PETA PARIWISATA KITA DEWASA INI       Oleh Arifin Hutabarat

 

Yah, jangan kita lupa berangsur gunakan aplikasi yang menjual di ponsel.

Yah, jangan kita lupa berangsur gunakan aplikasi yang menjual di ponsel.

Pada saat –saat ini terasa kita terbatas sekali bisa meraba-raba dan memaknai apa yang sedang terjadi di pariwisata, yaitu berdasarkan gerak-gerak dan statement dari Presiden Joko Widodo (Presiden Jokowi). Menteri umumnya dan khususnya Menteri Pariwisata (dan Ekonomi Kreatif) tampak seperti tak berkemampuan berbicara. Keadaan itu bukan saja bisa dimaklumi, tetapi juga mencerminkan situasi yang dihadapi. Presiden Jokowi menurut kenyataanya sebenarnya tergolong tak banyak bicara, tetapi setiap penggalan pernyataannya di bidang pariwisata, dewasa ini bisa dijadikan pedoman dan dimaknai apa yang sedang dilakukan di pariwisata.

Tentang destinasi Komodo, misalnya. Diberitakan, pada tanggal 19-21 Januari 2020, Jokowi berkunjung ke Labuan Bajo, kesekian kali Presiden datang ke destinasi tersebut. Di situ menegaskan pengembangan Labuan Bajo dimulai tahun ini, saat memimpin rapat terbatas membahas  pengembangan Destinasi Wisata Labuan Bajo di Plataran Komodo Resort, Labuan Bajo, Senin (20/1/2020. Penataan kawasan, menjadi salah satu yang akan dibenahi.

Nah, ihwal penataan kawasan di setiap destinasi itulah yang tampak merupakan pekerjaan pada umumnya di pariwisata kita dewasa ini. Ada pertanyaan, apakah terusterusan diperlukan peninjauan on the spot oleh Presiden Jokowi sendiri, agar supaya apa yang sudah menjadi strategi, yaitu tahun ini pengembangan destinasi prioritas dilaksanakan secara konsekwen dan konsisten oleh aparatur dan pelaksana di daerah destinasi?

Situasi ini mencerminkan kembali wajah pengelolaan kepariwisataan kita secara nasional. Teringat lagi pada konstatasi yang diajukan oleh teman-teman di pengurus GIPI (Gangunan Industri Pariwisata Indonesia) di akhir tahun 2018, ketika mereka menyatakan bahwa “pembangunan dan pengembangan pariwisata Indonesia telah dengan  tegas dan jelas membagi level pengelolaannya terdiri atas Manajemen Top  Nasional,  dipimpin langsung oleh Presiden RI, Manajemen/Marketing Nasional dipimpin oleh Menpar didukung semua Menko/Menteri, Manajamen Daerah/Destinasi oleh Pemda dan Pentahelix daerah, dan Marketing Daerah/Destinasi dengan prinsip Industry Lead Government Support.”

***

     Sementara itu di sektor pemasaran dan penjualan produk pariwisata mancanegara, ada satu judul kabar yang hampir luput dari perhatian. Yaitu, hasil sebuah riset di Eropa bagaimana tahun 2019 yll dinyatakan “ OTA Eropa berinvestasi besar-besaran di situs dan aplikasi seluler.”

Analisis hasil penelitian tersebut menyebutkan, bahwa pertumbuhan pemesanan OTA datang dari situs web dan aplikasi seluler, tempat OTA (terutama para pemimpin global dan Eropa) melakukan investasi besar. Pada tahun 2019, pemesanan seluler OTA untuk pasar Eropa naik 11%, sementara pemesanan desktop OTA benar-benar turun 1%, mengikuti tahun yang datar di tahun 2018. Tren ini akan berlanjut selama beberapa tahun ke depan; Pertumbuhan ponsel OTA akan berada di kisaran 9-10% hingga 2023, sementara pemesanan desktop kemungkinan akan sedikit datar atau turun.

***

     Tak ada salahnya dicatat kembali di sini apa yang sedang terjadi di tetangga kita yang satu berikut ini . Tahun 2020, Otoritas Pariwisata Thailand (TAT) mengharapkan 3,18 triliun Baht pendapatan pariwisata keseluruhan, meningkat 4% YoY di mana di dalam peningkatan itu termasuk 2,02 triliun Baht dari wisatawan mancanegara (naik 3%) dan 1,16 triliun Baht dari wisatawan domestik (naik 5%).

Tahun 2019, pendapatan devisa 3,06 triliun Baht meningkat 4% dari 2018 yang terdiri dari 1,96 triliun Baht (naik 4%) dari 39,77 juta wisatawan internasional (juga naik 4%) dan 1,10 triliun Baht (naik 3%) dari 167 juta perjalanan domestik (naik 1%).

Sudah lebih tiga tahun ini Thailand telah lebih mendahulukan nilai devisa atau keuangan  dari hasil kunjungan wisman maupun wisatawan domestik atau singkatkanlah dengan wisdom, di Indonesia kita sebut wisnus atau wisatawan nusantara.

Contohnya dapat ditampilkan di bawah ini pencatatan hasil pariwisata di Thailand tahun 2019 dan prospek di tahun 2020 :

2019 2020
Nilai pendapatan keseluruhan kunjungan wisata USD 100.980.000.000 USD 104.940.000.000
Nilai pendapatan dari kunjungan wisman USD 64.680.000.000

39,77 juta wisatawan mancanegara

USD 66.660.000.000
Jumlah wisdom (wisatawan domestik) 167.000.000 perjalanan 165 juta perjalanan
Nilai pendapatan wisdom USD 36.300.000.000 USD 38.280.000.000

Sumber diolah dari data TAT. Perhitungan Baht 1 = USD 0,033.

Ada upacara diberitakan di bandara internasional Bangkok, Thailand menyambut turis ke-39 juta tahun 2019 pada 27 Desember 2019.

Target TAT untuk tahun 2020 didasarkan pada beberapa faktor yang dinyatakan menguntungkan, yaitu ada 16 langkah-langkah stimulus pemerintah, diadakan fokus strategi pemasaran TAT dan promosi destinasi baru, rute udara baru dan pandangan positif turis internasional ke Thailand dari pasar sumber utama.

Strategi baru itu sebenarnya sudah diisyratkan sejak bulan Juli yang lalu (2019), di mana ketika itu kita beritakan di sini juga antara lain sebagaai berikut:

Eksekutif TAT memperkirakan 42 juta orang asing akan tiba di Thailand tahun depan, memberikan kontribusi sekitar 2.430 miliar baht atau sekitar US $ 79 miliar terhadap total pendapatan, atau 65%, sementara perjalanan domestik akan mencapai 1.280 miliar, sekitar US $ 41,6 miliar.

TAT berfokus pada peningkatan penjualan pengalaman lokal dan mendorong pengunjung untuk kembali.

Tossaporn Sirisamphan, Ketua dewan otoritas pariwisata Thailand, mengatakan penting bagi pihak berwenang untuk meningkatkan tujuan wisata yang ada dan menawarkan atraksi baru. Dia menambahkan bahwa rencana kebijakan pariwisata nasional berfokus pada mempromosikan pariwisata di apa yang disebut provinsi sekunder untuk mengarahkan pendapatan ke populasi lokal.

Data lain menyebutkan, bahwa pada 2016, Thailand memiliki 32,6 juta pengunjung, naik hampir sembilan persen dari 2015. Pada tahun 2017 jumlah wisatawan yang berkunjung ke Thailand melebihi 35 juta. diperkirakan pengeluaran wisatawan harian meningkat menjadi 5.200 baht per orang pada 2017, naik dari 5.100 baht pada 2016.***

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) kita tampak terpaksa melaksanakan saja gaya dan metoda lama ketimbang belum ada stategi atau taktik atau kegiatan baru di sektor pemasaran dan penjualan itu.  Yaitu ikut saja pameran dan bursa pariwisata Thai International Travel Fair (TITF) di Bangkok, Thailand pada 16-19 Januari 2020 pekan lalu.

Memang, ke sana difasilitasinya 7 pelaku usaha pariwisata, yaitu Anema Wellness & Resort Lombok (NTB), Just Holiday Tour & Travel (Jawa Barat), Oakwood Hotel & Residence (Jawa Timur), Padma Tour (Bali), Toya Devasya (Bali), Bepe Tours (DIY), dan Index Wisata Tours (DIY).

Menurut siaran pers dari Kemenparekraf, pameran itu B to C (business to consumer) diikuti sekitar 300 industri pariwisata dan NTO (National Tourist Organization) sebagian besar dari Asia (terbanyak dari Jepang), booth Wonderful Indonesia gencar mempromosikan produk pariwisata destinasi unggulan, yakni Bali dan 5 destinasi super prioritas Danau Toba, Likupang, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo. Kemenparekraf yang menyebutkan, bahwa selama 4 hari pameran itu, pelaku bisnis pariwisata Indonesia mendapat 192 appointment dengan 510 potential pax senilai Rp2,6 miliar.Tahun lalu Thailand memberikan kontribusi ke Indonesia sebesar 162.000 wisman atau di atas target yang ditetapkan sebesar 152.000 wisman.

Selama 4 hari pameran, para pengunjung sebagian besar kaum muda dengan usia 20 – 40 tahun berasal dari Thailand, Malaysia, dan Singapura. Mereka  berprofesi sebagai pegawai negeri, profesional, wiraswasta, mahasiswa, dan pelajar. Sebagian besar mereka pernah berkunjung ke Indonesia dengan lama tinggal 4 – 7 hari. Destinasi wisata yang menjadi favorit bagi para pengunjung pameran adalah Bali, Jakarta, Joglosemar (Jogja, Solo, Semarang), dan Lombok. Sedangkan aktivitas yang mereka gemari adalah adventure, culture, dan shopping.

***

     Catatan ini mengingatkan, kita jangan lupa memperhatikan peran yang kian kuat di sektor pemasaran dan penjualan, yaitu pembelian alias pemesanan produk wisata melalui ponsel dengan platform aplikasi.. Kalau mau mengikuti atau mengadakan Pameran pariwisata dan salesmission atau semacamnya, sudah harus di up date lagi tentang kontennya, taktik dan pendekatannya, dan tidak sekedar menerus-neruskan cara dan gaya lama, untuk efektif berhasil.***

[tell-a-friend id=”1″ title=”Tell a friend”]