Pesawat-pesawat baru di Indonesia, canggih dan dinyatakan efisien.

Pesawat-pesawat baru di Indonesia, canggih dan dinyatakan efisien.

Di tengah pertumbuhan jumlah penumpang penerbangan domestik di Indonesia yang termasuk “tertinggi di dunia”, maskapai penerbangan kita pun berhadapan dengan risiko tinggi pula. Pengelolaan yang kurang “canggih” akan bisa berakibat fatal, mulai dari risiko kerugian hingga penghentian operasi. Beberapa sudah mengingatkan: Batavia Air tutup, Merpati nyaris tutup, baru-baru ini diberitakan Sky Aviation berhenti beroperasi, Tiger Mandala menghentikan (sementara) beberapa rute penerbangannya, Riau Airlines dalam keadaan tak menentu, sementara ada airlines di daerah yang tak bisa memelihara  pelaksanaan jadwal-jadwal terbang yang semakin menghilangkan kepercayaan publik. Bersamaan itu, ada operator seperti Lion Air yang sedang menambah terus jumlah armada dan termasuk “fantastis”, selain Garuda Indonesia, Sriwijaya Air dan Susy Air.

Di negeri tetangga, diberitakan Malaysia Airlines ( kita ikut merasa berduka cita yang dalam  atas musibah yang menimpa MH370 beserta seluruh penumpang dan kru) )menderita rugi selama tiga tahun terakhir 1,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 13,68 triliun (kurs 1 dollar AS = Rp 11.400). Kerugian diproyeksikan masih akan berlangsung tahun-tahun ini.

Di Australia, Qantas saat ini bergulat untuk bisa hidup terus lantaran menderita rugi berat, membutuhkan perlindungan pemerintah untuk boleh menambah hutang modal, atau mengurangi ribuan tenaga kerja dari pekerja total 33 ribu orang, atau harus mengurangi biaya hingga 2 miliar dollar, atau pemerintah mengubah Undang-undang agar mengizinkan kepemilikan asing lebih dari 49 persen.

Maklumlah, bisnis penerbangan adalah “ capital- high technology – human power intensive, dan high risk intensive”.

Tapi memang, baru-baru ini Direktur Jendral The International Air Transport Association (IATA) Tony Tyler mengemukakan analisa dalam beberapa kesempatan. Menurutnya, secara umum outlook bisnis angkutan udara menunjukkan positif. Siklus kemajuan ekonomi mendukung permintaan yang kuat. Itu menjadi kompensasi dari berbagai tantangan yang dihadapi oleh industri ini seperti biaya bahan bakar yang lebih tinggi dan terkait dengan keadaan geo-politik kawasan. Pengembalian keuntungan secara keseluruhan tetap berada pada tingkat yang tidak memuaskan dengan margin laba bersih hanya 2,5 persen.

Efisiensi struktur industri ditingkatkan melalui konsolidasi dan kerja sama operasi yang memberikan nilai lebih kepada penumpang dan membantu maskapai penerbangan untuk tetap membukukan keuntungan bahkan dalam kondisi perdagangan yang sulit sekalipun. Tapi, masih diperlukan pemerintah yang memahami hubungan antara kebijakan yang ramah penerbangan dan manfaat ekonomi yang lebih luas. Di berbagai belahan dunia, industri ini membawa tenaga bawaan mendorong kemakmuran melalui konektivitas tapi terganggu dengan beban pajak yang tinggi, infrastruktur yang tidak memadai dan regulasi yang berat.

 

 Menguatnya permintaan penumpang tahun 2014

 

Kabar baiknya saat ini ialah: “Tahun 2014 adalah awal yang kuat, dengan permintaan perjalanan yang mempercepat hasil yang sehat yang dicapai tahun 2013. Ini sejalan dengan pertumbuhan kuat di negara-negara maju dan di kawasan negara-negara berkembang.,” menurut CEO IATA itu  .

IATA juga  mengumumkan hasil lalu lintas penumpang global Januari 2014 yang menunjukkan peningkatan permintaan cukup  tajam. Jumlah pendapatan penumpang per kilometer (Revenur Passenger  Kilometers/RPK) naik 8,0% dibandingkan dengan Januari 2013, perbaikan pertumbuhan terhadap Desember 2013 sebesar 6,8% pertumbuhan selama tahun 2013 yang hanya 5,2%. Kapasitas Januari 2014 pun meningkat 6,7%, didorong oleh load factor yang naik 0,9 poin menjadi 78,1 persen.

Hmm, industri penerbangan nasional kita berhadapaan dengan kehati-hatian, ibarat pesawat terbang yang berbelok-belok di sela-sela gunung menjulang dan cuaca sedang berubah-ubah setiap saat. Mungkin masyarakat boleh juga ber-empati terhadap industri penerbangan kita. ***