PATA Global Insights Conference 2015

The Pacific Asia Travel Association (PATA) akan menyelenggarakan PATA Global Insights Conference 2015 pada 16 Oktober 2015 di Auckland, Selandia Baru. Konferensi yang baru pertama kali diselenggarakan ini akan mengeksplorasi pengaruh-pengaruh kunci yang akan mendorong dan membentuk pemikiran pengembangan tujuan wisata, desain, akses dan pemasaran di masa depan.

“PATA memahami banyak perubahan terjadi dalam industri. Even ini akan memungkinkan semua pemangku kepentingan yang terlibat dan berpengaruh dalam industri perjalanan dan pariwisata untuk mendapatkan wawasan dan pengetahuan berharga mengenai tren masa depan. Ini kesempatan sempurna memutus mentalitas tradisional dan mengeksplorasi ide-ide dan konsep-konsep baru,” ujar CEO PATA Mario Hardy.

     The PATA Global Conference 2015 mempertemukan kedinamisan dan keunikan pemikiran-pemikiran inovatif dan mencerahkan dari para pemimpin internasional yang diakui keahlian dan kesuksesannya.  Topik-topik utama yang akan dianalisis dan didiskusikan pada konferensi tersebut termasuk perkembangan teknologi digital yang amat pesat dan dampaknya terhadap pengelolaan pertumbuhan industri ini lebih lanjut; ritel dan sistem pembayaran daring serta pengalaman pembelian oleh konsumen; meningkatkan akses pasar melalui ekspansi penerbangan; desain, branding dan positioning destinasi di pasar yang semakin meluas; dan kelestarian lingkungan dan keberlanjutan perekonomian.

Chief Executive Asosiasi Industri Pariwisata Selandia Baru (TIA) Chris Roberts mengatakan, TIA mendukung PATA Global Insights Conference yang akan menawarkan banyak informasi baru khususnya kepada industri pariwisata di Selandia Baru. Tujuan utama dari kerangka pertumbuhan Pariwisata 2025 adalah mencapai hasil yang lebih baik dengan membuat keputusan yang lebih baik berdasarkan data kualitas dan wawasan informasi.

PATA New Tourism Frontiers Forum 2015

PATA Adventure Travel and Responssible Tourism Conference mulai tahun 2015 di-rebranding menjadi PATA New Tourism Frontiers Forum. Even ini akan diselenggarakan pada 25-27 November 2015 di kota Legazpi, Albay, Filipina.

Even bertema “Ekowisata – Melampaui Perubahan Iklim” selama tiga hari itu diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Albay dalam kemitraan dengan Departemen Pariwisata, Filipina. Provinsi Albay telah mencatat prestasi luar biasa dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim dan manajemen pengurangan risiko bencana.

Forum itu akan mempertemukan para profesional pariwisata untuk berbagi wawasan dan pengalamannya dalam memasarkan dan mengelola pertumbuhan pariwisata di destinasi-destinasi yang kurang dikenal, sehingga memastikan pertumbuhan berkelanjutan dan pengembangan perjalanan dan pariwisata di daerah. Masyarakat lokal akan memperoleh keuntungan secara ekonomi melalui penyebaran wisatawan ke destinasi-destinasi baru seperti ini.

Selain itu, konferensi juga bertujuan untuk mengeksplorasi peluang pariwisata baru berdasarkan ekosistem suara dan adaptasi terhadap perubahan iklim yang mana Provinsi Albay menjadi panutan di dunia. Para pembicara akan membicarakan mengenai ekowisata dan wisata petualangan, pemasaran destinasi baru, dan bagaimana menghubungkan hub-hub petualangan.

Gubernur Provinsi Albay Joey Salceda Sarte mengatakan, “Untuk memasarkan pariwisata, Provinsi Albay bermitra dengan Dinas Pariwisata meratifikasi kesepakatan-kesepakatan pada pertemuan-pertemuan sebelumnya seperti UNWTO untuk mendatangkan devisa lebih banyak. Pertimbangan kami terhadap PATA pun sama. Kami senang dapat menyajikan ekowisata kami di pusat strategi pembangunan berkelanjutan. Fitur ikonik di sini, Mayon Volcano, baru-baru ini terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.”

Konferensi sehari, tur teknis, dan Pemasaran Pariwisata Treasure Hunt pertama, menjadi sorotan utama dalam PATA New Tourism Frontiers Forum 2015. Para profesional pariwisata akan memperoleh pengalaman praktis dari tangan pertama untuk menemukan dan mengenal sebuah destinasi dalam rangka memasarkannya sebagai atraksi kelas dunia serta produk dan jasa pariwisatanya yang relatif tidak dikenal oleh pelaku industri maupun konsumen perjalanan dan pariwisata global. *** (Yun Damayanti, dari berbagai sumber)