Konter di terminal keberangkatan domestik bandara Pekanbaru.

Konter di terminal keberangkatan domestik bandara Pekanbaru.

Bandara dan aksesibiitas udara ke Pekanbaru bisa berperan ujung tombak memasarkan destinasi Sumatera Barat, hingga bandara Minangkabau International Airport (MIA) di Padang nanti dihubungkan kembali langsung ke dan dari Singapura. Sebab, setelah  operator Tiger  Mandala menghentikan penerbangannya Singapura-Padang awal tahun 2013, hingga kini belum ada lagi penerbangan langsung.

Bandara MIA di Padang itu masih terbuka lebar dari sudut kapasitasnya untuk menerima penerbangan.

Banyak yang mempertanyakan ketika berlangsung TIME 2013 (Pasar Wisata Internasional) di Padang pertengahan Oktober yang lalu. Bagaimana mempromosikan Padang dan destinasi Sumatera Barat dengan maksimal, kalau penerbangan langsung dari luar negeri sampai sekarang hanya dari Kuala Lumpur? Mengapa tak ada dari Singapura?

Untuk sementara diwacanakan pemasaran Sumatera Barat ke luar negeri dengan pintu masuk melalui Pekanbaru. Memang, bandara Pekanbaru dilayani saat ini oleh penerbangan langsung dengan Singapura 6 kali sehari, dan Kuala Lumpur dua kali sehari. Bandara ini dilayani penerbangan setiap hari ke Jakarta 21 kali, Batam 3 kali, Medan 5 kali, Yogya 2 kali, Padang 1kali.

Bagaimana dengan bandara MIA di Padang? Dari Singapura tidak ada, dari Kuala Lumpur 2 kali sehari, Batam 3 kali, Jakarta 17 kali, Medan 3 kali sehari.

Ada pertanyaan. Mengapa Tiger Mandala membuka penerbangan Padang-Singapura mulai 1 Desember 2012, tetapi tiga bulan kemudian dihentikannya? Tentu pertimbangannya lantaran tidak mencukupi jumlah penumpang sehingga passenger load factor tidak mencapai tingkat yang menguntungkan secara komersial.

Dua kemungkinan sebabnya. Pertama, tentulah perencanaan operator penerbangannya kurang tepat atau kurang jitu, termasuk rencana pemasarannya. Itu dari sudut peran maskapainya. Dari sudut sebaliknya yakni dari sudut pasar, mengindikasikan pelaku bisnis pariwisata di Padang, kurang sigap menyambutnya. Sedari sebelum beroperasi, apalagi sesudah penerbangan tersebut mulai beroperasi , para pelaku bisnis di destinasi wisata Sumatera Barat mestinya menyambut dengan langkah pemasaran dan penjualan juga untuk menarik wisman dari Singapura.

Trade follow the ship berlaku di situ.  Ketika airlines sudah mau membuka satu rute, maka stakeholders di destinasi mestinya langsung bereaksi dengan memanfaatkan seat capacity yang tersedia, membuat paket wisata dan memasarkannya dengan efektif. Kalau kabin penumpang pesawat terisi cukup, tentu tidak akan dihentikan. Bahkan akan ditingkatkan frekuensinya. ***