(Sumber:PT Pelni)

(Sumber:PT Pelni)

Pada musim mudik Lebaran 2017, PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) menawarkan program mudik gratis bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan, juga mudik murah. Program-program ini untuk mengalihkan beban jalan raya, terutama di Pulau Jawa, yang selalu dikepung kemacetan setiap tahun saat semua orang pergi bersamaan menuju kampung halaman masing-masing. Sedangkan di laut bebas macet dan kosong. Program-program ini menyasar kepada para pemudik yang membawa sepeda motor. Dengan memanfaatkan kapal laut, baik motor, bagasi dan penumpangnya sama-sama diangkut dengan kapal yang sama. Motornya aman, penumpangnya juga nyaman karena dapat beristirahat. Jarak waktu tempuhnya lebih kurang sama dengan mereka menempuhnya di darat hingga sampai ke tujuan.

Begini mudik dengan kapal yang ditawaarkan Pelni sekarang.(Foto:PT Pelni)

Begini mudik dengan kapal tanpa meninggalkan motor di rumah yang ditawarkan Pelni sekarang.(Foto:PT Pelni)

Dalam program TV Economic Challenge yang ditayangkan Metro TV, Selasa (6/6), Elfien Guntoro, Direktur Utama PT Pelni menerangkan, kapal laut sekarang tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi saja. Fasilitas di atas kapal sekarang tidak jauh berbeda dengan yang ada di darat. Fasilitas kelas di kapal pun semakin mirip dengan hotel. Manajemen Pelni juga terus meningkatkan fasilitas di atas kapal seperti keamanan dan kenyamanan penumpang.

“Dengan naik kapal, bisa bawa motor. Di atas kapal tersedia fasilitas makan dan tidur gratis. Ini kami kemas dalam program mudik murah,” ujar Elfien.

Selama ini, kapal penumpang, tak terkecuali kapal-kapal yang dioperasikan oleh Pelni, identik dengan membludaknya penumpang hingga memenuhi selasar-selasar di dek-dek terutama pada musim mudik Lebaran dan Natal.

(Sumber:PT Pelni)

(Sumber:PT Pelni)

Manager Humas PT Pelni Sujadi menerangkan, pembatasan penumpang di kapal-kapal Pelni sudah dimulai sejak tahun 2014. Saat ini hasilnya lebih sempurna dengan penerapan sistem pembelian tiket atas nama identitas penumpang yang bepergian. Sistem pemeriksaan tiket dengan DCS di pelabuhan merupakan upaya Pelni dalam memberikan keamanan dan kenyamanan penumpang.

Pada musim mudik, Kementerian Perhubungan menentukan batas toleransi angkut kapal. Maksimal 40% dari kapasitas angkutnya.

“Batas toleransi angkut kapal tergantung hasil survei Kementerian Perhubungan. Setiap kapal berbeda-beda dispensasinya. Maksimal 40% dari kapasitas daya angkutnya. Contoh, kapal tipe 2000 penumpang boleh mengangkut tambahan penumpang sampai dengan 800 orang. Pembatasan penumpang dilakukan dengan membatasi penjualan tiket, mengecek tiket penumpang dengan sistem DCS dan kartu identitas penumpang. Tanpa tiket, penumpang tidak akan bisa naik ke kapal, siapapun, termasuk keluarga pegawai harus mempunyai tiket,” ujar Sujadi.

KM Kelud.Nasabah BRI bisa ikut program mudik gratis 2017 di kapal ini.(Foto:YD)

KM Kelud. Nasabah BRI bisa ikut program mudik gratis 2017 di kapal ini.(Foto:YD)

Selain pasar penumpang yang tergerus karena persaingan antarmoda, tantangan lain di transportasi laut adalah konektivitas di pelabuhan. Ini diakui oleh Dirut Pelni. Dari pelabuhan besar tempat kapal-kapal Pelni bersandar, dibutuhkan pengembangan konektivitas di laut dan darat. Di laut, dibutuhkan kapal-kapal RoRo dan perintis untuk mengangkut penumpang ke pulau-pulau kecil. Di darat, jarak dari pelabuhan ke daerah-daerah tujuan pemudik relatif jauh. Pada umumnya, angkutan umum yang melayani hingga ke dalam kawasan pelabuhan masih amat terbatas atau tidak ada sama sekali. Sehingga konektivitas di darat dari pelabuhan dilayani oleh kendaraan bukan angkutan dengan biaya yang cukup mahal hingga sampai ke tujuan.

Terkait konektivitas di pelabuhan, Sujadi mengatakan, dahulu Pelni sempat menyediakan bis dari Pelabuhan Tanjung Priok ke terminal bis dan Stasiun Gambir. Menurut rencana, itu akan diadakan lagi.

Jadi, bagi pemudik yang enggan meninggalkan sepeda motornya di rumah selama mudik, atau hendak menggunakan sepeda motornya di kampung halaman, sekarang tidak perlu lagi bersusah payah menembus panas-dingin jalan raya dan bermacet-macetan dengan risiko kecelakaan yang tinggi. Masih terbuka penawaran dari transportasi laut untuk mengangkut kendaraan pribadi, bagasi dan anggota keluarga sekaligus dalam rangka pulang kampung dengan aman dan nyaman. Lagipula, melihat daratan dari atas lautan jauh lebih asyik daripada memandang deretan panjang kendaraan di jalan raya.*** (Yun Damayanti)