Tarian tradisional di Aceh. SDB destinasi ini pun belum dioptimalkan, misalnya, untuk pasar wisman di Malaysia Singapura. (Foto: Ist.)

Tarian tradisional di Aceh. SDB destinasi ini pun belum dioptimalkan, misalnya, untuk pasar wisman di Malaysia Singapura. (Foto: Ist.)

Bagaimana kemungkinan pariwisata kita selanjutnya? Dalam memasuki berlakunya AFTA dan MEA termasuk ASEAN Opensky, akan sangat penting peran dan kemampuan para pelaku bisnis. Juga kemampuan atau profesionalitas praktisi. Itulah satu yang terlihat sekarang.
Semester pertama 2014, data mengindikasikan, target kunjungan wisman tahun 2014 sebesar 9,3 juta hingga 9,5 juta optimistis akan terlampaui. “
Memang, dari pengamatan, kalau ekonomi nasional melambat, pengaruhnya tentu pada melambatnya wisnus. Ekonomi yang melambat di negara pasar wisman, akan berpengaruh pada naik turunnya jumlah kunjungan wisman. Indonesia telah berupaya melepaskan diri dari dampak- dampaknya.
Di sisi lain tampak citra indonesia di pasar wisman relatif semakin baik. Strategi dan taktik promosi rasanya semakin mengenai sasaran. Aksesibilitas udara dalam arti peran penerbangan udara internasional tambah mendukung. Peran ini diharapkan kian meningkat.
Di dalam negeri sendiri, telah diberitakan juga bahwa untuk pertama kali dalam sepuluh tahun terakhir jumlah penumpang dalam negeri tahun 2013 nyaris turun atau stagnan dibanding tahun sebelumnya.
Ekonomi yang melambat di Eropa dan AS berpengaruh pada jumlah kunjungan wisman mereka ke luar negeri, ada yang mengurangi jumlah hari berwisata internasional, ada yang mengurangi jarak jauhnya bepergian atau mengurangi jumlah destinasi yang dikunjungi. Namun bagi Indonesia masalahnya hanya belum bisa optimal karena direct flight masih terbatas sekali.
Tantangan yang baru ialah jika ekonomi melambat di Tiongkok, padahal negeri itu merupakan pasar paling lucrative di dunia. Indonesia tengah berupaya mengantisipasinya dan mengoptimalkan hasil dari pasar wisman tersebut.
Ada maskapai penerbangan nasional yang telah berinisiatif membuka rute ke kota- kota kecil di Tiongkok, kendati dengan operasi charter namun berjadwal, scheduled charter flight. Itu boleh jadi berkaitan dengan keterbatasan time slot di bandara, atau untuk mengkondisikan pasar sebelum bisa masuk ke regular scheduled flight.
Indonesia tampak sudah berupaya mengembangkan dari sudut destinasi antara lain kualitas industri dan SDM melalui, namun masih relatif terbatas, maka ini perlu ditingkatkan. Dari sudut pemasaran antara lain diciptakan even even di destinasi dan konsisten, untuk membangun citra destinasi sekaligus menarik wisman berkunjung. Kemenparekraf memberi dukungan jika ada inisiatif dari daerah daerah.
Yang terasa diperlukan, tentulah infrastruktur di destinasi, jalanjalan ke obyek daya tarik wisata, telekomunikasi, dan, pengolahan atau pengemasan produk produk wisata yang layak jual atau siap jual. Salah satu contohnya, diberitakan, Indonesia dalam hal akses internet nomor tiga “paling lambat di kawasan ini”.
Indonesia belum maksimal dalam “mengolah” sumber sumber atau potensi SDA maupun Sumber Daya Budaya di destinasi kita. Maka hendak mengoptimalkan kawasan beyond Bali. Ke arah mengoptimalkan dan memaksimalkan pengolahan itulah Indonesia sedang menuju, dan kembali, peran industri pariwisata amat menentukan.
Unggulan ke pasar ASEAN untuk destinasi memang Bali, Bandung, Batam Bintan, Sumut, maka itu rupanya hendak diarahkan ke destinasi lain khususnya di mana direct flight kian bertambah. Termasuk ke kawasan timur Indonesia, mulai dari Sulawesi dan seterusnya.***