Gedung KBRI di Ryadh.(Foto: dari situs KBRI)

Gedung KBRI di Ryadh.(Foto: dari situs KBRI)

Ratusan perempuan Muslim dari masyarakat Indonesia berkumpul di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Diplomatic Quarter, Riyadh untuk berpartisipasi dalam ‘Creative Hijab,’ sesi gaya makeover Muslim yang diselenggarakan oleh istri-istri para diplomat Indonesia di ibukota Saudi Arabia itu tiga hari yll.(7/2/2015).

Sayang tak ditemui cerita itu di website KBRI. Tapi IINA, The International Islamic News Agency, divisi khusus dalam Organization of Islamic Cooperation (OIC) memberitakannya. “Mengenakan hijab, atau ‘jilbab’, adalah pilihan pribadi bagi jutaan perempuan Muslim Indonesia. Bagi banyak orang itu adalah representasi dari iman dan cara untuk memelihara kesopanan,” kata Ivo Meriyanti Sunarko, istri wakil kepala misi Indonesia di Ryadh. “Indonesia adalah negara mayoritas Muslim yang paling padat penduduknya di dunia dengan lebih dari 88 persen Muslim memelihara budaya Islam itu, berpengaruh kuat dan meluas,” kata dia.

Secara signifikan, Indonesia memiliki pasar yang besar pada ekspor jilbab ke Arab Saudi dan Timur Tengah. Muslim Indonesia telah mempengaruhi evolusi sederhana dari jilbab, dan kesadaran perempuan Indonesia mengenakan jilbab telah meningkat, terutama di kalangan generasi muda.

Dengan semakin populernya gaya jilbab saat ini, umat Islam jangan ragu untuk memakai jilbab dan tetap tampil gaya. “Budaya jilbab kami telah mendorong desainer Indonesia untuk menghasilkan desain kreatif untuk jilbab yang telah menjadi penampilan fashion,” katanya.

Suatu tutorial mengenakan hijab diselenggarakan oleh Asosiasi Perempuan Indonesia (IWA) di balai budaya kedutaan di Ryadh. Diberitakan oleh IINA, acara itu menampilkan tiga gaya jilbab yang inovatif termasuk gaya ‘Santai’ gaya untuk pakaian sehari-hari yang praktis, gaya ‘Pesta’ dan jilbab untuk ‘Usia lanjut dan orang tua. “Peragawati Hijab Yoke Adi menunjukkan gaya ‘Santai’ hijab nasional, Eka Farid model untuk menampilkan hijab ‘Gaya Pesta’ yang disampaikan oleh model Ciecie Dafris, Jihan Rahmad. The ‘Mature Style’ telah diajari oleh Endah Dewanto dan yang menampilkannya  relawan model, Yoke Adi. Stylist Endah pribadi lebih suka untuk menegakkan jilbab ‘Turban’, menjadi favorit saat ini di antara hijabi baru secara global.

Dinyatakan pula, jilbab menjadi simbol ekspresi individu dan dalam banyak kasus fashion dijadikan adaptasi yang lebih besar dari desain modern yang lalu dipamerkan oleh komunitas online umat Islam di seluruh dunia. Berbicara tentang inovasi dalam mengalungkan penutup sederhana, Endah Dewanto mengatakan, “Tutorial menginstruksikan wanita tentang bagaimana untuk membungkus dan memakai jilbab Indonesia yang ditampilkan di berbagai situs dan blog. Dalam hal ini, gaya yang berbeda biasanya fitur dan warna yang tepat dan kain dapat dipilih sesuai dengan preferensi pemakainya. ”

Kebetulan, acara jilbab berdiri sejajar dengan World Hijab Day International, yang dirayakan pada 1 Februari, sejak 2013, oleh anggota dari lebih 116 negara, yang membawa pesan untuk mendorong Muslim dan saudari-saudari non-Muslim ikut mengalami hari di ‘Hijab’ seraya menyadarinya lebih lebih baik , dus jadi pendidikan dan pemahaman yang lebih besar tentang konsep hijab.

Tyas menekankan, “Hijab adalah budaya kita dan bagian dari iman setiap Muslim yang melindungi kesopanan perempuan dan memberdayakan mereka.”

Ike Chairil salaah satu peserta mengatakan hari itu merupakan pemandangan yang indah ketika melihat seluruh auditorium dikemas dengan peserta berjilbab tertutup, untuk tujuan yang baik. Dengan pelajaran hari itu, “kita sekarang dapat dengan yakin memakai jilbab trendi gaya sendiri tanpa harus pergi ke stylist,” katanya.***