I Gde Pitana.

I Gde Pitana.

Pelaku bisnis di daerah baik mengikutinya. Selama ini Malaysia digarap sebagai pasar umum. Belum pernah diberi perhatian khusus menurut segmen konsumen. Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara  Kemenpar I Gde Pitana beserta jajarannya mengadakan media gathering pada 17/3-2016 di kantornya. Dari situ diceritakan antara lain bagaimana pasar wisman di ASEAN umumnya, khususnya di Malaysia kini dihadapi. Asdep Pengembangan Pasar ASEAN, Rizki Handayani memberikan penjelasan.

Saat ini promosi  Kementerian Pariwisata disebut  sedang ‘menggempur’ pasar Malaysia besar besaran namun dengan sasaran segmen dan destinasi yang jelas.  Promosi dilakukan hingga ke daerah-daerah dan Negara bagian di dalam negeri Malaysia, ke Tawau,  Penang, Selangor semua negara bagian, hingga ke Kuching di pulau Kalimantan.

Rizki Handayani

Rizki Handayani

Setiap mengirimkan sales mission dilakukan  kerja sama dengan ASITA di daerah-daerah, Bali, NTB, Jabar, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara. Rizki Handayani menjelaskan, pada prakteknya  ASITA yang membawa seller,  yang akan dipertemukan dengan anggota MATTA dan BUMITRA di Malaysia. Mereka dalam menjual,  memasangkan destinasi per destinasi dengan segmen pasarnya.

Warga Malaysia  yang melakukan perjalanan banyak keturunan Chinese Malaysia  yang untuk destinasi Bali, Bandung, Jakarta.  Mereka cenderung kuat tertarik pada destinasi yang sejarahnya mirip dengan Malaysia yakni penjajahan Inggris. Untuk itu Palembang, Bangka, Pontianak, Klenteng Sam Poo Kong, Bangka, Belitung menjadi destinasi yang tepat ditawarkan  untuk mereka.  Itu masuk dalam  strategi  per etnik.

Ada pandangan Batam Bintan disamakan dengan Hatyai dan Pukhet di Thailand.  Masyarakat Malaysia selama ini terpengaruh pandangan seakan Batam Bintan itu destinasi untuk orang Singapura,  dan, berkesan mahal. Memang  wisata di Bintan relative mahal,  tapi hanya di satu kawasan yang bernama Lagoi. Di luar itu harga-harga relatif terjangkau, seperti di Tanjung Pinang, di kawasan pantai  Trikora, ada kawasan Patung Seribu Budha di Bukit Tanjung Pinang.

Tentang Batam rupanya citra pada mereka kurang bagus. Karenanya saat ini sedang dilakukan upaya membangun citra baru.

Medan sebenarnya bisa dijadikan destinasi belanja dan kuliner bagi orang Malaysia. Ada penerbangan dari Batam, Penang, Kuala Lumpur ke Kualanamu, Medan, dan itu sesungguhnya tepat dimanfaatkan  khususnya bagi segmen Chinese Malaysia.

Adapun etnis Melayu Malaysia cocok untuk dibawa ke Medan, Aceh, Bandung, dan Jakarta.

Segmen berdasarkan usia, misalnya untuk kalangan muda,  banyak yang suka adventure. Mereka akan ditarik ke Jawa Tengah, Yogyakarta,  Jawa Timur  dan NTT . Implikasinya tentulah bahan-bahan promosi akan menonjolkan citra perjalanan dan daya tarik adventure.

Para golfers Malaysia masuk ke Indonesia biasanya melalui bandara Soetta di Jakarta dan mereka bermain di golfcourse Jakarta, Bandung atau kawasan Jabotabek. Batam Bintan itu seksi buat pegolf dan mereka pun akan didorong  ke  Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Selain memasang-masangkan segmen dengan destinasi, promosi untuk “pasar antara” juga gencar dilakukan. Di Malaysia  bersamaan dengan sasaran utama menarik wisman Malaysia sendiri, juga bisa diterapkan menarik wisman yag berasal dari pasar di luar Malaysia.

Di Langkawi dan Penang  banyak  long stay tourist dari Eropa, – bisa tinggal  3 bulan sampai  6 bulan. Mereka bissa ditarik  untuk berwisata ke Sumatera Utara. Selain itu di Penang banyak sekali wisman asal Jepang. Di Langakwi, ternyata para yachter di sana itu datangnya dari Australia, bukan dari Malaysia sendiri.

Di Malaysia tepatnya di Bukit Bintan banyak tamu dari Timur Tengah. Promosi di Bukit Bintan juga menyasar tamu dari Timur Tengah. Lagi-lagi,  bukan hanya warga Malaysia saja. ***(Ekasanti)