Pelabuhan ferry yang menyeberangkan wisatawan ke Kabupaten Raja Ampat berada di pelabuhan rakyat di kota Sorong. Perairannya dalam tapi belum ada tanda-tanda bagaimana pelabuhan ini akan dikembangkan sehingga wisatawan dan masyarakat lokal bisa sama-sama menikmati pelabuhan dan pelayarannya. (Foto: YD)

Pelabuhan ferry yang menyeberangkan wisatawan ke Kabupaten Raja Ampat berada di pelabuhan rakyat di kota Sorong. Perairannya dalam tapi belum ada tanda-tanda bagaimana pelabuhan ini akan dikembangkan sehingga wisatawan dan masyarakat lokal bisa sama-sama menikmati pelabuhan dan pelayarannya. (Foto: YD)

Manusia mengarungi lautan. Laut sumber kehidupan dan inspirasi. Dari laut beragam macam peradaban tumbuh silih berganti. Jauh di dalamnya banyak misteri menunggu dikuak.

Sebuah perjalanan dalam kegiatan pariwisata diartikan sebagai melakukan kegiatan di luar rutinitas sehari-hari untuk mendapatkan pengalaman baru dari yang dillihat, didengar dan dilakukannya. Makna itu kini lebih diperluas lagi. Pengalaman dan kenangan dari suatu perjalanan  bukan hanya berdampak pada diri individu semata namun ada respon balik dengan terbukanya kesempatan berinvestasi, meningkatkan kegiatan perekonomian, serta menumbuhkan kesadaran menjaga dan melestarikan alam dan lingkungan yang semuanya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan suatu daerah.

Perkembangan teknologi transportasi membuat perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lain semakin cepat. Meskipun demikian, ada sebagian orang yang memaknai perjalanan bukanlah mengenai kecepatan tiba di tempat tujuan dan tidak bisa dinikmati dalam waktu singkat. Salah satu yang bisa mengakomodasi permintaan semacam itu adalah wisata bahari.

Infrastruktur utama dalam wisata bahari terletak di pelabuhan. Banyak pelabuhan di Indonesia belum melihat kegiatan pariwisata sebagai kegiatan ekonomi berkelanjutan dalam jangka panjang. Tanpa melupakan fungsi vitalnya dalam efisiensi lalu lintas barang antarpulau, fungsinya sebagai lalu lintas penumpang, yang mana di sinilah kegiatan pariwisata sangat potensial untuk dikembangkan, tampak masih dikesampingkan. Lalu lintas penumpang di pelabuhan tercitrakan hanya untuk masyarakat golongan ekonomi ke bawah, bagi masyarakat di pedalaman yang hanya bisa diakses melalui laut, lalu fasilitas terminal penumpang tampak dibuat seadanya.

Pelabuhan Ulee Lheu, Banda Aceh dan Balohan, Sabang di ujung Pulau Sumatera, pelabuhan di Sorong dan Waisai di Papua Barat, dan pelabuhan di Labuan Bajo, NTT, memang bukan pelabuhan utama atau kelas satu. Tapi, sudah disinggahi ribuan wisatawan dari mancanegara dan Nusantara. Apakah pelabuhan-pelabuhan itu awalnya dirancang dan diperuntukkan bagi kegiatan pariwisata? Tidak. Apakah wisatawan mencari atau membutuhkan pelabuhan laut yang megah dengan bangunan modern dan fasilitas serba canggih? Tidak selalu.

Persamaannya, sebagai pelabuhan alam dengan pemandangan di sekitar yang aduhai. Keberadaannya sudah lama dimanfaatkan warga setempat menjadi tempat lalu lintas barang dan orang. Interaksi warga memberi ‘nyawa’ di pelabuhan dan banyak yang belum menyadari itulah potensi obyek wisata yang belum digarap dan ditawarkan kepada para wisatawan yang bercampur baur dengan penduduk lokal.

Di terminal penumpang disediakan tempat-tempat duduk. Di sebagian besar pelabuhan-pelabuhan itu sudah disediakan kios-kios dan banyak di antaranya digunakan untuk menjual makanan dan minuman. Alangkah senangnya bila ada jaminan makanan dan minuman di sana terjaga kebersihan dan higienitasnya. Keindahan pemandangan di sekitar pelabuhan yang bisa dinikmati dari dalam terminal penumpang sekaligus bisa mencicipi kulinari khas di daerah tersebut, berupa secangkir kopi misalnya, akan menjadi bonus bagi siapapun.

Lalu, tersedia toilet yang bersih, tidak becek, dan ada airnya. Perjalanan menyeberang dengan kapal cepat dari Banda Aceh-Sabang dan sebaliknya sekitar 45-60 menit. Dengan kapal ferry bisa lebih dari itu. Jarak tempuh dari Sorong-Waisai ibukota Kabupaten Raja Ampat dan sebaliknya dua jam perjalanan. Memang ada toilet di atas kapal tapi masih kurang nyaman digunakan. Terminal penumpang di Pelabuhan Waisai belum lama selesai dibangun tapi fasilitas toilet umumnya sudah tidak bisa dipakai lagi. Tak ada wisatawan mempermasalahkan turun di pelabuhan penumpang atau pelabuhan rakyat. Bagaimanapun pasti akan ada saja yang mencari toilet. Itu juga salah satu fasilitas umum dasar yang mesti ada di mana saja.

Di Pelabuhan Balohan, Sabang sekarang para pengemudi taksi dan becak motor tidak bergerombol di depan kapal yang baru sandar di dermaga. Mereka menunggu dengan sabar di pintu keluar. Pergerakan penumpang nyaman dan lebih leluasa. Mobil dan becak diparkir rapi dan teratur. Tamu-tamu yang datang akan lebih terbantu apabila di terminal penumpang pelabuhan ini bukan hanya transportasi umum dan porter yang diatur tapi juga disediakan petunjuk berupa peta, rute-rute dan pilihan transportasi yang ada, pusat informasi daerah dan pariwisata setempat, serta beberapa toko suvenir.

Pantai, laut dan budaya

Wisata bahari Nusantara bukan hanya menawarkan pasir pantai berwarna putih, keemasan, pink hingga hitam, dari tekstur seperti tepung hingga kerikil, atau berupa gugusan pulau atol di tengah lautan berwana hijau toska hingga biru. Mengapa banyak wisatawan asing akhirnya menetap di kawasan-kawasan bahari paling eksotis di negeri ini? Budaya.

Berwisata di Sabang tidak sama dengan berwisata di Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku atau Papua. Untuk menghormati keyakinan mayoritas penduduk setempat, wisatawan tidak bisa seenaknya berpakaian terlalu terbuka di Sabang. Di Raja Ampat, Papua Barat, selain tidak bisa menyelam sembarangan juga tidak bisa memancing ikan seenaknya karena ada budaya sasi di sana. Yakni, ada hari-hari tertentu dalam seminggu yang tidak diperbolehkan menangkap ikan. Agar ada waktu bagi ikan-ikan untuk bereproduksi dan beregenerasi.

Penduduk lokal masih mempertahankan adat dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Menciptakan nuansa komunal yang kental dan memelihara orisinalitas (genuine) daerahnya. Ini terjadi terutama di pulau-pulau selain pulau-pulau utama.

Tapi, informasi-informasi mengenai adat dan kebiasaan lokal yang tampaknya masih perlu disosialisasikan lebih gencar kepada khalayak yang lebih luas baik melalui media tradisional seperti brosur, pamflet, baliho di pintu-pintu masuk menuju destinasi tersebut, maupun secara online. Informasi yang benar dan akurat tidak akan membuat mundur keinginan wisatawan untuk mengunjungi destinasi. Asalkan, mereka sudah mendapatkan informasi tersebut sebelum sampai di tujuan sehingga dia sudah mempersiapkan diri.

Wisata pesiar

Bagi masyarakat yang sudah terbiasa berpesiar di laut dengan menggunakan cruise ship maka berpesiar dengan kapal-kapal berukuran lebih kecil tidak disebut ‘pesiar’. Kita sederhanakan sejenak ‘pesiar’ sebagai kegiatan menyusuri atau berlayar di atas perairan (di lautan dan daratan) baik menginap maupun tidak. Kegiatan berpesiar di laut, juga di sungai dan danau, relatif belum terlalu dikenal dan dipahami oleh masyarakat Indonesia. Masih dianggap baru dan dilihat sebagai wisata mahal.

Bisnis berpesiar di laut menggunakan kapal-kapal kayu (live aboard) bukan hal asing lagi di perairan Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi hingga ke kepulauan Maluku dan Papua. Dari kelas backpacker hingga kelas butik. Penumpangnya mulai dari mahasiswa hingga selebritas dunia seperti baru-baru ini dilakukan oleh aktris Hollywood Gwyneth Paltrow. Belum lagi para nelayan di kawasan-kawasan yang telah menjadi destinasi wisata bahari, selain menjadi nelayan kini mereka juga menjalani bisnis penyewaan kapal untuk kegiatan wisata harian (tidak menginap, red.). Berpesiar di laut ternyata bukan barang baru di negeri maritim ini, hanya banyak yang belum dikelola secara profesional dan berstandar internasional dan peminatnya relatif didominasi wisman.

Dengan komposisi penduduk berusia produktif lebih besar dan pertumbuhan kelas menengah meningkat setiap tahun, bukan tidak mungkin wisatawan nusantara pun akan meliriknya. Sebuah operator tur di Pulau Belitung bekerja sama dengan para nelayan di Tanjung Kelayang untuk membawa tamu yang umumnya wisnus menyusuri perairan di sekitar Belitung sambil island hoping. Sebuah operator tur lokal di Lombok mengatakan dia punya jadwal tur berlayar tetap dari Lombok ke Labuan Bajo sekali seminggu, bahkan bisa sampai dua kali pada puncak liburan. Diatara wisatawan asing terselip juga wisatawan domestik. Pemainnya pun cukup banyak.

Jadi, definisi dan pemahaman apa yang digunakan dalam kegiatan berpesiar di laut, semua akan bermuara pada penyediaan infrastruktur pelabuhan yang baik, yang bisa menampung kapal dari berbagai ukuran, menciptakan suasana yang aman dan nyaman, pelayanan kapal dan penumpang terintegrasi dan efisien, dan daerah tempat pelabuhan berada bisa menjadi destinasi menarik untuk dikunjungi. Kalaupun obyek wisata berada di luar pelabuhan, daerah itu perlu mempersiapkan dan menyediakan akses yang efisien dan nyaman menuju ke sana. Memanfaatkan transportasi tradisional seperti becak boleh-boleh saja asal jalurnya memungkinkan. Dengan segala kondisinya, pelabuhan-pelabuhan tersebut telah bercerita mengenai Indonesia yang sebenarnya. (Yun Damayanti)