Spa di Yogyakarta.(Foto: dari internet)

Spa di Yogyakarta.(Foto: dari internet)

Pengalaman tiga bulan lalu di Kota Yogyakarta meninggalkan jejak abadi di ruang memori. Waktu singkat selama enam hari sukses membuka pintu kesempatan saya untuk mengenal tradisi kecantikan Perempuan Indonesia khususnya perempuan Jawa secara lebih dekat.Bermula dari rencana menulis tugas akhir seputar perawatan tubuh tradisional, saya pun berangkat meninggalkan Kota Depok menuju Yogyakarta untuk merasakan pengalaman unik perawatan tubuh berbasis tradisi Jawa Keraton Yogyakarta di Nurkadhatyan Spa.Sesampainya di tempat spa, saya mencium aroma bunga sedap malam dan daun pandan yang membuat pikiran menjadi rileks. Sembari menunggu perawatan, saya disuguhi minuman dingin berupa jamu kunyit asam yang menyegarkan tenggorokan.

Perawatan pun dimulai dengan membentangkan kain sutera berwarna hijau ke badan, supaya badan menjadi rileks. Perawatan yang berlangsung ini menggunakan ramuan dan racikan segar rempah alami seperti jahe, kulit secang, akar wangi, daun sirih, kayu manis, dan banyak lagi. Suasana menenangkan semakin terasa dengan alunan gendis gamelan Jawa dari audio ruangan spa. Spa di sini menerapkan gerak seni tarian Jawa dalam melakukan teknik pemijatan di titik energi (teknik pijat Jawa kuno) atau dalam bahasa Jawa disebut Lenging Bandawasa. Hal ini terbukti membuat badan saya menjadi lebih rileks, kulit menjadi kencang dan halus, saya seperti memancarkan aura yang berbeda, kata teman saya.

Beruntungnya, di Jogja terdapat Desa Wisata Jamu Gendong sehingga saya bisa melihat langsung proses pembuatan jamu menggunakan bahan-bahan alami. Saya pun mencoba jamu galian puteri yang terbuat dari daun sirih, kunyit putih, dan asam Jawa. Upaya-upaya tradisi lokal untuk mempertahankan kebugaran tubuh (termasuk kecantikan), menurut Dr. Pinky Saptandari, Dosen Antropologi Universitas Airlangga, dikenal sebagai traditional wellness yang merupakan kekayaan budaya (cultural heritage) dengan keberagaman luar biasa di Indonesia.

Tradisi kecantikan perempuan Indonesia rupanya telah tergambar pada relief di Candi Borobudur sejak abad ke tujuh masehi. Saya pun mengunjungi Candi Borobudur, menuju panel 19 (Relief Karmawibangga) yang terletak di dinding dasar candi bagian tenggara. Relief tersebut melukiskan bagaimana perempuan Indonesia melakukan perawatan tubuh dengan menggunakan berbagai ramuan dan tumbuh-tumbuhan, juga tradisi pembuatan jamu yaitu minuman herbal tradisional khas Indonesia.

Pengalaman wisata tersebut meyakinkan saya bahwa Indonesia memiliki potensi yang luar biasa untuk menjadi destinasi wisata kesehatan atau kebugaran (wellness tourism). Terlebih, tradisi kecantikan perempuan Indonesia tak hanya dimiliki oleh perempuan Jawa. Beragam suku bangsa lainnya ternyata juga memiliki traditional wellness-nya tersendiri seperti Batangeh Minangkabau Sumatera Barat, Bakera Minahasa Sulawesi Utara, Boreh Bali, Batimung Banjar Kalimantan Selatan, So’oso Madura, Tangas Betawi, dan Bedda Lotong Bugis Sulawesi Selatan. (dari kiriman, tanpa nama. Ini salah satu informasi/artikel kiriman dari pembaca. Setiap kiriman, hendaknya dicantumkan nama pengirim dan alamat email. Tanpa itu, sebenarnya kami tidak dapat mempertimbangkan untuk diedit, dimuat atau tidak. Yang satu ini pengecualian. Terima kasih.)

Up date: telah diterima informasi melalui email, bahwa informasi/artikel yang ditampilkan di atas, pengirimnya adalah, Rizki Karunia Illahi, mahasiswi tingkat akhir di Departemen Antropologi FISIP Universitas Indonesia. Terima kasih, Rizki.)