Event Tour de Ijen, Banyuwangi. Sudah berhasilkah mendatangkan wisman selain wisnus? (Foto:Ist)

Event Tour de Ijen, Banyuwangi. Sudah berhasilkah mendatangkan pengunjung wisman selain wisnus? (Foto:Ist)

“Tahun 2017 kita akan menampilkan 22 even pariwisata. Event unggulan ini tersebar di 10 kabupaten dan kota NTB,” kata kepala dinas pariwisata provinsi NTB, Mohammad Faozal.   Calendar of Event (CoE) pariwisata Nusa Tenggara Barat untuk tahun 2017 diumumkan di Kementerian Pariwisata, Jakarta, pada 15-12-2016 oleh Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata (DBP3N Kemenpar) Esthy Reko Astuty bersama Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB Lalu Mohammad Faozal.

Penyusunan CoE yang telah diumumkan oleh provinsi NTB ini bisa dipetik sebagai contoh.

Sebagai dimaklumi, tak sedikit event-event yang selama ini digelar di daerah destinasi, tujuannya dinyatakan hendak mendatangkan wisatawan, namun pada kenyataannya wisatawan, apalagi wisman, tak tampak datang mengunjungi atau menyaksikan.

Di antara rencana event di tahun 2017 yang diumumkan itu untuk NTB, tercantum antara lain 13 event ini, yang dapat dianggap sebagai event utamanya, yaitu ;

  1. Lombok Sumbawa Great Sale, 1 Januari-30 Januari
  2. Pesta Rakyat Bau Nyale, Februari, tidak disebutkan jadwal tanggalnya
  3. Festival Pesona Lawata, tidak disebutkan jadwal tanggalnya
  4. Festival Pesona, Tambora 11-19 April
  5. Lombok Sumbawa Pearl Festival, 10-12 Juni
  6. Bulan Pesona Lombok Sumbawa, 18 Agustus-16 September
  7. Festival Pesona Mentaram, 21-23 Agustus
  8. Festival Pesona Senggigi, 16 September-19 September
  9. Mandalika Tour D` Lombok, 22-23 September
  10. Festival Pesona Lakey, belum ada jadwal tanggalnya
  11. Festival Pesona Gili Indah, 5-6 November
  12. International Halal Travel Fair, belum ada jadwal tanggalnya
  13. Rinjani Golf Tournament, 10 Desember.

Provinsi NTB menargetkan jumlah keseluruhan wisatawan 4 juta mengunjungi NTB tahun 2017, yaitu sekitar 2,5 juta wisnus dan 1,5 juta wisman.

Ihwal penyelenggaraan event, menurut catatan kita, memang telah menjadi salah satu metode dalam upaya mendatangkan wisatawan. Tetapi kenyataannya event pun secara objektif perlu menentukan siapa wisatawan yang akan bisa ditariknya. Ada event yang berskala lokal, ini tentu daya tariknya terbatas bagi wisatawan warga lokal. Ada yang berskala antardaerah, bisa menarik wisatawan dari daerah lain atau kota lain di dalam provinsi. Ada yang bisa berskala nasional, artinya daya tarik peristiwanya berpotensi menarik wisatawan antarprovinsi atau skala nasional. Nah, yang berpotensi bisa menarik wisatawan dari luar negeri alias wisman, ini tentu merupakan event di mana kalau wisman datang menyaksikannya, berkemungkinan selain menyaksikan, juga bisa terlibat, atau menikmati leisure yang diciptakan oleh suasana event.

Calendar of Event (CoE) dari setiap daerah akan dijadikan salah satu materi utama yang akan dipasarkan melalui digitalisasi pemasaran pariwisata Indonesia mulai tahun 2017 ini. Maka daerah-daerah telah diminta oleh Kemenpar untuk memberikan CoE.

Pastilah daftar event tersebut perlu mencantumkan informasi-informasi yang definitif, termasuk jadwal pelaksanaan, mata acara kegiatan, informasi apa yang akan dinikmati atau pengalaman apa bagi wisatawan, dan seterusnya.

Bahkan lebih baik lagi kalau mengakui sedari awal, apakah event tersebut sesuai untuk dikunjungi atau diikuti oleh wisatawan lokal, ataukah wisatawan nasional/nusantara, atau wisatawan mancanegara. Masing-masing tentu memerlukan pengaturan tersendiri. Untuk wisman, misalnya, pastilah mereka akan memerlukan pembelian angkutan udara atau darat untuk datang dan pulang, akomodasi penginapan yang menyenangkan, transportasi lokal, dan program tur lokal yang juga “cocok” untuk wisman. Di situ pihak agen-agen yang menangani wisatawan atau operato tur, mestinya mengambil peranan dan “diajak” memanfaatkan “peluang bisnis” tersebut.

Yang tak kalah pentingnya, event pada dasarnya bermanfaat tak terbatas pada hasil berupa jumlah wisatawan yang berkunjung pada hari pelaksanaan event. Sebelum dan setelah event usai, destinasi dan produk wisata dari tempat lokasi event, akan masih mendapatkan “promosi” yang berkesinambungan. Promosi itu akan terjadi berupa cerita atau informasi dari mulut ke mulut, atau melalui kabar dan cerita yang dimuat di media, baik media mainstream, dan, media sosial.***