Momen senja di Labuan Bajo. Selalu menawan.(Foto:YD)

Momen senja di Labuan Bajo. Selalu menawan.(Foto:YD)

Labuan Bajo (ITN-IndonesiaTouristNews): Pengalaman di Labuan Bajo tidak melulu terkait pelabuhan, pantai dan laut. Dengan menyusuri lorong-lorong tangga di antara dan di balik deretan dive centers/dive shops, outlet trip planner dan agen-agen perjalanan kecil, tourist information center, penginapan-penginapan, dan beberapa restoran di sepanjang Jalan Soekarno-Hatta, kita bisa menemukan jejak asal-usul Labuan Bajo. Entah berapa lama lagi eksistensinya akan bertahan melihat perubahan fisik kota yang amat pesat.

Lorong-lorong tangga menuju pemukiman warga lokal di Labuan Bajo.(Foto:YD)

Lorong-lorong tangga menuju pemukiman warga lokal di Labuan Bajo.(Foto:YD)

Jejak pemukiman nelayan

Sesuai namanya, Labuan Bajo, di kota ini banyak warga keturunan suku Bajo dan Bugis-Makassar. Terutama yang bermukim di sekitar pantai dan dekat kawasan pelabuhan. Ketika menelusuri lorong-lorong tangga menuju pemukiman warga yang berada di bawah tempat-tempat usaha, rata-rata rumah-rumah dibangun dengan konstruksi rumah panggung bertiang tinggi seperti yang biasa ditemui di kampung-kampung Bajo dan rumah tradisional di Sulawesi Selatan. Seperti juga di Sulawesi sana, sekarang kolong rumah panggung diubah fungsinya jadi bagian dari tempat tinggal. Atau seperti yang tampak di beberapa bangunan di jalan raya, di bagian bawah (kolong) sebagai tempat tinggal (rumah) dan di atasnya dijadikan tempat usaha. Konstruksi itu juga menyesuaikan dengan kontur tanah berbukit.

Perkampungan nelayan di balik deretan penginapan,restoran/kafe,dive centers dan outlet di Jalan Soekarno Hatta,Labuan Bajo.(Foto:YD)

Perkampungan nelayan di balik deretan penginapan,restoran/kafe,dive centers dan outlet di Jalan Soekarno Hatta,Labuan Bajo.(Foto:YD)

Pemukiman yang ada saat ini masih menunjukkan jejak kehidupan kampung nelayan. Aktivitas keseharian nelayan seperti memperbaiki jaring di teras/kolong rumah atau di atas perahu, memuat perlengkapan melaut saat matahari condong ke barat, dan anak-anak mandi-mandi di tepi pantai. Itu semua bisa dilihat dari teras kamar penginapan, restoran dan kafe menghadap laut, atau menyusuri jalan kecil di pemukiman warga. Jalan kecil itu dibatasi dinding beton yang memisahkannya dengan laut.

Penanda lainnya, tunggu sampai makanan disajikan di warung-warung makan milik warga lokal. Komposisi lauk-pauk hingga rasa rempah-rempah yang begitu nyata dalam masakan mengingatkan pada yang saya temui dan rasakan kala berkunjung ke Makassar.

Rumah bugis di Kampung Air,Labuan Bajo.(Foto:YD)

Rumah bugis di Kampung Air, Labuan Bajo.(Foto:YD)

Konon dahulu, wilayah barat Pulau Flores termasuk wilayah Kerajaan Gowa. Begitu dikatakan seorang warga lokal menjawab penasaran saya.

Rasa Eropa

Di papan-papan di depan restoran dan kafe jamak terpampang nama-nama menu Italia, Perancis dan menu-menu Barat lainnya. Seperti di satu restoran Italia mungil yang saya kunjungi. Restoran mungil itu tampak sederhana. Ditata dengan tema rustic dan warna putih-biru mendominasi ruangan dan furniturnya. Tamu-tamu datang-pergi silih berganti. Kursi dan meja bar di beranda sempit menghadap perairan berbentuk teluk jadi tempat favorit. Sambil menikmati minuman dingin, mereka membaca, sesekali membuat catatan-catatan kecil, dan memandangi perahu-perahu dan kapal-kapal yang riuh melintas. Di dalam ruangan mengalun pelan lagu-lagu berbahasa Italia yang sesekali terinterupsi suara suling kapal dari pelabuhan. Di TV sedang disiarkan pertandingan sepak bola di Eropa. Dan di hadapan saya, sepiring home made spaghetti aglio e olio dan bruschetta dengan balsamic.

La Cucina,restoran Italia menawarkan home made cooking.(Foto:YD)

La Cucina,restoran Italia menawarkan home made cooking.(Foto:YD)

“Begini rasa Italia di Labuan Bajo,” begitu terbersit dalam benak saya.

Lansekap Labuan Bajo dilihat dari laut memang mampu melayangkan lamunan para travelers pada kawasan pesisir di selatan Eropa. Menurut seorang pelayan di salah satu restoran, tak sedikit restoran dan kafe di jalan utama kota ini punya orang asing. Keberadaannya membantu akomodasi tempat makan yang bersih dan menyajikan makanan yang bisa memenuhi perasaan rindu rumah wisatawan asing. Meskipun mereka juga tidak keberatan menyantap hidangan lokal.

Jauh sebelum Labuan Bajo seperti saat ini, akulturasi dan asimilasi telah berlangsung selama ratusan tahun. Pada umumnya, tidak ada perbedaan dan pembedaan antara pendatang dan native. Orang Flores, Bajo, Bugis-Makassar, dan Bima seolah melebur menciptakan karakter masyarakat dan kehidupannya sendiri di sana. Sekarang, menyatunya beragam cita rasa dan nuansa mulai dari warung makan lokal hingga restoran dan kafe mewakili keunikan dan cairnya kehidupan kota ini.

Kuliner vegan dan kuliner halal untuk mengakomodasi wisatawan vegan dan wisatawan muslim.(Foto:YD)

Kuliner vegan dan kuliner halal untuk mengakomodasi wisatawan vegan dan wisatawan muslim.(Foto:YD)

Mengejar kualitas bintang 5

Labuan Bajo berada di kontur tanah perbukitan menghadap lurus ke arah barat. Bukit-bukit berubah warna merah-kecokelatan saat sinar mentari senja menerpa. Kualitas momen senjanya bintang 5 di manapun kita berada. Meskipun udaranya panas dan kering terlebih lagi di musim kemarau. Bangunan-bangunan seolah berundak-undak. Tatkala melihatnya dari laut, sungguh cantik rupawan.

Setelah menelusuri lorong-lorong tangga menuju ke pemukiman warga dan menikmati momen-momen senja dari berbagai sudut, Labuan Bajo secara alamiah luar biasa. Tetapi untuk mencapai pengalaman kualitas bintang 5 secara keseluruhan jelas kota ini sangat memerlukan pengelolaan yang tidak biasa.

Itu bisa dimulai dari memberi penutup tempat-tempat sampah yang telah ditempatkan dalam rentang jarak antara 5-10 meter dan diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA) secara berkala setiap hari. Pemasangan pengelolaan limbah (IPAL) yang dipasang di kampung-kampung terdepan dengan laut merupakan langkah yang perlu terus dikembangkan di kampung-kampung lain. Namun tidak kalah penting, mengedukasi masyarakat, seluruh pelaku pariwisata dan wisatawan — lokal, domestik dan asing  — sama-sama mempertanggungjawabkan sampah dan limbah yang dihasilkannya.

Mengenai sampah, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur Marius Jelamu mengatakan, akan dibangun tempat pembuangan akhir sampah di Labuan Bajo tahun depan. Masyarakat, komunitas dan lembaga-lembaga swadaya pun sudah bergerak mengupayakan kebersihan dari daratan hingga ke perairan dan pulau-pulau kecil.

Kota ini pun memerlukan penataan zona dan penegakan aturan zonasi secepatnya. Misalnya, zona parkir, pedestrian dan tangga-tangga yang nyaman dilalui dan diterangi dengan penerangan cukup terutama pada malam hari sampai pagi, dan dermaga-dermaga dengan tangga-tangga layak untuk naik-turun perahu dan kapal. Ini mengingat sebagian besar aktivitas wisatawan di Labuan Bajo telah dimulai semenjak pagi buta hingga sore hari di dermaga-dermaga. Lalu pada malam harinya menyusuri jalan-jalan di kota mencari tempat-tempat bersantap malam sembari bersantai.

Transportasi publik di darat dari dan ke Bandara Komodo-kota serta antarkota perlu diatur agar lebih tertib. Sehingga wisatawan yang datang merasa aman dan nyaman. Mulai dari bandara, selama di kota, bahkan untuk mengekplorasi Pulau Flores lebih jauh.***(Yun Damayanti)