Memasarkan bandara

Memasarkan bandara

Makassar agaknya perlu menerapkan sesuatu yang belum lazim. Tapi akan produktif dan    mendorong akselerasi, dengan strategi jemput bola, agar kunjungan wisman sungguh mengalir memanfaatkan bandara baru Sultan Hasanuddin. Yaitu bila Pemda, PT Angakasa Pura I yang mengelola bandara tersebut, dengan semacam Satuan Tugas Pemasaran, mengadakan gerakan proaktif bersama memasarkan fasilitas bandara Sultan Hasanuddin ke maskapai  penerbangan di sekitar negara tetangga. Tinggal dukungan aktif diperlukan dari Depbudpar, unsur industri, mulai dari masakapai penerbangan nasional, perhotelan, operator wisata dst.

Memasarkan secara proaktif berarti melakukan pendekatan pada maskapai penerbangan nasional negara tetangga, termasuk terutama LCC –Low Cost Carrier-. Karakter LCC cenderung menerbangi jarak pendek-menengah antara satu sampai tiga setengah jam terbang, operasi direct poin to point. Harga jual tiket relatif murah. Maka terbayanglah misal rute penerbangan: Singapura-Makassar, Kuala Lumpur-Makassar, Bangkok-Makassar, Manila-Makassar, Johor Bahru-Makassar, dst. Atau, dari Australia ke Bali, lalu Bali-Makassar.

Maskapai penerbangan Pacific Blue, yang akan beroperasi point-to-point dari tiga kota Australia ke Bali, 11 kali seminggu mulai 1 Desember ini. Perth-Denpasar dijualnya A$ 199 one way, dan dari Adelaide atau Brisbane ke Bali dijualnya A$ 299 one way.

Maskapai penerbangan nasional maupun asing, ketika memutuskan membuka operasi ke Indonesia dan luar negeri, salah satu kepentingan bisnisnya adalah mengambil pasar penumpang TKI – Tenaga Kerja Indonesia -. Atau dengan kata lain, karena ketersediaan pasar TKI. Jadi, memang merupakan outbound travel. Tetapi disitu pula terletak challenges, sejauh mana pendekatan pemasaran inbound travel bisa digalang oleh pihak Indonesia.

Depbudpar mencatat, Januari – Juli 2008 international arrivals di Makassar itu berjumlah 1088, malahan lebih rendah 54% dibanding periode sama tahun lalu. Kapasitas bandara yanag baru, sekarang berkemampuan menampung 1,5 juta penumpang per tahun, termasuk domestik dan internasional. Belum jelas apakah jumlah itu merupakan pergerakan penumpang, ataukah jumlah riel penumpang.

Namun bisa dibuat basic exercise. Bilamana 10% saja kapasitas bisa dialokasikan melayani wisman, berarti sekitar 150 ribu penumpang per tahun, atau rata-rata per hari sekitar 420 penumpang. Berdasarkan type pesawat LCC lazimnya berkapasitas rata-rata 100-an penumpang, maka konsekuensinya  sekitar lima sampai tujuh ketibaan pesawat diperlukan per hari.

Barulah Indonesia AirAsia dan AirAsia kini yang ‘berani’ menerbangi setiap hari rute Makassar-Kuala Lumpur. Bagaimana dengan maskapai penerbangan nasional kita yang lain?

Dari sudut operasional bandara, Angkasa Pura I saat ini agaknya belumlah terlalu sibuk melayani rata-rata sekitar 169 pergerakan pesawat setiap hari. Malahan kendati berstatus international airport, menurut pengumuman di website-nya, bandara dioperasikan 16 jam sehari, jadi belum full international dalam arti 24 jam operasi.

Tapi, itulah jalan yang tampak guna membangkitkan pariwisata Sulsel secepatnya. Jadi, memasarkan pengunaan bandara Sultan Hasanuddin ke maskapai di dalam dan luar negeri, mensyaratkan suatu strategi komperehensive agar termasuk feasability pemasaran untuk menjamin jumlah penumpang bagi pertimbangan komersial maskapai penerbangan. Baik potensi jumlah penumpang TKI dari Indonesia, maupun jumlah penumpang wisman dari luar negeri. Dalam kaitan itu tampak keterkaitan dan keterlibatan serta kontribusi riset dari unsur industri, sampai ke prospek kegiatan penjualan yang akan dilakukan, baik oleh agen pengerah tenaga kerja maupun operator tour dan perhotelan.

Kalau tidak? Rasanya memang kita mesti sabar menunggu entah sampai kapan agar jumlah wisman yang mendarat di bandara Sultan Hasanuddin mencapai sedikitnya 100 ribu per tahun. Yang namanya international passengers mendarat langsung di bandara Makassar, tertinggi pernah dicatatnya hanyalah 10.389 di tahun 1997. Di masa lalu, wisman yang datang berkunjung ke Makassar dengan objek utama menuju ke Tana Toraja, biasanya dari Bali. Dan umumnya wisman dari Eropa dan Amerika.

Atau, maskapai penerbangan, perhotelan dan operator tour di Sulsel sudah akan cukup sejahtera dari kegiatan pariwisata domestik, termasuk pertumbuhan MICE khususnya convention yang konon secara kuantitatif bertumbuh tinggi akhir-akhir ini? ===