan grup wisman itu beranjak ke pekarangan bagian tengah, di situlah makan malam. Pukul setengah sembilan malam mereka selesai lalu menaiki bis untuk menuju kembali ke hotel di kawasan Sanur. Dari Pengaji ke Sanur naik  bis sekitar 30-40 menit.

Bukan berarti 100 persen hanya wisman tamu yang datang ke sini, Dewa Rai mengoreksi. Grup atau kelompok wisnus, grup wisatawan dari dalam negeri, juga ada booking dan menikmati sebagai layaknya para wisman.***

  1. Terimakasih Mr Arifin dan rombongan yg telah hadir di Payangan

Leave a Reply

Your email address will not be published.