Dengan lebih dari 17 ribu pulau,Indonesia surga pariwisata pelayaran (cruise tourism).Ini kapal pesiar Star Clippers di perairan Bangka Belitung.(Foto:Sansan)

Jakarta, (ITN-IndonesiaTouristNews)): Indonesia mestinya surga pariwisata pelayaran. Potensi yang sangat besar itu belum dimanfaatkan dan menghadapi beragam tantangan. Salah satunya karena pembangunan di wilayah pesisir lebih lambat daripada pembangunan di wilayah lain di daratan.

Dalam rangka mengakomodasi para pecinta kehidupan maritim bisa berlayar lebih jauh menjelajahi Nusantara, Pemerintah telah melakukan beberapa deregulasi yang mempermudah kapal-kapal pesiar internasional dan kapal-kapal wisata beserta krunya dari mancanegara masuk ke Indonesia. Namun, bukan hanya kekurangan infrastruktur dan fasilitas di pelabuhan destinasi, rambu-rambu lalu lintas pelayaran menuju dan di titik-titik atraksi masih minim atau belum ada.

Teknologi navigasi pelayaran sudah semakin canggih dengan kehadiran satelit dan jaringan internet. Tetapi untuk berlayar di Indonesia, peta manual dan kearifan pengetahuan lokal-lebih khusus lagi terkait cuaca- merupakan alat konfirmasi final atas informasi dari data yang disajikan tekonologi. Pengetahuan lokal barangkali tidak terkesan ilmiah namun sampai sekarang, itulah yang bisa membantu memutakhirkan informasi fenomena alam yang tidak bisa diprediksi. Di sini, perubahan bentang alam, terumbu karang, seabelt dan lain-lain terbilang cepat. Sedangkan pembaharuan informasi, monitoring dan panduan yang disediakan lambat dilakukan.

“Kita masih sangat memerlukan peta anchorage, marking, peta pelayaran, alur masuk-keluar yang terus diperbaharui. Karena referensi data dan informasi peta maritim Indonesia banyak yang masih berasal dari zaman Belanda. Pembaharuan informasi dan datanya terlambat jadi di chart tidak terdeteksi. Sedangkan kondisi alam misal di Raja Ampat, di Papua, bentang alam sudah banyak berubah, banyak muncul (pop up) pulau-pulau karang atau atol baru dan itu sebelumnya tidak tampak di peta,” ujar Oswald Huma dari Signature Papua.

Laguna Bintang di kawasan Piaynemo,Raja Ampat,Papua Barat.Selain infrastruktur, tantangan lain dala mengembangkan dan membangun pariwisata maritim di Indonesia adalah perubahan bentang alam di perairan belum diimbangi dengan kecepatan pemutakhiran informasi dan data untuk kepentingan pelayaran dan pariwisata.(Foto:YD)

Selain itu, sosialisasi area-area dan ukuran kapal yang bisa memasukinya dan titik-titik buoy perlu dilakukan secara berkesinambungan kepada para pemangku kepentingan terkait, termasuk para operator kapal wisata dan agen-agen kapal (shipping agent).

Sosialisasi ini menjadi penting agar insiden-insiden kecelakaan kapal-kapal wisata di laut yang kandas di kawasan terumbu karang bisa diturunkan, atau meminimalisasi terjadinya insiden dan kerusakan wilayah. Perlu dipahami oleh otoritas berwenang di Indonesia, operator-operator kapal pesiar internasional melakukan riset tiga sampai dua tahun sebelum merilis paket-paket pelayaran. Termasuk yang diriset adalah alur pelayaran.

Pariwisata pelayaran

Oswald berbagi pengalamannya begini, “Sejak 1987 saya berkecimpung di pelayaran ekspedisi, khususnya di wilayah Indonesia timur. Kapal datang, penumpang turun, lalu pergi ke kampung-kampung. Di sana tamu-tamu melakukan kontak people-to-people. Masyarakat di kampung pun diperkenalkan dan diajarkan hal-hal baru yang akhirnya bisa mengangkat kehidupan mereka, secara ekonomi dan sosial. Itu semua saya lakukan, saya alami dan lihat sendiri. Kehadiran pariwisata pelayaran yang membawa tamu-tamu telah membuka daerah-daerah di banyak pulau yang sebelumnya terisolir.”

Bagaimana agar pariwisata pelayaran yang diasumsikan sebagai gaya perjalanan mewah memberikan win-win benefit,

“Kita mesti memahami yang diinginkan oleh kapal-kapal pesiar dan segmen konsumennya. Mereka mau culture, marine life, dan alam yang natural. Travel pattern-nya, siang hari beraktivitas, malam hari istirahat di atas kapal. Aktivitas bisa di laut menyelam, snorkeling, dan lain-lain, atau shore excursion, datang ke kampung-kampung di pulau-pulau,” dijelaskannya lebih lanjut.

Untuk mengembangkan pariwisata pelayaran, selain menyediakan infrastruktur dan fasilitas pelayaran dan pelabuhan yang baik, juga mempersiapkan sumber daya manusia dengan mengacu pada standar pelayanan pariwisata. Misal untuk pemandu, dia juga dibekali pengetahuan wildlife, budaya, geologi dan lain-lain; pemandu selam diberikan keterampilan penyelamatan dan pengetahuan marine life, dan lain-lain.

Keuntungan dari pariwisata pelayaran tidak terbatas pada retribusi masuk kapal, tiket masuk atau donasi di obyek wisata, dan penjualan suvenir. Di lima pelabuhan kapal pesiar yang telah ditetapkan menjadi turn round port di Indonesia, tampaknya baru Bali yang merasakan ada pembelanjaan logistik kapal dan pertukaran penumpang turun dan naik di Benoa.

Sedangkan di segmen perahu wisata (yacht), manfaat yang bisa diambil lebih banyak. Mereka akan belanja kebutuhan logistik, bahan bakar, air tawar bersih, mengisi ulang tenaga listrik, sampai ke bengkel perbaikan dan perawatan. Itu belum termasuk biaya parkir perahu di marina, akomodasi dan transportasi di darat, serta hiburan dan wisata. Di segmen ini, sumber daya manusia yang dibutuhkan tidak hanya di level standar pariwisata yang bekerja di kawasan marina dan sekitarnya, bahkan sampai ke masyarakat dengan keterampilan perbengkelan, penjual onderdil dan kelontong.

Negeri ini tidak hanya terdiri dari pulau-pulau besar dan kecil, taman-taman laut nan indah, tanah yang subur di daratan, masyarakat lokal yang ramah dan kebudayaan otentik, tetapi juga merupakan salah satu gudang ilmu dan teknologi pelayaran dan kehidupan maritim dunia. Nusantara adalah misteri yang menggelitik setiap eksplorer untuk menjelajahinya lebih dalam sampai sekarang.

Realitasnya, Indonesia menghadapi kompetisi ketat dan keras dengan Filipina dan Palau di segmen industri pariwisata pelayaran. Bentang dan karakteristik alam yang banyak kemiripan dengan Indonesia, mereka terus memperbaiki dan meningkatkan pelayanan kepada kapal-kapal dalam membangun pariwisata maritimnya.***(Yun Damayanti)